Tenaga Ahli DPN kembali menyita perhatian publik setelah vokalis Letto, Noe Letto, dan Frank Hutapea resmi dilantik sebagai bagian dari Dewan Pertahanan Nasional (DPN). (Courtesy: Instagram/Kemhan)PRIORITAS, 19/1/26 (Jakarta): Penunjukan Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN) kembali menjadi perbincangan setelah dua nama dari latar belakang berbeda resmi dilantik, yakni Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noe Letto) dan Frank Alexander Hutapea.
Mengacu pada laman resmi Kementerian Pertahanan (Kemhan), pelantikan dilakukan pada 15 Januari 2026 di Kantor Kemenhan RI, Jakarta. Ketua Dewan Pertahanan Nasional (DPN), Sjafrie Sjamsoeddin, mengukuhkan 12 orang Tenaga Ahli DPN yang berasal dari beragam profesi dan memiliki kedudukan setara pejabat eselon II.
Kehadiran Noe Letto—yang dikenal luas sebagai musisi dan pemikir publik—serta Frank Hutapea, putra pengacara senior Hotman Paris Hutapea, langsung menarik perhatian. Publik menilai komposisi ini mencerminkan upaya DPN membuka ruang kontribusi dari lintas disiplin keilmuan.
Pelantikan tersebut berlandaskan Keputusan Ketua Harian DPN Nomor KEP/3/KH/X/2025, yang bertujuan memperkuat fungsi strategis DPN dalam mendukung kebijakan pertahanan negara.
Dewan Pertahanan Nasional (DPN) merupakan lembaga nonstruktural yang berada langsung di bawah Presiden Republik Indonesia. Menteri Pertahanan (Menhan) menjabat sebagai Ketua DPN.
Merujuk Kemhan, tugas DPN meliputi pemberian pertimbangan strategis kepada Presiden, penyusunan kebijakan pertahanan terpadu, serta perumusan arah geopolitik dan geoekonomi demi kepentingan pertahanan nasional.
Dengan masuknya figur publik seperti Noe Letto dan Frank Hutapea sebagai Tenaga Ahli DPN, harapan publik mengarah pada kontribusi nyata, bukan sekadar simbolik.
Keterlibatan lintas latar belakang dinilai dapat memperkaya perspektif dan mendorong kebijakan pertahanan yang adaptif, inklusif, dan relevan dengan tantangan zaman. (P-Khalied M)