Lompat ke konten
Minggu, 11 Oktober 2026
Breaking
INTERNASIONALBencana

Banjir bandang sapu desa Nepal dan Tibet, 100 tewas serta 929 hilang

Jeffry Wuisan4 menit baca
Bagikan
IMG_20260827_000827
Banjir bandang lumpur hebat menyapu dan menghanyutkan sebuah truk, juga mengubur beberapa lantai bangunan tinggi di Rasuwa, Nepal, hari Rabu 26 Agustus 2026.(kathmandu post)

PRIORITAS, 26/8/26 (Kathmandu): Banjir bandang hebat melenyapkan desa-desa di Nepal dan Tibet, hari Rabu. Sebanyak 100 orang dilaporkan tewas serta 929 orang hilang termasuk 579 turis serta 84 tentara dan polisi.

Juru bicara kepolisian Nepal, Abi Narayan Kafle, mengatakan 100 orang tewas di negara itu hingga pukul 20:30 waktu setempat (14:45 GMT) akibat banjir bandang.

Banjir menghanyutkan desa-desa, merusak jembatan, dan menghancurkan infrastruktur listrik di kedua sisi perbatasan Nepal-China.

Permukiman tepi sungai di distrik Rasuwa dan Nuwakot paling parah terkena dampaknya.

“Seluruh permukiman telah hancur, sementara bank, jembatan, dan pasar mengalami kerusakan besar,” kata asisten kepala distrik Nuwakot, Krishna Prasad Humagain.

Puluhan jembatan beton telah hanyut. “Belum pernah terjadi kerusakan sebesar ini dalam sejarah", tambahnya.

Tim pencarian dan penyelamatan telah dikerahkan di seluruh wilayah yang terdampak.

Cuaca buruk dan gangguan komunikasi telah mempersulit operasi pencarian dan penyelamatan, kata pihak berwenang setempat.

"Kehancuran terlihat di mana-mana. Permukiman di dekat sungai telah hanyut sepenuhnya. Lima kerabat saya hilang ," kata seorang petugas kesehatan di distrik Rasuwa, Tula Bahadur BK.

Pada saat yang sama, pihak berwenang China juga melaporkan tanah longsor menyebabkan banyak korban jiwa di Tibet.

Rekaman CCTV menunjukkan orang-orang berlari menjauh saat gunungan lumpur dan air menghancurkan bangunan di sebuah lembah di perbatasan Nepal-China, di Gyirong, Tibet.

Para pekerja PLTA diduga tenggelam

Banjir tersebut menyebabkan 60 orang yang bekerja di proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Langtang Khola berkapasitas 20 megawatt tidak dapat
termasuk 13 polisi bersenjata belum diketahui nasibnya.

Menurut promotor proyek, Bijay Mohan Bhattarai, 25 insinyur, pengemudi, dan staf dapur, serta 35 pekerja yang berada di dalam terowongan PLTA itu, hilang dan diduga tersapu banjir atau tenggelam.

“Sejauh ini kami belum berhasil menghubungi mereka,” kata Bhattarai pada Rabu siang.

Sebanyak 15 pegawai Kantor Bea Cukai Rasuwa di Timure juga hilang, kata kepala kantor bea cukai, Rajendra Dhunga, seperti rilis Kathmandu Post.

Juru bicara militer Rajaram Basnet mengatakan Tentara Nepal telah menyelamatkan 88 orang yang terjebak banjir.

Tiga belas dari mereka yang diselamatkan telah dirawat di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Tribhuvan di Kathmandu, sementara yang lainnya telah dipindahkan ke tempat aman.

Beberapa orang yang terluka sedang menerima perawatan di Kamp Trishuli.

Dua belas helikopter, termasuk empat yang dioperasikan Angkatan Darat Nepal dan lainnya perusahaan swasta, telah dikerahkan untuk operasi penyelamatan.

Ratusan orang hilang

Menurut Dewan Pariwisata Nepal, jumlah turis yang hilang mencapai 579 orang, menurut angka terbaru yang dikonfirmasi kepolisian Nepal.

Para turis yang hilang, 466 di antaranya adalah warga negara asing dari 28 negara berbeda.

Di antara para turis yang hilang tersebut 113 orang dari Nepal sendiri, 105 orang dari India, 54 orang dari AS, dan 33 orang dari Inggris, serta sisanya dari 24 negara lain.

Di Tibet, media pemerintah China melaporkan tiga orang tewas dan 265 orang hilang.

Juru bicara kepolisian Nepal mengatakan 44 personel tentara hilang, serta 41 polisi
termasuk 13 polisi bersenjata belum diketahui nasibnya.

Banjir dari dua sungai besar

Sebuah foto yang diambil dari media sosial menunjukkan daerah-daerah yang terkena banjir di Rasuwa.

Banjir bandang itu dipicu melubernya dua sungai besar yakni Sungai Lende yang mengalir dari Tibet, Tiongkok, dan bergabung dengan Sungai Bhote Koshi.

Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, mengatakan gempa bumi memicu tumpukan salju (gletser) menjadi longsor di Himalaya, yang kemudian memicu banjir bandang hebat di lembah-lembah di bawahnya.

Kantor berita pemerintah China, Xinhua, mengatakan tanah longsor di sisi pegunungan Nepal meluas hingga ke Kabupaten Gyirong di Tibet.

Operasi penyelamatan besar-besaran sedang berlangsung.

Nepal mengirimkan lebih dari selusin helikopter penyelamat ke wilayah pegunungan Rasuwa, tetapi air banjir terlalu tinggi untuk memungkinkan helikopter mendarat.

Perdana Menteri Nepal Balendra Shah mengatakan militer dan polisi membantu dalam operasi penyelamatan.

"Instruksi telah diberikan ... untuk memindahkan orang-orang yang tinggal di daerah dataran rendah ke tempat yang lebih aman," katanya.
Ia juga meminta masyarakat di sepanjang sungai disarankan untuk lebih berhati-hati dan tetap waspada.

Presiden China, Xi Jinping, memerintahkan upaya penyelamatan secara total.

"Tugas paling mendesak adalah melakukan segala upaya untuk mencari dan menyelamatkan orang-orang yang hilang... segera merawat orang-orang yang terluka dan meminimalkan korban jiwa sebisa mungkin", kata Xi Jinping.

Banjir susulan

Kepala risiko iklim dan lingkungan di Pusat Internasional untuk Pembangunan Pegunungan Terpadu, Qianggong Zhang, memperingatkan banjir kedua atau susulan mungkin akan segera terjadi.

"Dengan adanya penyumbatan yang masih tersangkut di hulu sungai perbatasan Nepal-China, pihak berwenang memperingatkan bahwa banjir kedua mungkin akan terjadi," katanya. (P-*/jw)

Komentar

Rekomendasi untuk Anda

Pasang iklan Anda di sini

Jangkau pembaca Berita Prioritas melalui salah satu kanal berita paling aktif di wilayah ini.

Email Kami