Pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi diduga sudah meninggal dalam penjara

Jeffry Wuisan
Jumat, 19 Desember 2025
3 menit membaca

PRIORITAS, 19/12/25 (London): Pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi, diduga sudah meninggal dalam  penjara di negeri itu, karena tidak terlihat selama bertahun-tahun. Suu Kyi sengaja ditahan pemimpin militer Myanmar, setelah pemerintahannya dikudeta tahun 2021 lalu.

Putra Aung San Suu Kyi,  Kim Aris, menuntut pemerintah militer Myanmar menunjukkan bukti jika ibunya masih hidup. “Ibu saya mungkin sudah meninggal,  karena sejak dipenjara ia tidak terlihat selama bertahun-tahun”, kata Kim Aris, seperti dikutip Beritaprioritas.com, hari Jumat (19/12/25).

Menurut Aris, tidak ada yang mendengar kabar dari ibunya yang berusia 80 tahun, padahal ia telah menderita berbagai masalah kesehatan di usia tuanya, selama dua tahun terakhir.

Ia memperingatkan pemerintah militer Myanmar yang telah bertahun-tahun melakukan isolasi dan pemblokiran informasi,  telah membuatnya khawatir hal terburuk terjadi pada ibunya, Aung San Suu Kyi di dalam penjara.

“Selama dua tahun terakhir kami hanya menerima informasi dan perkembangan kesehatan ibu dari pihak lain”, katanya. Bahkan tim pengacara Aung San Suu Kyi pun tidak diizinkan untuk bertemu dengannya.

Hukuman rekayasa

Suu Kyi, peraih Hadiah Nobel Perdamaian dan simbol lama gerakan pro-demokrasi Myanmar, telah ditahan dan diisolasi militer setelah pemerintahannya yang terpilih secara demokratis, digulingkan dalam kudeta militer tahun 2021.

Penahanannya menjadi subjek film dokumenter Independent TV baru-baru ini, Cancelled: The Rise and Fall of Aung San Suu Kyi.

Pada tahun 2022, setelah persidangan yang secara luas dianggap bermotivasi politik, Suu Kyi malah dijatuhi hukuman 33 tahun penjara atas serangkaian tuduhan yang direkayasa.

Aris, seorang warga negara Inggris yang selama beberapa tahun terakhir tidak terlalu menonjolkan diri, berada di Jepang untuk bertemu dengan berbagai politisi dan pejabat pemerintah.

Ia menyerukan kepada pemerintah asing untuk mendesak pembebasan ibunya, Suu Kyi, dan mengambil sikap yang lebih tegas terhadap junta Myanmar.

Putra pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi, Kim Aris, curiga ibunya sudah meninggal dalam penjara militer.(theindependent)

Ia memimpin aksi protes di luar kedutaan Myanmar di Tokyo bersama para pendukungnya yang menuntut pembebasan Suu Kyi.

Demonstrasi tersebut diadakan untuk memprotes rencana junta militer untuk melanjutkan tahap pertama pemilihan umum (Pemilu) pada 28 Desember 2025, yang menurut para kritikus tidak akan bebas dan adil.

Pemilu Myanmar dituding merupakan upaya militer, untuk melegitimasi kekuasaannya setelah merebut kekuasaan dari pemerintahan terpilih Suu Kyi pada Februari 2021.

Jantung memburuk

Aris, yang telah aktif berkampanye untuk pembebasan ibunya, sebelumnya mengatakan kepada The Independent,  Suu Kyi menderita kondisi jantung yang memburuk dan telah meminta untuk menemui ahli jantung dari luar penjara.

Ia mengatakan ibunya membutuhkan perawatan medis segera,  dalam permohonan untuk membebaskannya dari apa yang disebutnya sebagai penahanan yang “kejam dan mengancam jiwa”

Seorang juru bicara militer Myanmar mengatakan kepada media pemerintah,  kesehatan Aung San Suu Kyi “baik”, dan malah menyebut laporan tentang kesehatannya sebagai “rekayasa”.

Suu Kyi diyakini ditahan dalam isolasi di Naypyidaw, ibu kota Myanmar.

Ia telah beberapa kali ditahan militer dan menghabiskan sekitar 15 tahun, sebagian besar di bawah tahanan rumah, sebelum kudeta tahun 2021.

Aung San Suu Kyi adalah putri dari pahlawan kemerdekaan Myanmar, Jenderal Aung San.

Ia terpilih untuk memimpin pemerintahan sipil negara itu, setelah partainya, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), menang telak dalam pemilihan umum tahun 2015.(P-Jeffry W)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025