PRIORITAS, 24/4/2026 (Jakarta): Kamis pagi (23 April 2026) menjelma menjadi pengalaman bersejarah yang tak terlupakan bagi si kembar Theadora Kennisya Naftali dan Theodora Keisya Zefanya. Bersama ratusan siswa SMAN 2 Jakarta, keduanya untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Istana Kepresidenan Jakarta melalui program “Istana untuk Anak Sekolah”.
Momen tersebut bukan sekadar kunjungan edukatif, melainkan juga pengalaman yang membuka wawasan para siswa tentang pusat pemerintahan negara. Antusiasme terpancar dari wajah para peserta yang berkesempatan melihat langsung simbol kekuasaan negara sekaligus memahami lebih dekat bagaimana roda pemerintahan Indonesia dijalankan.
Langkah mereka menyusuri halaman Istana dipenuhi rasa takjub. Bangunan megah dengan nuansa sejarah itu seakan membuka dunia baru yang sebelumnya hanya mereka lihat di layar.
“Tentunya buat pelajar seperti kami, ini sebuah pengalaman yang baru karena sebelumnya kita belum pernah ke Istana. Rasanya amaze banget, tempatnya kinclong dan besar sekali,” ujar Keisya dengan mata berbinar.
Kekaguman itu semakin bertambah saat mereka diajak melihat berbagai ruangan penting—mulai dari ruang kerja Presiden, ruang rapat kabinet, hingga ruang penerimaan tamu negara. Bagi Kennisya, pengalaman ini melampaui ekspektasi.
“Banyak ruangan yang bahkan belum pernah kami lihat di internet. Jadi ini benar-benar pengalaman baru,” tuturnya.
Tak sekadar berkeliling, para siswa juga mendapat pembekalan tentang sistem pemerintahan yang saat ini dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Bagi Keisya, materi tersebut menjadi bekal penting sebagai generasi penerus bangsa.
“Ini membantu kami memahami peran pemerintah dan mempersiapkan diri menuju Indonesia Emas,” katanya.
Namun, bagi keduanya yang memiliki minat di bidang seni, daya tarik Istana justru terletak pada detail artistik yang menghiasi setiap sudut ruangan. Lukisan-lukisan bersejarah yang terpajang di dinding menjadi pengalaman belajar yang hidup.
“Kita bisa melihat langsung karya seni yang selama ini hanya dipelajari di kelas,” ujar mereka antusias.
Kunjungan ini juga menumbuhkan mimpi baru. Keisya mengaku terinspirasi untuk suatu hari berkontribusi lebih besar bagi bangsa, bahkan bercita-cita menjadi Menteri Kebudayaan.
Menutup kunjungan, keduanya berharap pengalaman serupa dapat dirasakan lebih banyak pelajar di seluruh Indonesia. Bagi mereka, Istana bukan sekadar simbol kekuasaan, tetapi ruang belajar yang membuka wawasan dan menumbuhkan harapan. (P-*/bwl)