Pemungutan suara Senat Amerika Serikat tentang kewenangan perang, mengalahkan partai presiden Donald Trump, Republik.(newsnowus)PRIORITAS, 9/1/26 (Washington): Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, marah karena lima senator Partai Republik bergabung dengan Partai Demokrat untuk menjegal niatnya menguasai Venezuela.
“Partai Republik seharusnya malu dengan para Senator yang baru saja memberikan suara bersama Demokrat, dalam upaya merampas kekuasaan kita untuk melawan dan membela Amerika Serikat,” tulis Trump.
Akibat pembelotan itu, Presiden Trump mengalami kekalahan dari partainya sendiri di senat dengan angka 52-47, dalam pemungutan suara (resolusi) mengenai kewenangan perang.
Seperti dikutip Beritaprioritas.com hari Jumat (9/1/2026), para Senator Republik itu sengaja ingin membatasi Trump menggunakan kekuatan militernya kedua kali untuk menguasai Venezuela.
Para pembelot tersebut adalah Senator Rand Paul, Lisa Murkowski, Susan Collins, Todd Young, dan Josh Hawley.
Upaya untuk menegaskan kembali kewenangan Kongres dalam hal kekuasaan perang, dipimpin Senator Tim Kaine dari Demokrat.
Keberhasilan pemungutan suara itu juga memberikan kekalahan langka kepada Pemimpin Mayoritas Senat John Thune di sidang pleno.
Senat harus melakukan pemungutan suara lagi, dengan ambang batas filibuster 60 suara, sebelum resolusi tersebut menjadi resmi, lapor Fox News.
Resolusi Kaine secara efektif akan mengakhiri operasi militer lebih lanjut di Venezuela, tanpa persetujuan eksplisit dari Kongres.
Ini adalah salah satu dari banyak upaya kelompok bipartisan, untuk merebut kembali wewenang Kongres dalam memberikan pendapat tentang tindakan militer.

Presiden AS Donald Trump (tengah) memonitor dari kediamannya di Mar-o- Lago serangan pasukan AS ke Venezuela , 3 Januari 2026.(whitehouse)
Ingin kendalikan minyak
Dalam sebuah wawancara dengan New York Times, Donald Trump menyatakan AS kemungkinan akan mengawasi Venezuela dan mengendalikan pendapatan minyaknya untuk waktu yang sangat lama.
Setelah operasi penangkapan Presiden Nicolas Maduro akhir pekan lalu, Trump optimistis terhadap potensi profitabilitas Venezuela.
“Hanya waktu yang akan menjawab berapa lama [AS mengawasi Venezuela]. Saya akan katakan, [bisa jadi] jauh lebih lama [dari setahun]. Kami akan membangunnya kembali dengan cara yang sangat menguntungkan,” tegas Trump.
Trump juga dijadwalkan bertemu dengan para bos raksasa migas AS seperti Exxon Mobil, ConocoPhillips, dan Chevron di Gedung Putih.
Pertemuan ini bertujuan membahas strategi untuk meningkatkan produksi minyak di negara yang memiliki cadangan terbukti terbesar di dunia tersebut.
Tak ada serangan kedua
Presiden Trump mengatakan tidak akan ada gelombang serangan kedua terhadap Venezuela, karena pemerintah negara tersebut sudah mau bekerja sama..
“Venezuela membebaskan sejumlah besar tahanan politik sebagai tanda ‘Mencari Perdamaian’,” kata Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social Jumat pagi.
Trump menilai hal itu adalah isyarat yang sangat penting dan cerdas.
AS dan Venezuela bekerja sama dengan baik, terutama dalam hal membangun kembali infrastruktur minyak dan gas mereka dalam bentuk yang jauh lebih besar, lebih baik, dan lebih modern.
“Karena kerja sama ini, saya telah membatalkan Gelombang Serangan kedua yang sebelumnya diperkirakan akan terjadi. Namun, semua kapal akan tetap berada di tempatnya untuk tujuan keselamatan dan keamanan,” kata Trump dalam unggahan tersebut.
Saat ini, organisasi Foro Penal memperkirakan masih terdapat sekitar 863 tahanan politik yang ditahan di bawah rezim Venezuela sebelumnya.(P-Jeffry W)