
Para teroris yang direkrut menjadi junrnalis dan dibunuh militer Israel di jalur Gaza. (idf)PRIORITAS, 19/12/25 (Jerusalem): Sebuah hasil studi komprehensif yang dirilis baru-baru ini, mengungkapkan sekitar 157 orang (60 persen) dari 266 jurnalis yang tewas di Jalur Gaza, adalah bagian dari organisasi teroris.

“Studi itu menemukan sekitar 60 persen individu yang diidentifikasi sebagai jurnalis yang tewas selama perang di Gaza, adalah anggota atau berafiliasi dengan organisasi teroris, terutama militan Hamas dan Jihad Islam Palestina”, kata Direktur Pusat Informasi Intelijen dan Terorisme Meir Amit, Shlomo Mofaz, seperti dikutip Beritaprioritas dari The Jerusalem Post, hari Jumat (19/12/25).
Temuan ini bertentangan dengan klaim militan Hamas dan berbagai LSM, yang menyebutkan 220–256 jurnalis tewas selama dua tahun pertempuran.
Penelitian yang dilakukan tersebut, meneliti 266 pekerja media yang dilaporkan tewas antara 7 Oktober 2023 dan 30 November 2025.

Dari jumlah tersebut, 157 orang—sekitar 60%—adalah anggota kelompok teroris atau bekerja untuk media yang berafiliasi dengan mereka.
Setidaknya 47 orang tergabung dalam sayap militer Hamas dan 45 orang terkait dengan Jihad Islam Palestina, termasuk 18 orang yang telah dikonfirmasi sebagai anggotanya.
“Masalah propaganda Hamas adalah prioritas utama, dan mereka menggunakan banyak media di luar negeri untuk membicarakannya,” kata Shlomo Mofaz, direktur pusat tersebut, kepada Layanan Pers Israel.
“Narasi tentang membahayakan jurnalis itu seperti jumlah kematian – ketika Anda memeriksa fakta dan angka, kenyataannya tidak seperti itu. Sekitar 60% jelas merupakan angka yang sangat tinggi”, jelas Mofaz.
Media Al-Jazeera
Para peneliti menggambarkan fenomena “identitas ganda” yang meluas, di mana para pekerja media secara bersamaan bertugas sebagai agen bersenjata.
Laporan tersebut menyoroti koordinasi sistematis antara Hamas dan jaringan media Al Jazeera yang berbasis di Qatar.

Profil Hossam Shabat yang ternyata militan Hamas yang menyamar sebagai wartawan (ynetnews)
Studi juga menemukan kematian jurnalis dalam perang di Gaza, terkait dengan Hamas dan PIJ.
Beberapa koresponden Al Jazeera , termasuk Anas al-Sharif, diidentifikasi sebagai anggota Batalyon Jabaliya Timur Hamas. Sharif justru memimpin sebuah sel yang bertanggung jawab menembakkan roket berpemandu ke Israel.
Dokumen-dokumen lain yang disita menunjukkan adanya kolaborasi terorganisir antara Al Jazeera dan militan Hamas.
Media tersebut selalu berkoordinasi dengan militan Hamas termasuk arahan tentang peliputan insiden-insiden tertentu. Termasuk saluran telepon khusus yang memungkinkan kontak langsung selama keadaan darurat.
Mofaz mengatakan studi tersebut bergantung pada sumber berbahasa Arab, profil media sosial, dan dokumen Hamas yang disita.
Daftar dari Brigade Gaza Hamas mengkonfirmasi delapan individu yang sebelumnya terdaftar sebagai jurnalis yang tidak dikenal sebenarnya adalah anggota Hamas
Tidak terlibat pertempuran
Direktur Inisiatif Akuntabilitas dan Reformasi Otoritas Palestina di Pusat Keamanan dan Urusan Luar Negeri Yerusalem, Letnan Kolonel (purnawirawan) Maurice Hirsch, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, memberikan konteks hukum.
“Saya punya kabar buruk untuk Anda – tidak ada perlindungan khusus untuk jurnalis,” kata Hirsch.
Menurut dia, seorang jurnalis seharusnya adalah warga sipil, bukan kombatan, dan tidak ikut serta dalam pertempuran.
Karena itu, dari sudut pandang hukum internasional, militer dilarang sengaja melukai seseorang yang tidak ikut serta dalam pertempuran.
Tetapi begitu seseorang ikut serta dalam pertempuran dengan satu atau lain cara, bahkan jika itu hanya mengumpulkan informasi intelijen, seperti laporan jurnalistik, hal itu menjadikan orang tersebut sebagai sasaran yang sah untuk semua maksud dan tujuan militer.
Hirsch menambahkan kelompok teroris di Gaza sengaja memanfaatkan status jurnalistik yang hanya diperuntukkan bagi personil sipil.

Daftar militan Hamas yang berisi nama-nama anggota yang mendapat pelatihan militer termasuk yang berkedok sebagai wartawan. (ynetnews)
Penelitian tersebut mendokumentasikan beberapa kasus di mana para pelaku dengan peran ganda ini, sudah menerima informasi lebih dulu tentang akan ada serangan 7 Oktober 2023 ke Israel.
Para jurnalis itu malah ikut menemani para teroris untuk memberikan liputan langsung tentang serangan tersebut.
Jurnalis teroris
Para ahli mengatakan, pada tahun 2024 seorang fotografer Palestina, yang menyeberang ke Israel pada tanggal 7 Oktober 2023 telah melakukan kejahatan perang.
Hirsch menegaskan, tentu saja, perusahaan media seharusnya tidak mempekerjakan teroris, dan mereka perlu melakukan uji tuntas untuk memastikan mereka yang dipekerjakan di zona pertempuran bukanlah teroris.
“Tetapi sayangnya, ada elemen seperti Al-Jazeera, yang merupakan organisasi di negara yang mendukung terorisme dan Hamas. Al-Jazeera memiliki masalah karena memasukkan teroris Hamas sebagai ‘jurnalis’,” tambah Hirsch.
Studi tersebut menyimpulkan fenomena peran ganda ini merusak kepercayaan terhadap personel media dan kredibilitas laporan mereka. Bahkan mengubah status jurnalis menurut hukum internasional dan membahayakan diri mereka.
Agen militer teroris
Israel Defense Forces (IDF) atau Pasukan Pertahanan Israel telah mengungkapkan informasi intelijen dan sejumlah dokumen yang ditemukan di Gaza, tentang afiliasi militer enam jurnalis Al Jazeera dengan militan Hamas dan organisasi teroris Jihad Islam.
Mereka adalah: Anas Jamal Mahmoud Al-Sharif, Alaa Abdul Aziz Muhammad Salama, Hossam Basel Abdul Karim Shabat, Ashraf Sami Ashour Saraj, Ismail Farid Muhammad Abu Omar, dan Talal Mahmoud Abdul Rahman Aruki.
Jurnalis sekaligus teroris Ismail Farid Muhammad Abu Omar tertembak dan terluka beberapa bulan lalu di Gaza.
Dokumen-dokumen tersebut sekali lagi menegaskan keterlibatannya dalam kegiatan terorisme. Jaringan Al Jazeera telah berupaya untuk menjauhkan diri dari aktivitas teror Omar.
Dokumen-dokumen tersebut mencakup tabel kepegawaian, daftar kursus pelatihan teroris, direktori telepon, dan dokumen gaji para teroris.
Semua ini memberikan bukti yang tak terbantahkan, individu-individu ini bertugas sebagai agen militer untuk organisasi teroris di Gaza.
Dokumen-dokumen ini berfungsi sebagai bukti integrasi teroris Hamas ke dalam jaringan media Al Jazeera Qatar.
Sebagian besar jurnalis yang diungkap IDF adalah agen sayap militer Hamas, yang memimpin propaganda Hamas di media Al Jazeera, terutama di Gaza utara.(P-Jeffry W)

