
Hidupkan ekonomi desa dengan wisata kreatif. (Courtesy: Antara)PRIORITAS, 1/10/26 (Jakarta): Kementerian Pariwisata (Kemenpar) sedang gencar mendorong pelaku usaha pariwisata untuk menyediakan paket wisata pengalaman batik guna memikat wisatawan mancanegara (wisman).

Langkah strategis ini mengintegrasikan potensi budaya lokal ke dalam program Desa Wisata Budaya dan Desa Wisata Batik untuk menghidupkan ekonomi perajin daerah.
Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, menyatakan hal itu di Jakarta, Rabu (30/9/26). Ia menekankan bahwa tren liburan global saat ini telah bergeser ke arah kegiatan pariwisata yang menghadirkan pengalaman mengesankan (experiential tourism).
“Potensi batik sangat menarik karena batik bukan sekadar produk, tetapi juga proses dan filosofi hidup. Ini yang disebut UNESCO sebagai warisan budaya takbenda sejak 2009,” kata Made, sebagaimana dilansir dari Antara.

Kemenpar mendorong agen perjalanan dan operator tur untuk mulai memasukkan kampung batik ke dalam rencana perjalanan (itinerary) resmi.
Paket layanan pariwisata yang direkomendasikan meliputi Lokakarya Singkat (Workshop): Belajar membatik interaktif selama dua jam, Tur Setengah Hari: Kunjungan langsung ke pusat produksi batik local, dan Pengalaman Menginap (Live-In): Tinggal beberapa hari di sentra batik bersama perajin setempat.

Aksi membatik massal di Solo. (Courtesy: Antara)
Dikatakan, melalui pendekatan ini, wisman dapat menikmati sensasi berjalan kaki menyusuri gang kampung, berkunjung ke rumah perajin, serta melihat langsung proses mencanting, pewarnaan, hingga penjemuran kain.
Aktivitas slow tourism ini diyakini membuat wisatawan tinggal lebih lama (longer stay) dan meningkatkan belanja produk lokal.
Diungkapkan, daya tarik filosofi dan keahlian batik ini terbukti memikat berbagai segmen pasar internasional
Di Asia Tenggara, khususnya Malaysia, Singapura dan Thailand), tertarik karena faktor kedekatan budaya.
Di Asia Timur, yaitu Jepang dan Korea Selatan, mengagumi keahlian tangan (craftsmanship) dan detail yang rumit.
Kemudian di Eropa (Belanda, Jerman, Prancis), mereka menyukai narasi budaya dan konsep slow fashion.
Selanjutnya di Amerika dan Australia, tertarik pada cerita sejarah di balik motif batik.
“Wisatawan yang paham filosofi akan lebih menghargai harga batik tulis,” tambah Made.
Untuk mendukung ekosistem tersebut, pemerintah memberikan pelatihan intensif kepada pengelola desa wisata. Pelatihan tersebut mencakup manajemen penginapan (homestay), pemasaran digital, pembuatan e-katalog, serta penerapan sertifikasi Kebersihan, Keamanan, Kesehatan, dan Kelestarian Lingkungan (CHSE).
Selain peningkatan fasilitas, Kemenpar juga menyoroti pentingnya aspek regenerasi guna menghadirkan lebih banyak perajin batik muda untuk menjaga keberlanjutan industri kreatif ini.
Saat ini, Kemenpar merekomendasikan sejumlah daerah sebagai tujuan utama wisata batik, seperti Pekalongan, Solo, Sragen, Yogyakarta, Cirebon, Madura, dan Jambi.
Ada pun beberapa titik yang menjadi percontohan utama antara lain Solo di Kampung Batik Kauman dan Laweyan, Yogyakarta di Desa Wisata Batik Giriloyo, Pekalongan di Kampung Batik Pesindon dan Kauman, Cirebon di Desa Wisata Batik Trusmi, serta Rembang di Kampung Batik Lasem.
Promosi berskala masif juga terus digalakkan baik di dalam maupun luar negeri melalui kampanye #DiIndonesiaAja dan Wonderful Indonesia.
Dibeberkan, acara besar seperti Festival Batik Pekalongan dan Solo Batik Carnival bahkan telah masuk ke dalam kalender agenda unggulan nasional, Kharisma Event Nusantara (KEN). (P/Ant/ht)

