GMNI: Jangan terjebak pragmatisme, ideologi Marhaenisme harus tetap dijaga

Johanes Christiaan
Senin, 23 Maret 2026
2 menit membaca

PRIORITAS, 23/3/2026 (Jakarta): Hari lahir Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) diperingati setiap 23 Maret. Organisasi mahasiswa berhaluan nasionalis ini berdiri pada 23 Maret 1954 di Surabaya, sekaligus menandai pelaksanaan Kongres I GMNI.

Peringatan Dies Natalis ke-72 Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) tahun ini, menjadi momentum penting untuk melakukan refleksi sekaligus meneguhkan kembali komitmen terhadap ideologi Marhaenisme di tengah dinamika dan tantangan zaman yang kian kompleks.

Dalam momentum tersebut, GMNI menekankan pentingnya menjaga relevansi nilai-nilai Marhaenisme sebagai landasan perjuangan, terutama dalam menghadapi isu ketimpangan sosial, kemandirian ekonomi, serta keberpihakan kepada rakyat kecil.

Refleksi ini juga menjadi pengingat bagi kader GMNI untuk terus berperan aktif sebagai agen perubahan yang berpegang pada nilai-nilai ideologis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Harus jalankan Marhaenisme ajaran Bung Karno

Ketua DPC GMNI Jakarta Timur, Jansen Henry Kurniawan, menegaskan bahwa GMNI harus tetap berada di garis perjuangan yang berpihak kepada rakyat kecil, sebagaimana ajaran Marhaenisme yang digagas Soekarno.

Ia menilai, di tengah arus globalisasi dan kapitalisme, generasi muda—khususnya mahasiswa—dihadapkan pada dilema antara idealisme dan pragmatisme. Kondisi ini menjadi tantangan bagi kader GMNI untuk tetap konsisten menjaga arah perjuangan.

Sejak berdiri pada 23 Maret 1954, GMNI dikenal sebagai organisasi mahasiswa nasionalis yang memperjuangkan anti-imperialisme, anti-kolonialisme, dan keadilan sosial. Meski sempat mengalami tekanan pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965 pada era pemerintahan Soeharto, GMNI tetap bertahan hingga era Reformasi.

Dalam momentum Dies Natalis ini, GMNI menegaskan sikap untuk memperkuat Marhaenisme sebagai landasan berpikir, mengawal demokrasi, serta membangun kader progresif dan adaptif terhadap perkembangan zaman. “GMNI harus tetap tajam dalam analisis, kuat dalam perjuangan, dan konsisten berpihak kepada rakyat,” tegas Jansen.

Peringatan ini sekaligus menjadi ajang konsolidasi ideologi dan gerakan agar GMNI tetap relevan dalam menjawab tantangan sosial, ekonomi, dan demokrasi di Indonesia.

Tiga organisasi menjadi satu kekuatan

GMNI lahir dari peleburan tiga organisasi mahasiswa, yakni Gerakan Mahasiswa Merdeka, Gerakan Mahasiswa Marhaen, dan Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia. Gagasan penyatuan tersebut diinisiasi oleh S. M. Hadiprabowo pada 1953, dengan tujuan menyatukan kekuatan mahasiswa nasionalis.

Berdiri atas izin Presiden Soekarno, kongres pertama GMNI menetapkan S.M. Hadiprabowo sebagai ketua umum pertama.

GMNI berasaskan Marhaenisme ajaran Bung Karno yang mencakup sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, dan ketuhanan yang berkebudayaan. Nilai tersebut tercermin dalam lambang organisasi berbentuk perisai segi enam yang juga memuat makna tridharma perguruan tinggi.

Hingga kini, GMNI terus eksis sebagai organisasi mahasiswa ekstrakampus yang berperan dalam perjuangan intelektual dan sosial, serta aktif merayakan dies natalis setiap tahunnya, termasuk melalui kampanye digital seperti twibbon di media sosial. (P-*/bwl)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025