Pesawat-pesawat tempur F-35 AS membatalkan serangan ke Iran di menit terakhir, setelah Presiden Donald Trump setuju untuk tidak menyerang negara tersebut.(@fankarolineleavitt)PRIORITAS, 15/1/26 (Riyadh): Pemimpin Arab Saudi dan Qatar membujuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar membatalkan serangan militer ke Iran.
Presiden Trump sebelumnya sudah memiliki opsi untuk serangan militer ke Iran, setelah terjadi pembunuhan massal terhadap ribuan demostran di Iran.
Menurut informasi yang diperoleh Beritaprioritas.com, hari Kamis (15/1/2026), atas permintaan negara-negara sekutu AS di Timur Tengah, Presiden Trump telah menyatakan tidak akan menyerang Iran.
“Para pejabat dari Arab Saudi, Qatar dan Oman bekerja di balik layar, untuk meredakan ketegangan antara AS dan Iran dalam upaya mencegah serangan”, demikian sebuah sumber yang mengetahui situasi tersebut kepada The Jerusalem Post hari Kamis.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump memberi tahu Iran, AS tidak akan menyerang negara itu dan meminta Republik Islam untuk juga menahan diri.
Laporan ini muncul setelah Trump mengatakan pada Rabu malam, dia telah diberi informasi penindakan keras Iran terhadap protes nasional sedang mereda.
“Kami diberi tahu bahwa pembunuhan di Iran sedang berhenti, dan tidak ada rencana untuk eksekusi,” kata Trump di Ruang Oval.
“Saya telah diberi tahu hal itu dari sumber yang dapat dipercaya. Kita akan mengetahuinya nanti. Saya yakin jika itu terjadi, saya akan sangat marah”, tegasnya.
Pada Kamis sore, Trump memposting di platform media sosial Truth Social miliknya, Iran tidak akan mengeksekusi demonstran Iran, Erfan Soltani.
Soltani, 26 tahun, awalnya dijatuhi hukuman mati pada hari Rabu.
“Pengunjuk rasa Iran tidak akan lagi dijatuhi hukuman mati setelah peringatan Presiden Trump. Begitu juga yang lainnya.’ Ini kabar baik. Semoga ini akan terus berlanjut!” tulis Trump.
Senator membantah
Senator AS yang dekat dengan Presiden Trump, Lindsey Graham (Partai Republik – Carolina Selatan) membantah Trump mundur dari rencana menyerang rezim Iran.
Graham yang selama ini vokal mendukung aksi militer AS terhadap Iran, mengecam judul berita yang membuat klaim tersebut sebagai “sangat tidak akurat” dalam sebuah unggahan di X/Twitter.
Graham meminta masyarakat untuk tetap menunggu perkembangannya. “Sama sekali tidak benar. Justru sebaliknya. Tunggu saja”, ujarnya.
Menurut Graham, situasi seputar tindakan tegas dan perlu yang harus diambil terhadap rezim Iran yang jahat tidak ada hubungannya dengan keinginan atau tekad Presiden Trump. “Tidak ada yang lebih jauh dari kebenaran”, kata Graham.
Media Sky News melaporkan, Donald Trump mengklaim rezim di Teheran bisa runtuh.
Dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Reuters, Trump mengatakan dia percaya protes tersebut dapat menyebabkan jatuhnya rezim yang telah berkuasa sejak revolusi tahun 1979.
“Rezim mana pun bisa gagal,” katanya, menambahkan: “Terlepas dari apakah rezim ini jatuh atau tidak, ini akan menjadi periode waktu yang menarik.”
Pemerintah Iran telah bertindak sangat brutal terhadap aksi protes massa. Laporan organisasi Hak Asasi Manusia Iran, aparat keamanan telah membunuh hampir 3.000 demonstran.
Sedangkan media Iran Internasional menyebutkan pembantaian yang dilakukan rezim Republik Islam telah mencapai 12.000 orang. (P-Jeffry W)