China eksekusi mati 11 anggota keluarga sindikat penipuan ‘online’ di Myanmar

Herling Tumbel
Selasa, 3 Februari 2026
3 menit membaca

PRIORITAS, 3/2/26 (Zhejiang, China): Pemerintah China mengeksekusi mati 11 anggota keluarga Ming yang dikenal sebagai mafia di perbatsan Myanmar-China.

Ke-11 warga negara China satu keluarga itu selama ini dikenal sebagai keluarga mafia Ming yang merupakan sindikat kriminal penipuan online di ‘scam center’ di kota Laukkaing, Myanmar.

Dikabarkan, vonis hukuman mati tersebut sebenarnya sudah dijatuhkan pengadilan di provinsi Zhejiang, China, pada September 2025 lalu. Namun, eksekusinya baru dikonfirmasi belakangan ini oleh media pemerintah setempat.

Dari pembunuhan hingga judi ilegal

Disebutkan, keluarga Ming dinyatakan bersalah atas sederet kejahatan berat. Mulai dari pembunuhan, penahanan ilegal, penipuan, hingga mengoperasikan sarang perjudian ilegal.

Hukuman mati itu menjadi pesan keras dari Beijing untuk para pelaku scam yang masih beroperasi di Asia Tenggara. Keluarga Ming bukan pemain baru. Mereka adalah salah satu klan penguasa yang mengubah Laukkaing, sebuah kota terpencil yang miskin, menjadi pusat kasino dan prostitusi.

Kepala keluarga ini, Ming Xuechang, bahkan menjalankan salah satu pusat penipuan paling terkenal bernama “Crouching Tiger Villa”.

Awalnya, bisnis mereka hanya judi dan prostitusi. Namun belakangan, mereka beralih ke penipuan online yang mempekerjakan orang-orang hasil penculikan.

Rauo keuntungan fantastis

Menurut estimasi PBB, ratusan ribu orang telah diperdagangkan untuk menjalankan scam di Myanmar dan Asia Tenggara. Banyak dari mereka adalah warga negara China yang dipaksa menipu korban yang mayoritas juga orang China.

Dilaporkan, triliunan rupiah dari hasil menipu “kerajaan bisnis haram” keluarga Ming runtuh pada 2023. Saat itu, mereka ditangkap dan diserahkan ke China oleh milisi etnis yang mengambil alih Laukkaing dari militer Myanmar.

Data pengadilan tertinggi China menyebutkan, operasi penipuan dan judi keluarga Ming meraup keuntungan fantastis lebih dari 10 miliar yuan atau sekitar Rp22 triliun, antara tahun 2015 hingga 2023.

Kejahatan mereka mengakibatkan kematian 14 warga negara China dan melukai banyak korban lainnya. Di dalam kompleks “Crouching Tiger Villa” yang dijaga ketat, kekerasan adalah makanan sehari-hari. Pemukulan dan penyiksaan menjadi rutinitas bagi para pekerja paksa di sana.

Selain 11 orang yang dieksekusi mati, lebih dari 20 anggota keluarga Ming lainnya dijatuhi hukuman penjara mulai dari lima tahun hingga seumur hidup.

Sementara itu, sang pimpinan Ming Xuechang dilaporkan bunuh diri pada 2023 saat mencoba menghindari penangkapan.

Bukan yang terakhir

Keluarga Ming adalah bos scam Myanmar pertama yang dieksekusi China, tapi sepertinya bukan yang terakhir. Lima anggota keluarga Bai juga telah divonis mati pada November lalu.

Sementara sidang untuk dua kelompok terdakwa lain dari keluarga Wei dan Liu masih berjalan.

Meski China gencar memberantas, bisnis scam ini belum mati sepenuhnya. Operasi penipuan kini dilaporkan bergeser ke perbatasan Myanmar dengan Thailand, serta ke Kamboja dan Laos, wilayah di mana pengaruh penegakan hukum China jauh lebih lemah.

Demikian akhir tragis keluarga mafia scam Myanmar, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari BBC, dan dilansir Beritaprioritas Selasa (3/2/26). (P-*/ht)

Foto Pemerintah China dilaporkan telah mengeksekusi mati 11 anggota keluarga Ming, sindikat kriminal yang selama ini menjalankan pusat penipuan online (scam center) di kota Laukkaing, Myanmar.(Courtesy: BBC via Kompas.com)

 

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025