Soni Pontoh, seorang nelayan di Manado menemukan ikan purba Coelacanth di perairan pulau Bunaken-Siladen. (Facebook/istimewa)seorangPRIORITAS, 4/7/26 (Manado): Penemuan ikan purba Raja Laut (Coelacanth) di perairan Pulau Siladen, Taman Nasional Bunaken, Sulawesi Utara, memicu perhatian komunitas ilmiah internasional. Sejumlah peneliti dari berbagai negara menyatakan kesiapan berkolaborasi dengan tim Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) untuk mengungkap berbagai misteri yang menyelimuti spesies langka yang sebagai “fosil hidup” tersebut.
Kolaborasi riset itu akan melibatkan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Unsrat bersama Laboratorium Terpadu Unsrat. Fokus penelitian tidak hanya menganalisis molekuler, tetapi juga mencari jawaban atas penyebab kematian ikan purba yang mengambang di dekat Pulau Siladen pada Jumat (26/6).
Kepala UPA Laboratorium Terpadu Unsrat, Stenly Wullur, Ph.D., mengatakan sejumlah ilmuwan mancanegara telah menyampaikan minat untuk terlibat dalam penelitian tersebut.
“Beberapa negara ingin mengerjakan penelitian, seperti pemeriksaan molekuler, sekaligus mencari tahu mengapa Coelacanth ini mati mengambang, apakah karena sakit atau penyebab lainnya,” ujarnya, melansir darilaut.id.
Saat ini, spesimen ikan purba Coelacanth berada dalam penanganan Laboratorium Terpadu Unsrat. Sesuai standar penelitian internasional, guna menjaga kondisi jaringan dan untuk kepentingan alasisis ilmiah, pihak laboratoium akan menyimpan ikan tersebut pada suhu minus 80 derajat Celsius.
Langkah tersebut merupakan arahan Dekan FPIK Unsrat, Dr. Ockstan Jurike Kalesaran. Hal itu sebagai bagian dari upaya memastikan kualitas penelitian terhadap salah satu spesies ikan paling langka di dunia.
Selain penelitian, Unsrat juga tengah menuntaskan proses administrasi dan legalitas spesimen. Setelah itu, pihak kampus akan mendaftarkan ikan tersebut ke lembaga konservasi Coelacanth. Selanjutnya melaporkannya kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Balai Taman Nasional Bunaken.
Tidak berhenti pada satu penemuan Coelacanth. Tim peneliti Unsrat juga akan melakukan pelacakan terhadap seluruh catatan penemuan Coelacanth di berbagai wilayah Indonesia.
Selama ini, kemunculan ikan purba tersebut masih bersifat sporadis sehingga menyulitkan pengumpulan data ilmiah. Melalui penelitian terpadu, para peneliti berharap dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh terkait ikan purba itu. Terutama mengenai persebaran, kondisi populasi, hingga faktor-faktor yang memengaruhi keberlangsungan hidup spesies langka tersebut.
Ikan itu pertama kali ditemukan Soni Pontoh, nelayan Pulau Siladen. Ikan itu dalam kondisi mengambang di permukaan laut. Temuan itu kemudian melaporkannya kepada Jimbris Kampong, karyawan sebuah resort di Pulau Siladen. Dari laporan itu Jimris langsung mengenali ikan tersebut sebagai Raja Laut.
Setelah mendokumentasikan dan mengamankan spesimen ia membawa ikan itu ke kampus Unsrat. Hal itu dimaksudkan untuk penanganan ilmiah oleh tim gabungan Balai Taman Nasional Bunaken dan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unsrat.
Penemuan terbaru ini semakin memperkuat posisi perairan Sulawesi Utara sebagai salah satu habitat penting Latimeria menadoensis, spesies Coelacanth yang hanya ditemukan di Indonesia dan memiliki nilai ilmiah sangat tinggi bagi dunia. (P-*r/sm)