Iran ajukan proposal baru kepada AS, apa isinya?

Johanes Christiaan
Sabtu, 2 Mei 2026
2 menit membaca

PRIORITAS, 2/5/26 (Teheran): Melalui mediasi Pakistan, Iran tawarkan proposal baru kepada Amerika Serikat (AS) untuk bernegosiasi kembali, demikian rilis media pemerintah Iran Islamic Republic News Agency (IRNA) pada Jumat (1/5/26) waktu setempat.


“Republik Islam Iran telah menyerahkan proposal tersebut kepada Pakistan, mediator dalam bernegosiasi dengan Amerika Serikat, pada Kamis malam, ” bunyi pernyataan IRNA.

IRNA tidak merinci isi proposal tersebut. Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menegaskan bahwa menghentikan perang dan membangun perdamaian yang berkelanjutan tetap menjadi prioritas Iran bernegosiasi dengan AS.

Sebagai informasi, Iran dan AS sudah melakukan negosiasi pertama pada 11 April lalu di Islamabad, Pakistan. Selama 21 jam pembicaraan, Iran dan AS tidak mencapai kesepakatan damai.


Pihak Iran menilai AS gagal menekan Iran sepanjang 21 jam perundingan tersebut. “AS harus belajar: Mereka tidak bisa mendikte ketentuannya kepada Iran. Belum terlambat untuk belajar,” kata Javad Zarif, mantan menteri luar negeri Iran dikutip dari _theguardian.com._

Esmaeil Baqaei, dari Kementerian Luar Negeri Iran, mengakui sulit mencapai kesepakatan saat itu. Beberapa isu fundamental seperti Israel harus menghentikan serangan ke Libanon, protokol pelayaran di Selat Hormuz, dan pengelolaan uranium oleh Iran, tidak mencapai titik temu.

Pihak AS tegas menolak permintaan Iran untuk mengembangkan uranium secara domestik. Wakil Presiden AS JD Vance meminta komitmen Iran untuk tidak berupaya memiliki senjata nuklir.

“Kami telah menjelaskan dengan sangat jelas apa saja batasan kami, hal-hal apa yang bersedia kami akomodasi, dan hal-hal apa yang tidak bersedia kami akomodasi,” ujar Vance seperti diberitakan _nytimes.com._

Dalam negosiasi tersebut, Vance memimpin delegasi AS, sedangkan tim Iran dipimpin oleh Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Walaupun negosiasi pertama di Islamabad _deadlock,_ namun tetap sebuah kemajuan yang luar biasa. Itu pertama kalinya Iran dan AS mengadakan perundingan tatap muka tingkat tinggi sejak Revolusi Iran 1979.

Kemajuan tersebut menjadi modal positif bagi proposal berikutnya. (P-Chris R)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan