BRIN bongkar teknologi sel surya baru, target PLTS 100 GW makin dekat

Sem Muhaling
Rabu, 19 Agustus 2026
NASIONAL Riset 0 279
2 menit membaca

PRIORITAS,  19/8/26 (Jakarta): Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat ekosistem penelitian teknologi sel surya. Langkah ini menjadi bagian dari dukungan terhadap target pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW).

Kepala BRIN Arif Satria mengatakan lembaganya terus mengembangkan teknologi sel surya dari sisi hulu. Salah satu teknologi yang menjadi perhatian ialah Dye-Sensitized Solar Cell (DSSC).

Teknologi tersebut menawarkan karakteristik berbeda dibandingkan sel surya berbasis silikon yang selama ini banyak digunakan.

DSSC bisa manfaatkan cahaya rendah

BRIN melihat DSSC memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai teknologi energi masa depan.

Salah satu keunggulannya terletak pada kemampuannya menghasilkan listrik dalam kondisi pencahayaan rendah. Teknologi ini bahkan dapat memanfaatkan cahaya di dalam ruangan.

Karakteristik tersebut membuka peluang penggunaan DSSC pada bangunan modern. Sel surya tidak hanya ditempatkan di atap, tetapi juga dapat diintegrasikan pada bagian tertentu bangunan.

Misalnya, pengaplikasian teknologi tersebut pada kaca jendela. Dengan begitu, elemen bangunan dapat sekaligus berfungsi sebagai sumber energi.

BRIN perkuat fasilitas riset

Untuk mendukung pengembangan teknologi tersebut, BRIN memperkuat fasilitas penelitian dan pengujian sel surya.

Fasilitas riset memungkinkan peneliti mengembangkan berbagai material dan konfigurasi sel surya. Peneliti juga dapat menguji kinerja teknologi sebelum masuk ke tahap penerapan yang lebih luas.

BRIN juga membuka ruang kolaborasi dengan perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan mitra internasional.

Kolaborasi tersebut penting untuk mempercepat penguasaan teknologi sekaligus meningkatkan daya saing hasil riset Indonesia.

Dorong kemandirian energi

Pengembangan teknologi ini memiliki posisi strategis dalam transisi energi Indonesia. Apalagi, pemanfaatan energi matahari dapat mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi fosil.

Teknologi surya juga berpotensi memperluas akses terhadap energi bersih di berbagai wilayah di Indonesia. Karena itu, pengembangan teknologi tidak cukup hanya mengandalkan impor panel surya. Indonesia membutuhkan kemampuan riset dan pengembangan teknologi dari hulu hingga hilir.

BRIN menilai penguatan ekosistem riset dapat menjadi salah satu fondasi untuk membangun industri sel surya nasional.

Menuju PLTS 100 GW

Melansir CNN Indonesia,  target pengembangan PLTS 100 GW membutuhkan dukungan teknologi, sumber daya manusia, industri, serta infrastruktur riset. BRIN mengambil peran melalui pengembangan dan penguatan jejaring penelitian.

Pengembangan DSSC menjadi salah satu alternatif untuk memperluas pemanfaatan energi matahari. Teknologi tersebut memungkinkan penerapan sel surya pada lokasi yang tidak selalu ideal bagi panel konvensional.

Dengan penguatan riset dan kolaborasi lintas sektor, BRIN berharap teknologi sel surya Indonesia semakin berkembang.

Upaya tersebut sekaligus diarahkan untuk mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional melalui pemanfaatan sumber energi terbarukan. (P-*Cnni/sm)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025