BMKG: Musim Kemarau 2026 Diperkirakan Tiba Lebih Cepat pada April. (Antara)PRIORITAS, 4/3/26 (Jakarta): Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim kemarau 2026 di Indonesia datang lebih cepat dibandingkan pola klimatologis normal. Berdasarkan analisis terbaru, awal musim kemarau diperkirakan mulai terjadi pada April 2026 di sejumlah wilayah Tanah Air.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan awal kemarau akan terjadi secara bertahap di berbagai wilayah Indonesia. Fenomena tersebut tercermin dari pergeseran pola angin monsun serta dinamika iklim global. Pergantian angin baratan menuju angin timuran menjadi indikator utama dimulainya periode kemarau di kawasan Indonesia.
Selanjutnya, BMKG mencatat sekitar 114 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 16,3 persen wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada April 2026. Wilayah terdampak meliputi pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, serta wilayah Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Sebagian kecil wilayah Kalimantan dan Sulawesi juga diprediksi mulai mengalami kondisi serupa.
Setelah fase awal tersebut, wilayah lain diprediksi menyusul memasuki musim kemarau pada Mei hingga Juni 2026. Proses ini berlangsung bertahap mengikuti pola peralihan musim dan dinamika atmosfer di wilayah tropis Indonesia.
Puncak kemarau terjadi Agustus
BMKG juga memprakirakan puncak musim kemarau 2026 terjadi sekitar Agustus. Pada periode tersebut sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan rendah sehingga kondisi cuaca menjadi lebih kering dibandingkan bulan sebelumnya.
Sebagaimana dikutip dari Detiknews, musim kemarau tahun ini berpotensi berlangsung lebih panjang di sejumlah wilayah. BMKG mencatat lebih dari setengah zona musim di Indonesia berpotensi mengalami periode kemarau lebih lama dibandingkan kondisi normal.
Kondisi iklim global turut memengaruhi pola musim tahun ini. BMKG mencatat fenomena La Nina lemah yang terjadi sejak Oktober 2025 telah berakhir pada Februari 2026, sehingga kondisi atmosfer kembali menuju fase netral. Perubahan tersebut ikut memengaruhi pergeseran musim di Indonesia.
BMKG mengimbau pemerintah daerah serta masyarakat untuk memanfaatkan informasi prakiraan musim sebagai dasar langkah mitigasi. Antisipasi perlu dilakukan terutama pada sektor pertanian, pengelolaan sumber daya air, serta potensi kekeringan selama periode kemarau berlangsung. (P-Zamir)