25.6 C
Jakarta
Monday, June 17, 2024

    Akibat transfusi darah, puluhan ribu orang tertular HIV dan Hepatitis di Inggris

    Terkait

    PRIORITAS, 23/5/24 (London): Skandal transfusi darah terjadi di Inggris yang menyebabkan setidaknya 30.000 orang tertular HIV dan hepatitis.

    Hal itu terungkap dari laporan akhir penyelidikan yang diterbitkan pada Senin (29/5/24) awal pekan ini.

    Dikutip dari AP, Senin (20/5/2024), laporan itu mengungkapkan, puluhan ribu orang tertular HIV dan hepatitis dari tranfusi darah yang menggunakan produk darah tercemar pada sekitar tahun 1970-1980.

    Disebutkan, hal ini secara luas dianggap sebagai skandal paling mematikan yang menimpa Layanan Kesehatan Nasional atau National Health Service (NHS) Inggris.

    Transfusi darah yang tercemar tersebut diyakini telah mengakibatkan 3.000 orang meninggal dunia akibat infeksi HIV dan hepatitis.

    Disebut pengobatan revolusioner dan ajaib

    Selang rentang 1970-1980, ribuan orang yang membutuhkan transfusi darah, seperti mereka yang sehabis melahirkan atau operasi, terpapar darah tercemar hepatitis C dan HIV.

    Kemudian mereka yang menderita hemofilia atau suatu kondisi dimana memengaruhi kemampuan darah untuk membeku, juga terpapar. Yakni pada apa yang disebut sebagai pengobatan baru revolusioner dari plasma darah.

    Di Inggris, NHS menangani sebagian besar warga menggunakan pengobatan baru ini pada awal tahun 1970-an. Pengobatan itu disebut sebagai Faktor VIII yang dianggap lebih nyaman jika dibandingkan dengan pengobatan alternatif dan dijuluki sebagai obat ajaib.

    Terkontaminasi dari Amerika Serikat

    Saat itu, permintaan Faktor VIII melampaui sumber pasokan dalam negeri, sehingga pejabat kesehatan Inggris mulai mengimpornya dari Amerika Serikat.

    Sayangnya, Faktor VIII yang diimpor dari Amerika Serikat itu sebagian besar berasal dari tahanan dan pengguna Narkoba yang dibayar untuk mendonorkan darah.

    Hal tersebut kemudian menyebabkan terjadinya peningkatan risiko plasma darah yang terkontaminasi virus.

    Faktor VIII ini dibuat dengan mencampurkan plasma darah dari ribuan donor. Dalam pencampuran ini, satu donor yang terinfeksi akan membahayakan seluruh donor.

    Penyelidikan yang dilakukan memperkirakan, lebih dari 30.000 orang terinfeksi dari darah atau produk darah yang terkontaminasi melalui transfusi atau Faktor VIII.

    Di pertengahan tahun 1970-an, terdapat bukti, penderita hemofilia yang diobati dengan Faktor VIII lebih rentan terhadap hepatitis.

    Hal ini menyebabkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang telah memperingatkan pada tahun 1953 tentang risiko hepatitis yang terkait dengan penyatuan produk plasma secara massal, mendesak negara-negara untuk tidak mengimpor plasma.

    AIDS sendiri pertama kali dikenali pada awal tahun 1980-an di kalangan pria gay, tetapi segera mulai muncul di kalangan penderita hemofilia dan mereka yang telah menerima transfusi darah.

    Meskipun HIV belum diidentifikasi sebagai penyebab AIDS hingga tahun 1983, peringatan telah disampaikan kepada pemerintah Inggris setahun sebelumnya, dimana agen penyebab dapat ditularkan melalui produk darah.

    Sayangnya, pemerintah berargumen, tidak ada bukti yang meyakinkan. Sehingga pasien tidak diberitahu tentang risiko dan pihak medis terus menggunakan pengobatan yang menempatkan pasien dalam bahaya besar.

    Keluarga korban ditekan

    Di akhir tahun 1980-an, para keluarga korban meminta kompensasi atas dasar kelalaian medis.

    Meski pemerintah Inggris mendirikan sebuah badan amal untuk memberikan bantuan satu kali kepada mereka yang terinfeksi HIV pada awal tahun 1990-an, tapi pemerintah tidak mengakui kewajiban atau tanggung jawabnya.

    Selain itu, para korban juga disebut ditekan untuk menandatangani surat pernyataan agar tidak menuntut Departemen Kesehatan demi bisa mendapatkan uang tersebut.

    PM Inggris minta maaf

    Akhirnya, Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak menyampaikan permohonan maaf dan merasa benar-benar menyesal atas skandal tersebut.

    Laporan penyelidikan kepada publik menemukan, pihak berwenang mencoba menutup-nutupi skandal itu dan mengekspos korban pada risiko yang tidak dapat diterima. Sunak menggambarkan skandal tersebut sebagai “hari yang memalukan bagi negara Inggris”.

    “Laporan hari ini menunjukkan kegagalan moral selama beberapa dekade di jantung kehidupan nasional kita. Saya ingin menyampaikan permintaan maaf yang sepenuh hati dan tegas,” ucap Sunak, dilansir dari BBC, Selasa (21/5/24) lalu.

    Sunak juga berjanji untuk membayar “berapapun biayanya” dalam bentuk kompensasi kepada para korban.

    Pemimpin Partai Buruh Inggris, Sir Keir Starmer menggambarkannya sebagai salah satu ketidakadilan paling parah yang pernah terjadi di negara itu dan mengatakan, para korban telah “menderita tragedi besar yang tidak terkatakan”. (P-KPS/jr) — foto ilustrasi istimewa

    - Advertisement -spot_img

    Viral

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    - Advertisement -spot_img

    Terkini