Kebutuhan kangkung untuk Program Makan Bergizi Gratis Gorontalo Utara tembus 5.000 ikat sekali masak, petani bisa ketiban rezeki

Sem Muhaling
Kamis, 13 Agustus 2026
5 menit membaca

PRIORITAS, 12/8/26 (Gorontalo Utara): Kebutuhan kangkung untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Gorontalo Utara, Gorontalo, tergolong tinggi. Bahkan, satu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) membutuhkan sedikitnya 5.000 ikat kangkung dalam sekali memasak.

Kondisi itu membuka peluang besar bagi petani lokal. Sebab, SPPG masih menghadapi keterbatasan pasokan kangkung darat dari wilayah setempat. Karena itu, pengelola SPPG mulai mendorong kerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).


Sekali masak butuh 5.000 ikat kangkung

Praktisi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Tolango, Kecamatan Anggrek, Mansyur, mengatakan kangkung menjadi salah satu sayuran dengan permintaan tinggi. Ia menyampaikan hal tersebut di Gorontalo Utara, Selasa (11/8/2026). Menurutnya, pihaknya membeli kangkung dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan dapur SPPG. Bahkan, kebutuhan sekali memasak mencapai sedikitnya 5.000 ikat.

“Untuk sekali masak, kami membeli paling sedikit lima ribu ikat kangkung,” kata Mansyur.

Jenis kangkung yang paling banyak diminati ialah kangkung darat. Namun, ketersediaannya di tingkat lokal masih terbatas sehingga SPPG terkadang harus mencari pasokan dari luar. Kondisi ini menjadi peluang bagi petani Gorontalo Utara. Jika produksi meningkat, petani dapat memenuhi kebutuhan dapur MBG sekaligus memperoleh pasar yang lebih pasti.

Kangkung jadi menu favorit

Mansyur mengatakan pihaknya telah melakukan survei terhadap peserta didik penerima manfaat MBG. Hasilnya menunjukkan kangkung menjadi salah satu menu sayuran favorit. Menurutnya, penerima manfaat biasanya menghabiskan kangkung yang tersaji dalam paket makanan. Bahkan, ompreng makanan sering kembali dalam kondisi bersih tanpa menyisakan sayuran.

“Kalau kami sajikan menu sayur kangkung, rata-rata habis dimakan oleh penerima manfaat,” ujarnya.

Kondisi tersebut semakin memperkuat kebutuhan pasokan kangkung untuk dapur SPPG. Karena itu, pihaknya ingin membangun rantai pasok lokal yang mampu memenuhi kebutuhan secara rutin. Langkah tersebut sekaligus dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah. Selain itu, petani lokal memperoleh peluang pasar yang lebih jelas dari program pemerintah.

Dorong BUMDes jadi pemasok utama

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pengelola SPPG berupaya menjalin kerja sama dengan BUMDes. Mereka mendorong BUMDes menggerakkan petani untuk membudidayakan kangkung darat.

“Kami terus mendorong petani yang digerakkan melalui BUMDes untuk menanam dan membudidayakan kangkung darat,” kata Mansyur.

Menurut dia, kangkung menjadi salah satu kebutuhan pangan penting bagi dapur SPPG. Karena itu, pengembangan komoditas tersebut perlu mendapat perhatian dari pemerintah desa dan petani. Jika BUMDes mampu mengelola produksi secara terencana, pasokan kangkung dapat berlangsung lebih stabil. Dengan demikian, petani tidak hanya menanam berdasarkan permintaan pasar umum.

Mereka juga dapat menyesuaikan produksi dengan kebutuhan dapur MBG. Pola tersebut berpotensi menciptakan hubungan usaha yang lebih kuat antara petani, BUMDes, dan SPPG.


Bukan hanya kangkung

Selain kangkung, penerima manfaat MBG juga menyukai sejumlah sayuran lainnya. Kacang panjang, kol, dan wortel termasuk komoditas yang banyak digunakan dalam penyusunan menu.

SPPG juga menyajikan variasi olahan seperti tumis kacang panjang dan laksa. Menurut Mansyur, menu tersebut mendapat respons positif dari penerima manfaat.

“Kami pun menyajikan sayur variasi tumis kacang panjang dan laksa. Olahan sayur ini juga diminati penerima manfaat MBG,” katanya.

Tingginya permintaan berbagai jenis sayuran menunjukkan peluang pasar yang cukup besar. Karena itu, Gorontalo Utara dapat mengembangkan sentra hortikultura untuk mendukung kebutuhan MBG. Pengembangan tersebut dapat memperkuat ekonomi desa. Petani memperoleh pasar, BUMDes mendapat peluang usaha, sedangkan dapur SPPG memperoleh pasokan lebih dekat.

Sayuran masih banyak dari luar

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Gorontalo Utara Ajuba Thalib mengatakan pasokan sayuran masih bergantung pada daerah lain. Pedagang biasanya mendatangkan sayuran dari Kabupaten Gorontalo dan Minahasa, Sulawesi Utara. Menurutnya, kegiatan budidaya sayuran di Gorontalo Utara masih tergolong sedikit. Karena itu, pasokan lokal belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat ketika permintaan meningkat.

Akibatnya, pedagang dan konsumen harus mengambil pasokan dari luar daerah. Kondisi tersebut juga membuat harga sayuran lebih mudah mengalami kenaikan. Situasi semakin terasa pada musim kemarau. Keterbatasan produksi membuat harga sejumlah sayuran melonjak dibandingkan kondisi normal.

Harga ikut melonjak saat kemarau

Ajuba mengatakan harga sayuran mengalami kenaikan pada musim kemarau. Kangkung menjadi salah satu komoditas yang ikut mengalami peningkatan harga. Harga kangkung sebelumnya berada di kisaran Rp5.000 per tiga ikat. Kini, harga tersebut naik menjadi sekitar Rp5.000 untuk satu ikat.

Kenaikan harga menunjukkan adanya tekanan antara permintaan dan ketersediaan pasokan. Karena itu, peningkatan produksi lokal menjadi salah satu solusi untuk menjaga kestabilan harga. Apalagi, kebutuhan dapur MBG berlangsung secara rutin. Dengan demikian, petani memiliki peluang pasar yang relatif berkelanjutan jika mampu menjaga kualitas dan kontinuitas produksi.

MBG bisa jadi mesin penggerak

Melansir Antara News, tingginya kebutuhan kangkung untuk MBG memberikan peluang baru bagi sektor pertanian Gorontalo Utara. Program tersebut tidak hanya berkaitan dengan penyediaan makanan bergizi bagi peserta didik.

Di sisi lain, MBG dapat menciptakan permintaan baru terhadap produk pertanian lokal. Karena itu, pemerintah desa dan kelompok tani dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk memperluas budidaya sayuran. BUMDes juga dapat mengambil peran sebagai penghubung antara petani dan dapur SPPG. Dengan pola tersebut, BUMDes dapat mengatur produksi, mengumpulkan hasil panen, dan menjaga kontinuitas pasokan.

Jika pola itu berjalan konsisten, kebutuhan 5.000 ikat kangkung sekali masak bukan lagi sekadar tantangan. Justru, kebutuhan besar tersebut dapat menjadi pasar baru yang menguntungkan petani Gorontalo Utara. Pada akhirnya, penguatan produksi lokal dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar daerah. Selain menjaga ketersediaan sayuran, langkah tersebut juga berpotensi menggerakkan ekonomi desa melalui program MBG. (P-Ant/sm)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan