Tonton Youtube BP

Cahaya untuk negeri: ESDM nyalakan harapan energi hingga pelosok nusantara

Wilson Lumi
29 Oct 2025 09:52
3 minutes reading

PRIORITAS, 29/10/25 (Jakarta): Bagi Bahlil Lahadalia, listrik bukan sekadar cahaya yang menyalakan rumah, melainkan simbol pemerataan keadilan sosial. Dalam setiap kilowatt energi yang mengalir ke desa terpencil, ada cerita tentang perjuangan, harapan, dan masa depan Indonesia.

Di tengah gelaran Malam Penganugerahan Penghargaan Subroto 2025 di Jakarta, Bahlil berbicara dengan nada optimistis. Pemerataan energi, katanya, bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan ikhtiar panjang untuk menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Rote.

“Masih ada ribuan desa yang belum teraliri listrik. Masa sudah 80 tahun merdeka, tapi masih ada anak bangsa belajar dalam gelap?” ujarnya lantang, disambut tepuk tangan peserta malam penghargaan itu.

Kementerian ESDM kini tengah menjalankan serangkaian program prorakyat—mulai dari pemanfaatan sumur minyak rakyat, listrik desa (lisdes), bantuan pasang baru listrik (BPBL), hingga pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di setiap kelurahan.
Langkah-langkah ini menjadi bukti bahwa energi bukan hanya milik industri besar, tapi juga hak setiap warga untuk hidup lebih layak.

Bahlil tak lupa memberi apresiasi kepada para pelaku usaha yang turut mendukung program ini.
“Semua ini tidak bisa kita capai tanpa kontribusi pengusaha dan masyarakat. Ini kerja bersama, kerja gotong royong,” tuturnya.

Salah satu capaian penting tahun ini adalah lifting minyak bumi nasional yang menembus 605 ribu barel per hari, sesuai target APBN. Namun di balik angka itu, pemerintah juga menaruh perhatian besar pada sumur-sumur minyak rakyat—sekitar 45 ribu titik yang kini sedang ditata ulang agar lebih ramah lingkungan dan menguntungkan warga lokal.

“Mereka boleh mengelola, tapi harus taat keselamatan dan menjaga lingkungan,” tegas Bahlil.

Selain minyak, listrik juga menjadi prioritas utama. PT PLN (Persero) ditugaskan mempercepat penerangan di 5.700 desa dan 4.400 dusun yang masih gelap gulita. Melalui program lisdes dan BPBL, pemerintah berharap setiap rumah tangga Indonesia tersambung ke jaringan listrik nasional.

Bahlil bahkan menggambarkan betapa satu bola lampu bisa mengubah masa depan sebuah desa. “Siapa tahu anak-anak dari desa yang baru dapat listrik ini kelak jadi Presiden Republik Indonesia,” katanya sambil tersenyum.

Tak hanya pemerataan, keberlanjutan juga menjadi pijakan. Pemerintah menegaskan pentingnya jaminan reklamasi (jamrek) bagi perusahaan tambang dan komitmen transisi menuju energi bersih. Kementerian ESDM sedang menyiapkan peta jalan PLTS 1,5 MW per kelurahan yang jika terealisasi akan menghasilkan kapasitas nasional hingga 100 gigawatt (GW).

Pada malam yang sama, sebanyak 71 penerima penghargaan Subroto dari 52 kategori dan 18 bidang mendapat apresiasi atas kontribusi mereka di dunia energi dan sumber daya mineral.

Menutup acara, Bahlil memperkenalkan logo baru Kementerian ESDM bertema “Pancar Dipa” — simbol sinar energi yang menembus batas, membawa kehidupan dan semangat baru bagi negeri.

“Energi bukan hanya urusan angka dan mesin. Ini tentang manusia, tentang cahaya yang memberi harapan. Tugas kita memastikan tak ada satu pun rakyat Indonesia yang tertinggal dalam gelap,” pungkasnya. (P-bwl)

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Video Viral

Terdaftar di Dewan Pers

x
x