Panglima TNI angkat bicara soal insiden di Talaud, tidak mentolerir segala bentuk kekerasan terhadap masyarakat sipil

Wolter Rumapar
Senin, 26 Januari 2026
DAERAH Hukum 0 440
2 menit membaca

PRIORITAS, 26/1/26 (Jakarta): Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto angkat bicara soal insiden lima prajurit TNI yang diduga menganiaya enam warga, termasuk seorang guru di sekitar Pelabuhan Melongguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara.

Panglima TNI mengungkapkan alasan belum memberhentikan lima prajurit TNI dalam insiden yang terjadi pada Kamis (22/1/26) malam karena masih menjalani proses pemeriksaan internal oleh TNI Angkatan Laut (AL). Pemeriksaan dilakukan untuk mendalami peran masing-masing prajurit dalam peristiwa penganiayaan tersebut.

“Ya, nanti kita lihat, kan tidak langsung dipecat lah. Kita lihat kesalahannya apa. Ada, ada langkah-langkahnya juga dalam penyelesaian hukum ya,” kata Agus kepada wartawan di Kompleks DPR/MPR, Jakarta, Senin (26/1/26). Panglima TNI menegaskan, institusinya tidak akan mentoleransi segala bentuk kekerasan yang dilakukan oleh prajurit terhadap masyarakat sipil. Ia memastikan akan menjatuhkan sanksi tegas apabila kelima prajurit tersebut terbukti bersalah setelah proses pemeriksaan rampung.

Agus juga menyampaikan pihaknya telah mengambil langkah awal dengan menemui keluarga korban untuk menyampaikan permohonan maaf secara langsung. Menurutnya, pendekatan kemanusiaan tetap dilakukan di tengah proses hukum yang berjalan. “Pokoknya kalau berbuat yang tidak sesuai, akan kita tindak tegas ya. Masih banyak prajurit yang baik,” ujarnya.

Korban tengah memancing

Sebelumnya diberitakan, sejumlah anggota TNI AL diduga menganiaya enam warga, termasuk seorang guru, di sekitar Pelabuhan Melongguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, pada Kamis (22/1/2026) malam. Berdasarkan keterangan yang terungkap, peristiwa tersebut bermula ketika para korban tengah memancing di kawasan pelabuhan sekitar pukul 21.00 Wita.

Tiba-tiba, muncul sekelompok orang yang berteriak-teriak dalam kondisi diduga mabuk. Saat didekati, para korban menyadari bahwa kelompok tersebut merupakan anggota TNI AL yang bertugas di Pangkalan TNI AL (Lanal) Melongguane. Merasa resah dengan perilaku para prajurit tersebut, korban kemudian menegur sambil merekam kejadian menggunakan ponsel.

Teguran tersebut diduga memicu terjadinya tindakan penganiayaan terhadap para korban. Peristiwa ini kemudian dilaporkan dan ditangani oleh pihak berwenang, termasuk TNI AL, guna memastikan proses hukum berjalan secara transparan dan adil.

Kasus penganiayaan ini menjadi perhatian serius pimpinan TNI seperti dikutip Beritasatu.com. Panglima TNI menegaskan komitmennya untuk menjaga disiplin prajurit sekaligus melindungi kepercayaan publik terhadap institusi TNI. (P-*/wr)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025