
Gambar-gambar lokasi pengayaan nuklir Fordow sebelum dan sesudah serangan AS pada bulan Juni.(theindependent)PRIORITAS, 22/12/25 (Washington): Israel diduga kuat akan kembali menyerang Iran, jika Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyetujui permintaan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Menurut sebuah laporan media AS, seperti dikutip Beritaprioritas.com dari The Independent, hari Senin (22/12/25), Benjamin Netanyahu diperkirakan akan bertemu dengan Amerika Serikat dan diperkirakan ia akan meminta bantuan untuk serangan baru terhadap Iran.
Bulan Juni 2025 lalu, AS melakukan serangan ke situs nuklir utama Iran, dengan pesawat pembom siluman B-2.
Namun kini, para pejabat Israel khawatir Iran sudah membangun kembali situs pengayaan nuklir yang dibom AS tersebut.

Itulah sebabnya, PM Israel sedang mempertimbangkan opsi untuk kembali menyerang Iran, kata NBC News, mengutip pejabat AS anonim, yang diberi pengarahan tentang rencana tersebut.
Perdana Menteri Israel Netanyahu dijadwalkan bertemu dengan Trump di kediamannya di Mar-a-Lago, Florida, pada akhir bulan ini, untuk membahas gencatan senjata yang rapuh antara Israel dan militan Hamas di Jalur Gaza.
Perlu respon cepat
Selama pertemuan tersebut, Netanyahu diperkirakan akan menyampaikan argumen program rudal balistik Iran memerlukan respons yang cepat. Demikian dilaporkan media tersebut.
Amerika Serikat diajak untuk bergabung dalam aksi bilateral melawan Iran, karena Netanyahu berargumen militerisasi Iran merupakan ancaman bagi kepentingan Amerika di kawasan tersebut.
Komentar tersebut muncul hanya beberapa hari setelah kepala badan intelijen Mossad, David Barnea, menegaskan Israel memiliki “tanggung jawab” untuk mencegah Iran memproduksi bom nuklir.
“Gagasan untuk terus mengembangkan bom nuklir masih bersemayam di hati mereka (Iran)”, kata Barnea.
Iran berulang kali menegaskan program nuklirnya sepenuhnya damai. Namun, setelah serangan bulan Juni 2025 lalu, Iran melarang badan pengawas atom PBB memasuki fasilitas nuklirnya.
Penilaian awal Pentagon menyimpulkan serangan pengeboman pada bulan Juni lalu terhadap fasilitas di Fordow, Natanz, dan Isfahan, kemungkinan hanya menunda program nuklir Iran selama beberapa bulan.
Israel telah memimpin serangan mendadak terhadap fasilitas nuklir dan lokasi peluncuran rudal Iran pada waktu itu. Israel juga membunuh para petinggi militer Iran.
AS kemudian menghancurkan situs-situs nuklir utama Iran di bawah tanah, dengan bom penghancur bunker seberat 30.000 pon.
Israel mengklaim serangan awal ke Iran merupakan puncak dari penelitian dan perencanaan bertahun-tahun, yang dilakukan militer Israel dan lembaga intelijen Mossad.
Saat itu PM Netanyahu telah memperingatkan, Iran dapat memproduksi senjata nuklir dalam waktu yang sangat singkat jika tidak dihentikan.
Israel sendiri secara luas diyakini memiliki senjata nuklir, meskipun kedua negara tidak mengkonfirmasi atau membantah hal ini.
Latihan rudal Iran
Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat, setelah Iran melakukan latihan penembakan peluru kendali (rudal) jarak jauh.
Sejumlah laporan media setempat menyebutkan unit udara pasukan garda revolusi Iran (IRGC), menembakkan sejumlah rudal balistik di tengah meningkatnya ketegangan dengan Israel.

Pasukan IGRC dilaporkan melakukan latihan rudal balistik di seluruh Iran Barat (middle_east_spectator)
Kantor Berita Fars Iran melaporkan uji coba rudal di beberapa wilayah, termasuk Khoramabad, Mahabad, Isfahan, Mashhad, dan Teheran, tetapi masih belum jelas apakah rudal balistik benar-benar diluncurkan.
Penyiar Iran kemudian mengutip sumber anonim yang mengatakan rekaman yang beredar luas dan diduga menunjukkan peluncuran rudal itu tidak akurat dan malah menggambarkan jejak kondensasi pesawat.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan rudal Iran dimaksudkan untuk melindungi negara dari serangan.
“Kemampuan pertahanan Iran, yang dirancang untuk mencegah agresor mana pun mempertimbangkan serangan terhadap negara ini,” katanya.
Pernyataan dari Teheran ini muncul di tengah kekhawatiran yang terus berlanjut di Israel tentang kemampuan rudal dan militer Iran yang semakin meluas.
Para pejabat Israel sedang mempertimbangkan potensi serangan terhadap target Iran.
Israel diduga tetap akan melakukan serangan baru ke Iran, meskipun tanpa partisipasi Amerika Serikat.
Aktivitas tak biasa
Menurut laporan NBC, Iran dapat memproduksi hingga 3.000 rudal balistik per tahun kecuali jika produksi dikurangi.
Rudal Iran dilaporkan menggunakan bahan bakar cair, bukan bahan bakar padat, setelah Israel menghancurkan komponen penting untuk produksi bahan bakar padat.
Laporan Barat juga menunjukkan Iran sedang memulihkan kemampuan produksi rudal balistik yang rusak.
Media oposisi Iran International melaporkan intelijen Barat mendeteksi aktivitas tidak biasa unit udara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang menyebabkan peningkatan pengawasan.
Sumber-sumber mengatakan pergerakan dan koordinasi yang melibatkan drone, rudal, dan sistem pertahanan udara, menyimpang dari pola normal.
Meskipun aktivitas tersebut mungkin terkait dengan latihan militer, skala dan sinkronisasinya menarik perhatian khusus.
Para pejabat AS dan Israel, mengatakan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel (IDF), Letnan Jenderal Eyal Zamir, telah memperingatkan pimpinan Komando Pusat AS adanya latihan rudal IRGC itu, dapat berfungsi sebagai kedok untuk serangan mendadak terhadap Israel.
Sebuah sumber Israel mengatakan kemungkinan serangan Iran “kurang dari 50 persen,” tetapi memperingatkan agar tidak menganggap remeh aktivitas tersebut hanya semata-mata sebagai latihan.
Seorang pejabat AS mengatakan intelijen AS tidak melihat indikasi serangan Iran yang akan segera terjadi.(P-Jeffry W)

