PRIORITAS, 12/1/2026 (Kuala Simpang): Dua bulan pascabanjir lumpur dan longsor yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang, kondisi kehidupan para korban masih memprihatinkan. Keterbatasan bantuan dan hilangnya mata pencaharian memaksa sebagian penyintas turun ke jalan untuk mengemis demi memenuhi kebutuhan hidup.
Pantauan di lapangan, Senin (12/1/2026), sejumlah korban terlihat di ruas jalan utama Kota Kuala Simpang. Mereka mengandalkan belas kasih para pengguna jalan karena tak lagi memiliki penghasilan tetap, sementara bantuan pascabencana dinilai belum mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Banjir lumpur dan longsor yang terjadi dua bulan lalu menyebabkan kerusakan parah di kawasan permukiman. Arus air bercampur lumpur, kayu, dan ranting besar menghantam rumah warga dengan kekuatan dahsyat. Warga menyebut peristiwa tersebut sebagai “tsunami darat” karena besarnya volume material yang menghanyutkan dan merusak pemukiman.
Akibat bencana itu, banyak warga kehilangan rumah, harta benda, serta sumber penghidupan. Lahan pertanian dan tempat usaha rusak berat, membuat sebagian besar korban kini menganggur.
Selain kerugian material, trauma psikologis masih dirasakan para penyintas, terutama anak-anak dan lansia. Kondisi ini diperparah dengan tingginya kebutuhan hidup, sementara dukungan ekonomi dan program pemulihan pascabencana belum berjalan optimal.
Salah seorang korban, Anwar, berharap pemerintah dapat melibatkan warga terdampak sebagai relawan dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Menurutnya, pemberian uang lelah dan uang makan bisa menjadi solusi sementara agar korban memiliki penghasilan dan tidak terus bergantung pada bantuan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pemerintah terkait penanganan dan pemulihan pascabencana banjir bandang di Aceh Tamiang. (P-mtu/bwl)