
Anne Hathaway di Premiere “Mother Mary” di London, Inggris, 23 April 2026. (Courtesy: WireImage)PRIORITAS, 17/8/26 (AS): Aktris film Hollywood, Anne Hathaway, membuktikan bahwa red carpet bukan sekadar soal gaun indah. Sepanjang 2026, penampilannya ikut merefleksikan empat karakter perempuan kuat yang ia hadirkan lewat film-film yang tayang di bioskop tahun ini.

Tahun 2026 menjadi salah satu tahun tersibuk dalam karier Anne Hathaway. Aktris peraih Oscar itu tampil dalam sejumlah film besar dengan karakter perempuan yang memiliki latar dan kekuatan berbeda. Mulai dari drama musikal “Mother Mary”, “The Devil Wears Prada 2”, “The Odyssey”, hingga film fiksi ilmiah “The End of Oak Street”.
Menariknya, kesibukan tersebut juga terlihat dari perjalanan fashion Hathaway di berbagai red carpet. Bersama stylist Erin Walsh, Hathaway tidak sekadar berganti gaun untuk setiap premiere.
Penampilannya justru terasa seperti memiliki identitas visual masing-masing, seolah setiap busana menjadi perpanjangan dari karakter dan cerita yang sedang ia bawa.

Hasilnya adalah salah satu rangkaian red carpet paling menarik dari Hathaway dalam beberapa tahun terakhir, sebagaimana diterjemahkan dari deadline.com, sebuah media yang terbit di Los Angeles, California, AS, pekan ini.
Perjalanan fashion Hathaway tahun ini dimulai dari “Mother Mary”. Dalam film arahan David Lowery tersebut, ia memainkan seorang superstar pop yang berada di tengah krisis pribadi dan harus berhadapan dengan masa lalu serta kehidupannya sebagai figur publik.
Pada world premiere film di New York, Hathaway tampil dalam gaun ethereal rancangan Lever Couture yang dibuat dari rangkaian mesh transparan. Siluetnya dramatis sekaligus sensual, sangat berbeda dari kesan klasik dan princess-like yang selama ini melekat pada dirinya.
Pilihan tersebut terasa tepat untuk karakter Mother Mary: seorang perempuan yang hidup di bawah sorotan, tetapi sedang berusaha menemukan kembali dirinya sendiri.
Fashion Hathaway dalam tur promosi film ini juga bermain dengan estetika naked dressing dan siluet yang lebih berani. Ia seolah menggunakan busana bukan hanya untuk terlihat cantik, tetapi untuk membangun persona seorang bintang pop yang memiliki kontrol penuh atas citranya.
Di sini, Hathaway memperlihatkan sisi perempuan yang berani mengambil ruang, menentukan citra dirinya sendiri, dan tidak takut terlihat berbeda.

Premiere “The Devil Wears Prada 2” di New York, AS, 20 April 2026. (Courtesy: Getty Images via Vogue)
Jika ada film yang paling dekat dengan fashion, tentu The Devil Wears Prada 2. Hampir dua dekade setelah Andy Sachs pertama kali masuk ke kantor Runway, Hathaway kembali mengenakan karakter yang membuat namanya semakin identik dengan dunia fashion.
Kali ini, wardrobe Hathaway selama press tour juga menjadi permainan menarik antara karakter Andy dan identitas Anne Hathaway.
Di berbagai kota, ia memberikan penghormatan kepada Andy melalui sejumlah busana. Salah satunya adalah penampilan dengan thigh-high boots Stella McCartney di Mexico City, yang mengingatkan pada transformasi Andy dalam film pertama.
Di Tokyo, ia tampil dengan knit off-the-shoulder Sacai yang menggemakan sweater biru ikonik Andy.
Namun, salah satu penampilan paling mencuri perhatian terjadi di premiere New York. Hathaway muncul dalam custom Louis Vuitton berwarna merah, lengkap dengan corset, pointed cups, rok berstruktur, sepatu platform merah, dan perhiasan Bvlgari.
Merah tentu menjadi pilihan yang tepat untuk film yang memiliki kata “Devil” dalam judulnya. Tetapi lebih dari itu, penampilan tersebut terasa seperti pernyataan bahwa Andy Sachs bukan lagi perempuan muda yang mencari validasi di dunia fashion.

Anne Hathaway di premiere film “‘The Odyssey” di New York City, AS, 14 Juli 2026. (Courtesy: FilmMagic)
Memasuki The Odyssey, bahasa fashion Hathaway berubah total. Jika “The Devil Wears Prada 2” memberinya kesempatan bermain dengan fashion modern dan editorial, tur promosi “The Odyssey” membawanya ke arah yang lebih lembut, klasik, dan terinspirasi estetika Yunani.
Dalam film Christopher Nolan tersebut, Hathaway berperan sebagai Penelope, ratu Ithaca dan istri Odysseus. Nuansa karakter tersebut terasa tercermin dalam pilihan busananya di berbagai premiere.
Di London, Hathaway mengenakan gaun Dior biru muda dengan siluet empire waist dan lipit yang jatuh lembut hingga ke lantai. Potongan tersebut tidak hanya terlihat elegan, tetapi juga memberikan ruang bagi baby bump Hathaway yang saat itu sedang mengandung anak ketiganya.
Sementara di New York, ia tampil dalam custom Prada dengan siluet empire waist, rok plissé, detail kristal pada bagian bodice, serta perhiasan Bvlgari. Look tersebut memberikan kesan seperti dewi Yunani modern.
Yang menarik, kehamilan Hathaway tidak disembunyikan atau dibuat seolah tidak ada. Justru, siluet busana yang dipilih membuatnya menjadi bagian dari penampilan.
Ini menghadirkan gambaran perempuan yang berbeda: kuat bukan berarti harus selalu terlihat keras.
Lewat gaya “The Odyssey”, Hathaway menunjukkan bahwa kelembutan, keanggunan, kematangan, dan maternitas juga bisa menjadi bentuk kekuatan.

Anne Hathaway di premiere film “The End of Oak Street” pada 9 Agustus 2026 di Burbank, California, AS. (Courtesy: Deadline.com)
Babak terbaru dari perjalanan fashion Hathaway tahun ini mungkin menjadi yang paling berani.
Dalam premiere “The End of Oak Street” di Los Angeles, Hathaway tampil dalam kostum Atelier Prabal Gurung berupa atasan satin biru muda dengan bagian depan cropped dan ekor dramatis berwarna merah. Ia memadukannya dengan low-rise jeans, sepatu merah, perhiasan Bvlgari, serta lipstik merah.
Yang membuat penampilan ini semakin kuat adalah Hathaway secara terang-terangan memperlihatkan baby bump-nya.
Pilihan mengenakan cropped top dan low-rise jeans menjadikan kehamilan bukan sesuatu yang harus ditutupi di balik gaun oversized atau siluet tradisional maternity wear. Sebaliknya, tubuhnya justru menjadi bagian dari fashion statement tersebut.
Jika diperhatikan, empat penampilan Hathaway tersebut seperti membentuk satu perjalanan.
“Mother Mary” memperlihatkan perempuan yang berusaha menemukan kembali dirinya.
“The Devil Wears Prada 2” menghadirkan perempuan yang sudah mengetahui nilai dirinya dan tidak lagi mudah didefinisikan orang lain.
“The Odyssey” menunjukkan kekuatan dalam bentuk yang lebih lembut melalui sosok Penelope, sekaligus merayakan tubuh dan maternitas Hathaway.
Sementara “The End of Oak Street” memperlihatkan perempuan yang berani mengambil kendali atas bagaimana tubuh dan identitasnya ditampilkan di hadapan publik.
Benang merahnya adalah perempuan yang memiliki kendali atas dirinya sendiri.
Dan mungkin itulah yang membuat red carpet Hathaway tahun ini terasa lebih menarik daripada sekadar parade gaun desainer. Ia memang mengenakan Prada, Dior, Louis Vuitton, Valentino, hingga Prabal Gurung, tetapi di balik label-label tersebut ada narasi yang konsisten: perempuan tidak harus memilih satu bentuk untuk disebut kuat.
Perjalanan fashion Anne Hathaway tahun ini sepertinya belum akan berhenti di “The End of Oak Street”. Setelah empat film dengan karakter dan nuansa yang begitu berbeda, perhatian berikutnya tertuju pada film kelimanya, Verity, yang dijadwalkan tayang di bioskop pada Oktober 2026.
Dalam film adaptasi novel thriller psikologis karya Colleen Hoover tersebut, Hathaway memerankan Verity Crawford, seorang penulis bestseller yang menjadi pusat misteri cerita. Ia akan beradu akting dengan Dakota Johnson dan Josh Hartnett.
Menariknya, tampilan Hathaway sebagai Verity yang sudah diperlihatkan dalam materi promosi memberikan petunjuk bahwa era fashion berikutnya mungkin akan terasa lebih gelap.
Hathaway tampil dengan rambut lob sebahu, jauh lebih pendek dari gaya rambut panjangnya yang selama ini menjadi salah satu ciri khasnya, serta sejumlah look yang terlihat glamor dan misterius.
Setelah tampil sebagai bintang pop yang penuh konflik di “Mother Mary”, Andy Sachs yang kembali percaya diri di “The Devil Wears Prada 2”, Penelope yang anggun di “The Odyssey”, hingga ibu yang berani dalam “The End of Oak Street”, akan menarik untuk melihat bagaimana Hathaway menerjemahkan sosok Verity Crawford ke dalam fashion red carpet.
Apakah ia akan kembali bermain dengan siluet dramatis, tampil lebih dark dan mysterious, atau justru menghadirkan kejutan fashion lainnya?
Jawabannya baru akan terlihat saat premiere Verity Oktober nanti. (P-*/rwt)

