
Pemprov Sulawesi Tengah dan Universitas Alkhairaat (Unisa) Palu menyepakati kerja sama riset penanganan penyakit buah durian (bangkalan) bertepatan dengan kegiatan Merdeka Ekspor Durian Sulawesi Tengah 2026 di Palu, Rabu (12/8/26). (‘Courtesy’ Antara/MOh Ridwan)PRIORITAS, 12/8/26 (Palu): Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menggandeng akademisi untuk mengatasi penyakit bangkalan pada buah durian. Pemprov menggandeng Universitas Alkhairaat (Unisa) Palu melalui kerja sama riset.
Kerja sama tersebut melibatkan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Sulteng bersama Unisa Palu. Riset itu diharapkan menghasilkan solusi untuk melindungi produksi durian dari penyakit bangkalan.
Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid mengatakan bangkalan menjadi persoalan serius bagi petani durian. Hingga kini, petani belum memiliki obat khusus untuk mengatasi penyakit tersebut.

“Bangkalan menjadi momok bagi petani durian, hingga kini belum ada obat-obatan mengatasi penyakit itu,” kata Anwar. Ia menyampaikan hal tersebut dalam acara Merdeka Ekspor Durian Sulawesi Tengah 2026 di Palu, Rabu (12/8/2026).
Menurut Anwar, kerja sama riset dengan Unisa Palu menjadi langkah penting. Pemerintah berharap riset tersebut dapat menemukan penangkal penyakit yang menyerang buah durian.
Selain itu, penyakit bangkalan dapat menekan kualitas buah durian. Karena itu, petani perlu menerapkan sejumlah langkah pengendalian sambil menunggu hasil penelitian.
Petani saat ini melakukan sanitasi kebun untuk menjaga kondisi tanaman. Mereka juga mengatur kelembapan, menerapkan pemupukan berimbang, serta menggunakan fungisida dan biopestisida secara rutin.
Melansir Antara News, Anwar mengatakan petani terus menyampaikan keluhan terkait penyakit bangkalan kepada pemerintah daerah. Karena itu, pemerintah berupaya mencari solusi yang tepat dan berkelanjutan. Langkah tersebut menjadi semakin penting karena pasar durian luar negeri menawarkan peluang besar. China menjadi salah satu pasar yang menjanjikan bagi komoditas durian asal Sulawesi Tengah.
“Kami berupaya mencari solusi mengatasi model penyakit buah tersebut, karena prospek pasar durian saat ini di luar negeri terutama China sangat menjanjikan,” ujarnya.
Menurut Anwar, peluang ekspor harus berjalan bersama peningkatan produksi dan kualitas. Karena itu, petani perlu menerapkan protokol ekspor sejak tahap produksi. Dengan demikian, pemerintah tidak hanya mengejar peningkatan volume produksi. Pemprov juga ingin memastikan kualitas durian memenuhi kebutuhan pasar internasional.
Data Dinas TPH Sulteng menunjukkan potensi durian di daerah tersebut cukup besar. Saat ini, luas kebun durian di Sulawesi Tengah mencapai sekitar 36 ribu hektare. Namun, baru sekitar 12 ribu hektare kebun yang sudah menghasilkan buah. Kondisi itu menunjukkan masih terdapat ruang besar untuk meningkatkan produktivitas durian Sulteng.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, potensi produksi durian Sulteng mencapai 95.140 ton. Produksi tersebut tersebar di seluruh kabupaten dan kota di provinsi tersebut. Kabupaten Poso dan Parigi Moutong menjadi daerah dengan sentra durian terbesar. Karena itu, kedua wilayah tersebut memiliki posisi strategis dalam pengembangan komoditas durian Sulteng.

Anwar menilai data tersebut menunjukkan besarnya potensi hortikultura Sulawesi Tengah. Karena itu, pemerintah terus mendorong pengelolaan komoditas pertanian secara lebih terintegrasi.
Melalui program Berani Panen, Pemprov Sulteng berupaya memperkuat tata kelola hilirisasi pertanian. Pemerintah berharap langkah tersebut dapat meningkatkan nilai tambah produk pertanian.
“Potensi komoditas hortikultura itu sangat besar. Maka melalui program Berani Panen, Pemprov Sulteng terus berupaya memaksimalkan tata kelola hilirisasi pertanian,” kata Anwar.
Menurut dia, hilirisasi dapat membantu komoditas pertanian memberikan kontribusi lebih besar bagi ekonomi daerah. Karena itu, pemerintah perlu memperkuat sektor pertanian dari hulu hingga hilir. Penguatan tersebut mencakup produksi, pengendalian penyakit, peningkatan kualitas, hingga pemasaran. Dengan pola itu, petani tidak hanya menghasilkan buah, tetapi juga memperoleh nilai ekonomi yang lebih besar.
Kerja sama riset penanganan penyakit bangkalan telah ditandatangani Dinas TPH Sulteng dan Unisa Palu. Penandatanganan berlangsung dalam rangkaian kegiatan Merdeka Ekspor Sulteng 2026. Kerja sama tersebut menjadi langkah awal pencarian solusi berbasis penelitian. Pemerintah berharap akademisi dapat membantu menemukan metode pengendalian penyakit yang efektif.
Di sisi lain, petani tetap harus menjaga kualitas buah selama proses riset berlangsung. Sebab, pasar ekspor memiliki standar kualitas yang harus dipenuhi.
Anwar menegaskan kualitas produk harus menjadi perhatian sejak tingkat petani. Setelah itu, pelaku industri perlu menjaga kualitas tersebut hingga produk mencapai pasar.
“Dari tingkat hulu atau petani hingga hilir atau industri harus sejalan, supaya produksi terus berkelanjutan,” ujarnya.
Selain mendorong riset, Pemprov Sulteng juga menyiapkan regulasi khusus untuk komoditas durian. Pemerintah ingin mengatur pengembangan durian secara lebih terarah dan berkelanjutan.
Anwar mengatakan pemerintah juga akan mengatur rekayasa musim panen. Langkah tersebut bertujuan menjaga ketersediaan durian dalam periode yang lebih panjang. Dengan rekayasa musim panen, produksi tidak hanya bergantung pada satu periode tertentu. Kondisi tersebut dapat membantu menjaga pasokan sekaligus memenuhi kebutuhan pasar ekspor.
Karena itu, penanganan penyakit bangkalan menjadi bagian penting dari strategi pengembangan durian Sulteng. Jika riset menghasilkan solusi efektif, petani memiliki peluang meningkatkan kualitas dan produksi. Pada saat yang sama, dukungan regulasi dan hilirisasi dapat memperkuat rantai usaha durian. Dengan sinergi pemerintah, akademisi, petani, dan industri, Sulteng berpeluang memperbesar peran dalam pasar durian nasional dan ekspor. (P-Ant/sm)

