Sebanyak 1.598 gempa susulan guncang NTT, stok makanan pengungsi menipis

Zamir Ambia
Senin, 17 Agustus 2026
Bencana DAERAH 0 295
2 menit membaca

PRIORITAS, 17/8/26 (Jakarta): Warga terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih bertahan di posko pengungsian hingga Senin (17/8/2026). Aktivitas gempa susulan membuat warga belum berani kembali ke rumah.


Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 1.598 gempa susulan di NTT sejak gempa kuat mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu (15/8/2026).

Kepala BMKG Faisal Fathani mengatakan pihaknya masih memantau aktivitas gempa susulan. Pemantauan mencakup perkembangan magnitudo dan frekuensi gempa.

“Gempa susulan terus kita pantau. Sampai dengan jam 7.00 Wita hari ini telah tercatat 1.598 gempa susulan, dengan terbesar berkekuatan magnitudo 6,2 dan yang terkecil magnitudo 1,3. Kemudian, yang dirasakan kira-kira 54 gempa,” ucap Faisal.


Aktivitas gempa diprediksi menurun

BMKG memperkirakan aktivitas gempa susulan di NTT akan berangsur menurun dalam 2–3 minggu mendatang. Warga masih memilih bertahan di pengungsian hingga kondisi dinilai aman.

“Kita masih terus memantau terkait dengan peluruhannya, kemungkinan dalam 2-3 minggu ke depan dia akan meluruh, sehingga kita mulai dapat melakukan retrofitting atau pembangunan kembali jika dibutuhkan,” tuturnya, dikutip dari Beritasatu.

Selama proses tersebut, warga terdampak masih membutuhkan tempat berlindung yang aman. Mereka juga memerlukan makanan dan layanan kesehatan selama masa tanggap darurat.

Stok makanan pengungsi mulai menipis

Persediaan makanan menjadi salah satu kebutuhan pengungsi yang mulai berkurang. Selain pangan, warga membutuhkan perlengkapan bayi dan obat-obatan di lokasi penampungan.

Warga masih bertahan di tenda pengungsian pascagempa mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (17/8/26). (Beritasatu.com)

“Stok makanan sudah mulai berkurang. Ada ibu-ibu dan bayi juga yang sakit, tidak mendapatkan perawatan medis,” kata Rofinus, warga Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai.

Kondisi tersebut membuat kebutuhan bantuan semakin mendesak. Penyaluran bantuan diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga selama masih berada di pengungsian.

53 orang meninggal akibat gempa

Gempa kuat mengguncang Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (15/8/26). Bencana tersebut menyebabkan korban jiwa dan kerusakan bangunan. Ribuan warga juga harus mengungsi di sejumlah wilayah terdampak.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan perkembangan jumlah korban hingga Minggu (16/8/26). Sebanyak 53 orang meninggal dunia dan 135 lainnya mengalami luka-luka.

“Total kami mencatat 53 jiwa meninggal dunia dengan perincian satu korban jiwa di Kabupaten Manggarai Barat, 20 korban jiwa di Kabupaten Manggarai Timur, 25 korban jiwa di Kabupaten Manggarai, satu korban jiwa di Nagekeo, empat korban jiwa di Sikka, dan dua korban jiwa di Ende,” imbuh Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari dalam konferensi pers, Minggu (16/8/26).

Seiring gempa susulan yang masih terjadi, penyaluran bantuan menjadi bagian penting dalam penanganan bencana di NTT. Bantuan tersebut mencakup pangan, layanan medis, serta perlengkapan bagi kelompok rentan, termasuk bayi. (P-Zamir)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan