
Sulawesi Utara menjadi sorotan di panggung keneragaraan, dari Miangas hingga ibu Thelma Hunena. (‘Courtesy’ FB/Audy Pangemanan)PRIORITAS, 14/08/26 (Manado): Sulawesi Utara mendapat sorotan khusus dalam rangkaian Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI 2026 di Jakarta, Jumat (14/8). Nama, budaya, wilayah, hingga warga Sulawesi Utara muncul dalam rangkaian penyampaian kinerja negara menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Audy Pangemanan, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Provinsi Sulawesi Utara menulis hal menarik di akun media sosialnya. Melalui unggahannya di media sosial itu ia mencatat sedikitnya empat hal yang membawa nama Sulawesi Utara ke panggung kenegaraan.
Keempatnya yakni budaya Mapalus dari Minahasa, pembangunan di Pulau Miangas, SMA Taruna Nusantara Kampus Langowan di Minahasa, serta kisah Ibu Thelma dari Kelurahan Malendeng, Kota Manado.
Ketua DPD RI Sultan B. Najamudin mengangkat Mapalus sebagai salah satu nilai luhur daerah dalam pidato pengantar Sidang Tahunan MPR RI.

Bagi masyarakat Minahasa, Mapalus bukan sekadar istilah untuk menggambarkan gotong royong. Tradisi tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Mapalus mengajarkan masyarakat untuk saling membantu, menopang dan bekerja bersama ketika menghadapi berbagai tantangan.
Nilai tersebut kemudian mendapat relevansi dengan pesan Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya. Presiden menegaskan bahwa tidak ada seorang presiden pun yang mampu membangun Indonesia seorang diri.
Menurut Presiden, bangsa Indonesia harus membangun negara melalui semangat gotong royong.
Karena itu, penyebutan Mapalus di forum kenegaraan membawa pesan bahwa nilai lokal Minahasa memiliki semangat yang sejalan dengan kebutuhan pembangunan Indonesia.
Nama Sulawesi Utara juga muncul melalui Pulau Miangas di Kabupaten Kepulauan Talaud. Pulau tersebut memiliki posisi strategis karena berada di wilayah terluar Indonesia dan berbatasan langsung dengan kawasan Filipina. Miangas sekaligus menjadi salah satu simbol kedaulatan Indonesia di kawasan Pasifik.
Presiden Prabowo Subianto mengunjungi Miangas pada 9 Mei 2026. Dalam kunjungan tersebut, Presiden menyebut dirinya sebagai presiden kedua yang datang langsung ke pulau tersebut setelah Presiden Joko Widodo.
Presiden melihat langsung kondisi sekolah, puskesmas, konektivitas dan kehidupan masyarakat setempat.
Pemerintah juga menyiapkan pembangunan desa nelayan modern dengan fasilitas pembuatan es, cold storage dan SPBU khusus nelayan.
Selain itu, pemerintah menyerahkan kapal ikan berkapasitas 15 GT serta mendorong peningkatan akses pemasaran hasil perikanan melalui keberadaan Bandara Miangas.
Penguatan jaringan komunikasi juga menjadi perhatian pemerintah. Pemerintah memasukkan sektor pendidikan dan kesehatan dalam agenda peningkatan pelayanan bagi masyarakat pulau terluar.
Pesan dari pembangunan Miangas sangat jelas. Negara harus hadir hingga ke wilayah terluar dan memastikan masyarakat memperoleh manfaat pembangunan.
Jejak ketiga Sulawesi Utara muncul melalui pembangunan SMA Taruna Nusantara Kampus Langowan di Kabupaten Minahasa.
Pembangunan sekolah tersebut menjadi bagian dari perhatian pemerintah terhadap pengembangan sumber daya manusia unggul.
Presiden Prabowo sebelumnya menyebut pembangunan sejumlah kampus SMA Taruna Nusantara, termasuk di Sulawesi Utara, ketika meresmikan SMA Taruna Nusantara Kampus Malang pada Januari 2026.
Pembangunan Kampus Langowan kemudian terus berjalan. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi meninjau proyek tersebut pada akhir Mei 2026. Sementara Menteri Luar Negeri Sugiono meninjau pembangunan tersebut pada Juni 2026.
Kehadiran SMA Taruna Nusantara di Langowan tidak sekadar menghadirkan sebuah kompleks pendidikan baru di Minahasa. Sekolah tersebut justru berpotensi menjadi salah satu pusat pendidikan yang menyiapkan calon pemimpin Indonesia dari berbagai daerah.
Dengan demikian, Minahasa tidak hanya mengirim putra-putrinya untuk menempuh pendidikan di berbagai pusat pendidikan nasional. Kini, salah satu pusat pendidikan unggulan nasional juga hadir di tanah Minahasa.

Ibu Thelma Humena. (‘Courtesy’ Audy Pangemanan/Badan Komunikasi Pemerintah)
Jejak keempat datang dari Kota Manado melalui kisah Ibu Thelma dari Kelurahan Malendeng. Ibu Thelma menjadi salah satu warga yang merasakan manfaat program bantuan perumahan pemerintah di Sulawesi Utara.
Kisah tersebut menunjukkan sisi lain pembangunan nasional. Pembangunan tidak hanya berbicara tentang nilai anggaran, jumlah proyek atau angka pertumbuhan ekonomi. Pembangunan pada akhirnya harus memberikan perubahan nyata bagi kehidupan masyarakat.
Bagi keluarga sederhana, rumah layak tidak sekadar menjadi bangunan fisik. Rumah memberikan rasa aman, tempat keluarga bertumbuh sekaligus menjadi bagian dari martabat keluarga.
Karena itu, tampilnya kisah warga Manado dalam materi forum kenegaraan memberikan pesan bahwa pembangunan memiliki wajah dan nama.
Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya kehadiran pemerintah agar rakyat tidak merasa sendirian dan dapat merasakan manfaat keberadaan negara.
Empat jejak tersebut membawa pesan berbeda tetapi memiliki satu benang merah.
Mapalus berbicara tentang budaya dan semangat gotong royong. Miangas menggambarkan kedaulatan sekaligus pemerataan pembangunan.

Sementara itu, SMA Taruna Nusantara Langowan berbicara tentang pendidikan dan investasi sumber daya manusia. Kisah Ibu Thelma menggambarkan pembangunan yang menyentuh langsung kesejahteraan keluarga.
Budaya, kedaulatan, pendidikan dan kesejahteraan akhirnya bertemu dalam satu daerah, yakni Sulawesi Utara.
Penyebutan Sulawesi Utara dalam forum kenegaraan tersebut karena tidak hanya menjadi alasan untuk berbangga.
Perhatian pemerintah pusat juga membawa tanggung jawab bagi pemerintah daerah untuk mempercepat kerja, memperbaiki pelayanan dan memperkuat koordinasi.
Kebijakan pemerintah pusat akan kehilangan makna jika tidak menghasilkan perubahan nyata di lapangan.
Sebaliknya, kebijakan akan semakin kuat ketika pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat bergerak bersama.
Semangat tersebut kembali membawa Mapalus sebagai nilai penting yang dapat diterapkan dalam pembangunan.
Pusat dan daerah harus bekerja bersama. Pemerintah dan masyarakat harus bergerak bersama. Mereka yang kuat harus membantu yang lemah dan mereka yang berada di depan tidak boleh meninggalkan yang lain.
Dari Miangas di ujung utara Indonesia, negara menegaskan kedaulatannya, dari Langowan di tanah Minahasa, negara menyiapkan generasi pemimpin masa depan. Bahkan dari Malendeng di Kota Manado, pembangunan menyentuh kehidupan keluarga.
Sementara melalui Mapalus, Minahasa kembali mengingatkan Indonesia tentang pentingnya bekerja bersama.
Menurut Audy, yang mantan Sekretaris Daerah Kota Bitung, perhatian Presiden Prabowo terhadap Sulawesi Utara harus dijawab dengan kerja nyata.
Hal tersebut sejalan dengan pesan Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn.) Yulius Selvanus Komaling dan Wakil Gubernur Johannes Victor Mailangkay kepada jajaran pemerintah daerah.
Keduanya mendorong seluruh jajaran bekerja lebih keras dan lebih kompak untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan.
Semangat tersebut kembali pada filosofi Mapalus: saling membantu, saling menopang dan bekerja bersama demi kemajuan bersama. (P-*/sm)

