Anggota Dewan Dewan Kehormatan DPP Partai Golkar, Theo L. Sambuaga. (Courtesy: Beritasatu.com)PRIORITAS, 27/10/25 (Jakarta): Tokoh senior Partai Golkar, Theo L. Sambuaga, menganggap pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada almarhun Presiden Soeharto sudah tepat. Setiap pemimpin, kata Theo, pasti pernah membuat kesalahan, tapi itu tidak akan mengurangi prestasi yang dibuat.
Seperti diberitakan sebelumnya, nama Presiden ke-2 RI, Soeharto, ada di antara 40 tokoh yang diusulkan Menteri Sosial Saifullah Yusuf untuk mendapat anugerah Pahlawan Nasional pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 2025. Selain Soeharto, nama Presiden keempat RI, Abdulrahman Wahid, juga ada di daftar yang diusulkan Mensos.
Berkas 40 nama tokoh tersebut, kata Mensos pada Kamis (23/10/25), sudah diserahkan kepada Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan (GTK) yang dijabat Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Keputusan atas usulan tersebut berada di tangan Presiden Prabowo Subianto.
Theo Sambuaga menguraikan alasan kenapa Soeharti sudah tepat mendapat anugerah Pahjlwan Nasional. Ia memulai dari catatan prestasi menonjol kepemimpinan presiden pertama RI, Sukarno, selama lebih dari 20 tahun.
Ia, kata Theo, berhasil mempertahankan kemerdekaan RI dari berbagai rongrongan, baik dari dalam maupun luar negeri. Sukarno juga berhasil mempersatukan bangsa, serta berjuang di arena internasional dalam turut memperjuangkan kemerdekaan negara-negara terjajah pada kurun waktu 1940an-1960an.
Sementara presiden kedua RI, Soeharto, mencatat prestasi pelaksanaan pembangunan infrastruktur dan ekonomi sampai ke daerah-daerah pelosok, serta meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan nasional.
“Jadi, sudah tepat penganugerahan gelar Pahlawan Nasional bagi almarhum Presiden Soeharto,” tegas Theo L. Sambuaga yang merupakan anggota Dewan Kehormatan DPP Partai Golkar, menjawab pertanyaan wartawan di Jakarta, Senin (27/10/25).
Fakta sejarah
Ia pun tidak menutup mata tentang fakta sejarah RI. “Setiap pemimpin, baik skala besar maupun kecil, pasti pernah membuat kesalahan di tengah berbagai prestasi yang diukirnya,” ujarnya.
Dikatakannya, adanya pendapat sebagian masyarakat yang tidak menyetujui pemberian gelar Pahlawan Nasional bagi almarhum Presiden Soeharto dengan alasan adanya kesalahan-kesalahan yang pernah dibuatnya, patut dihargai. “Tetapi hal itu sama sekali tidak mengurangi prestasi beliau yang memimpin dan membangun bangsa selama lebih dari 30 tahun,” ungkap Theo.
Lebih lanjut ia mengatakan, penganugerahan gelar Pahlawan Nasional perlu juga diberikan kepada almarhum BJ Habibie, Presiden ketiga RI, dan almarhum Abdulrahman Wahid (Gus Dur), Presiden keempat RI.
Menurut Theo, meskipun masa kepemimpinan Presiden ketiga dan keempat terbilang singkat, 2-3 tahun, prestasi Presiden BJ Habibie dalam mejaga stabilitas ekonomi dan melanjutkan pembangunan nasional di tengah gempuran krisis moneter/ekonomi dunia saat itu, sangat menonjol.
Sementara pretasi menonjol Gus Dur adalah mempertahankan momentum pembangunan nasional dan menjaga persatuan bangsa di tengah kerasnya isu dan gejolak serta potensi konflik berdasarkan sentimen perbedaan ras, keturunan dan etnis .
Theo Sambuaga yang juga adalah Ketua Dewan Kehormatan DPP Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) mendorong agar pemerintah juga menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Alm. Ch. Ch. Taulu. Pejuang kemerdekaan asal Sulawesi Utara tersebut, kata Theo, mempertaruhkan nyawanya dalam berjuang mempertahankan kemerdekaan di daerah Jawa Barat. (P-ht)
No Comments