PRIORITAS, 1/1/2026 (Batam): Malam pergantian tahun di Batam terasa berbeda. Tanpa dentuman kembang api dari langit kota sendiri, warga memilih cara yang lebih tenang untuk menyambut tahun baru 2026: menatap cahaya dari negeri seberang.
Rabu malam (31/12/2025), pesisir Tanjung Pinggir Lama di Kecamatan Sekupang perlahan dipenuhi warga. Mereka datang bersama keluarga, pasangan, hingga sahabat, membawa tikar sederhana dan bekal seadanya. Tujuannya satu—menyaksikan pesta kembang api Singapura yang tampak jelas dari seberang laut.
Keputusan Pemerintah Kota Batam meniadakan pesta kembang api tahun ini sebagai bentuk empati terhadap korban bencana di Sumatra tidak menyurutkan antusiasme warga. Dari bibir pantai yang berjarak sekitar 12 kilometer dari Singapura, gemerlap cahaya tetap bisa dinikmati tanpa harus melanggar aturan atau kehilangan makna kebersamaan.
Saat jarum jam mendekati tengah malam, langit di atas Singapura perlahan berubah warna. Ledakan cahaya berkilau memantul di permukaan laut, menciptakan pemandangan yang memukau. Siluet gedung pencakar langit Marina Bay terlihat jelas, seolah menjadi latar panggung pertunjukan kembang api kelas dunia.
“Di sini tetap terasa suasana tahun baru. Kembang api Singapura dari kejauhan sudah sangat indah,” ujar Rofi, warga Batam yang malam itu datang bersama keluarganya.
Tanjung Pinggir Lama memang bukan kawasan wisata dengan fasilitas lengkap. Jalan menuju lokasi masih terbatas, penerangan minim, dan tidak ada hiburan modern. Namun justru kesederhanaan itulah yang menjadi daya tarik. Angin laut berhembus pelan, suara ombak menemani, dan langit malam menjadi pusat perhatian.
“Tempatnya sederhana, tapi pemandangannya luar biasa. Rasanya seperti menonton pertunjukan kembang api dari halaman sendiri,” kata Yona Agnesia, warga Sekupang.
Di balik pesona malam tahun baru, kawasan ini juga menyimpan cerita tentang masa depan. Tanjung Pinggir Lama masuk dalam rencana pengembangan pelabuhan peti kemas kedua Batam setelah Batu Ampar. Suatu saat, wajah kawasan ini diperkirakan akan berubah drastis.
Namun pada malam pergantian tahun itu, Tanjung Pinggir Lama menjadi ruang jeda—tempat warga Batam menikmati momen pergantian waktu dengan cara sederhana, penuh empati, dan tanpa batas negara. Gemerlap cahaya dari seberang cukup menjadi pengingat bahwa merayakan tahun baru tak selalu harus dengan pesta besar, tetapi bisa dengan kebersamaan dan rasa syukur. (P-Jeff K)