Selanjutnya Purbaya yakin, dana milik warga Indonesia yang selama ini berada di luar negeri akan kembali masuk ke dalam negeri, lantaran terbatasnya peluang untuk menjalankan kegiatan usaha di luar negeri.
“Mereka gak biasa bersaing sehat di sana,” kata Purbaya.
Lebih diminati investor asing
Terkait arus modal asing, ia menegaskan tidak mempersoalkan keberadaan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), selama instrumen tersebut lebih banyak diminati dan diserap oleh investor asing, bukan investor domestik.
“Kalau SRBI betul-betul menyerap dana asing ya gak apa-apa, tapi kan banyak juga domestik masuk situ,” ujarnya.
Di sisi lain, Menteri Investasi sekaligus Kepala BKPM Rosan Roeslani menilai pergerakan nilai tukar rupiah saat ini masih berada pada kisaran yang dapat diterima oleh para investor.
“Ya, sebetulnya ini kan kalau kita lihat, ini karena kan USD itu kan bukan satu kenaikan yang meningkat terus, ini kan masih naik turun, dan saya melihatnya ini masih dalam range yang sangat acceptable oleh investor luar juga,” tutur Rosan pada Kamis (15/1/26).
Selanjutnya, ia mengatakan investor asing memperhatikan pergerakan dari mata uang rupiah pada saat mereka berinvestasi ke Indonesia, alhasil ketika investasi terbukti masih kuat masuk, pergerakan saat ini juga masih bisa diterima mereka. “Jadi pergerakan itu sudah masih dalam range yang sangat acceptable,” kata Rosan.
Sementara itu, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin G. Hutapea, menegaskan komitmen BI untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar guna menopang kestabilan ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan.
Ia menjelaskan, dinamika pergerakan mata uang global pada awal 2026, termasuk rupiah, dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan di pasar keuangan internasional.
“Tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun,” imbuh Erwin dalam pernyataan resmi.
Terpengaruh sentimen global
Akibat kondisi tersebut, rupiah tertekan dan ditutup di posisi Rp16.860 per dolar AS pada 13 Januari 2026, atau melemah 1,04 persen secara year-to-date. Kendati demikian, depresiasi rupiah masih sejalan dengan tren mata uang regional yang turut terpengaruh sentimen global, seperti won Korea Selatan yang turun 2,46 persen dan peso Filipina yang melemah 1,04 persen.
Erwin menegaskan, stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga berkat konsistensi langkah stabilisasi Bank Indonesia yang dilakukan secara berkelanjutan. Upaya tersebut ditempuh melalui intervensi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore kawasan Asia, Eropa, dan Amerika, serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, DNDF, dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Selain itu, berlanjutnya arus masuk modal asing, khususnya ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham dengan nilai neto mencapai Rp11,11 triliun pada Januari 2026, turut menopang stabilitas rupiah. Kondisi ini sejalan dengan persepsi positif investor global terhadap Indonesia, yang tercermin dari premi risiko credit default swap (CDS) Indonesia tenor lima tahun yang tetap rendah di kisaran 72 basis poin.
“Ketahanan eksternal juga tetap baik tecermin pada posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 yang tercatat sebesar USD156,5 miliar, setara dengan 6,4 bulan impor, memadai sebagai buffer dalam menghadapi tekanan pasar keuangan global,” paparnya.
Erwin menegaskan BI akan terus berada di pasar untuk memastikan nilai tukar Rupiah bergerak sesuai dengan nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat. Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan instrumen operasi moneter pro-market guna memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dan menjaga kecukupan likuiditas, sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan tetap mencapai sasaran inflasi serta menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. (P-*r/Zamir Ambia)


