Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. (‘Courressy’ Kompas.com/Wall Street Journal)PRIORITAS, 26/3/26 (Washington): Pejabat Amerika Serikat mengatakan, AS dan Israel menyatakan, untuk sementara waktu kedua negara itu telah menghapus dua pejabat senior Iran dari daftar target demi menjajaki kemungkinan pembicaraan perdamaian.
Seorang pejabat Amerika Serikat (AS) mengungkapkan, selain Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, juga nama Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi telah dihapus dari daftar target hingga empat atau lima hari, seperti dikutip dari Wall Street Journal yang dilansir Kompas.com dan diterima Beritaprioritas.com, Kamis (26/3/26).
Dilaporkan, para mediator dari Turkiye, Pakistan, dan Mesir mendesak para negosiator AS dan Iran untuk bertemu dalam beberapa hari ke depan guna membahas penghentian sementara perang untuk perundingan perdamaian.
Tetapi, peluang keberhasilannya disebut rendah karena ada kesenjangan besar antara tuntutan AS dan Iran selama ini.
AS ancam akan serang lebih keras
Sementara itu, AS telah memperingatkan, waktu terus berjalan bagi Iran untuk datang ke meja perundingan.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt, bahkan menyatakan, AS akan menyerang Iran lebih keras jika Teheran tidak setuju untuk mengakhiri konflik ini.
Target Israel
Diketahui, sejak dimulainya perang Iran, Israel telah menargetkan banyak pejabat Iran dalam serangkaian serangan udara, termasuk Ayatollah Ali Khamenei dan kepala keamanan Ali Larijani yang telah tewas.
Bahkan Israel mengatakan, akan terus memburu para pemimpin Iran, sebagai bagian dari strategi pemenggalan kepala yang serupa dengan yang telah mereka lakukan terhadap Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon belakangan ini.
AS target fasilitas militer
Lalu, militer AS memfokuskan serangannya pada fasilitas militer Iran dan ancaman Rudal.
Sebelumnya Trump mengatakan, serangan awal terhadap Iran sangat sukses sehingga menyingkirkan banyak calon penerus pemimpin Iran yang dapat diajak bernegosiasi ke depan.
“Kami membunuh seluruh pemimpin mereka, lalu mereka bertemu untuk memilih pemimpin baru, dan kami membunuh mereka semua,” tandas Trump kepada wartawan yang mewawancarainya.
“Sekarang kita memiliki kelompok baru, dan kita dapat dengan mudah melakukan itu, tetapi mari kita lihat bagaimana hasilnya,” tambah Donald Trump. (P-*r/Kps/jr)