Kemarau panjang mencekik Gurabunga, warga rela berjalan 1 kilometer cari air

Sem Muhaling
Selasa, 11 Agustus 2026
Cuaca DAERAH 0 242
3 menit membaca

PRIORITAS, 10/8/26 (Tidore): Kemarau panjang mulai menyulitkan warga Kelurahan Gurabunga, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara, mendapatkan air bersih. Selama dua bulan terakhir, masyarakat harus mengandalkan mata air Ake Goa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Warga memanfaatkan mata air yang berada di kawasan pegunungan tersebut untuk berbagai keperluan, mulai dari mengambil air minum, mandi, mencuci pakaian, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.

Kondisi itu membuat Ake Goa menjadi salah satu sumber air terpenting bagi masyarakat Gurabunga. Lokasinya memang cukup jauh dari permukiman, tetapi warga memilih sumber tersebut karena lebih mudah dijangkau dibandingkan harus mengambil air ke kawasan perkotaan.

Seorang warga Gurabunga, Gogo, mengatakan masyarakat memilih Ake Goa karena akses menuju sumber air tersebut tidak membutuhkan biaya transportasi seperti ketika warga harus pergi ke kota.

“Torang (kami) memilih di sini karena salah satunya kalau akses ke kota butuh biaya lagi. Kebetulan di sini ada mata air dan jangkauannya lebih dekat dibanding kita ke kota,” ujarnya kepada Antara News.


Berjalan satu kilometer demi air

Untuk mendapatkan air, warga harus menempuh perjalanan sekitar satu kilometer dari permukiman menuju Ake Goa. Mereka membawa jeriken dan wadah penampung air untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Jarak tersebut menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi warga yang harus mengambil air berulang kali. Kondisi jalan menuju sumber air juga belum memadai sehingga perjalanan menjadi semakin sulit.

Meski kemarau berlangsung cukup lama, debit mata air Ake Goa hingga kini masih tergolong mencukupi. Kondisi itu membuat warga tetap menjadikan sumber tersebut sebagai tumpuan utama.

Gogo mengatakan kondisi saat ini masih lebih baik dibandingkan kemarau panjang yang pernah melanda Gurabunga beberapa tahun lalu. Saat itu, kemarau berlangsung hingga sekitar sembilan bulan dan membuat debit air di kawasan Ake Goa menyusut cukup drastis.

“Pada tahun lalu kemarau sempat membuat air sedikit kering di area atau lokasi Ake Goa ini. Kemarau yang terjadi pada beberapa tahun lalu itu cukup lama, kurang lebih sembilan bulan itu yang paling lama,” katanya.

BPBD pasok air bersih

Pemerintah Kota Tidore Kepulauan turut membantu warga menghadapi dampak kemarau. Melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemerintah menyalurkan air bersih menggunakan mobil tangki.

Distribusi tersebut dilakukan secara rutin untuk membantu memenuhi kebutuhan warga selama sumber air dan kondisi cuaca belum kembali normal.

Gogo mengapresiasi dukungan pemerintah daerah karena pasokan air dari mobil tangki membantu mengurangi beban masyarakat di tengah kemarau.

“Alhamdulillah saat ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dalam hal kemarau yang terjadi di Gurabunga ini, mereka turut memberikan dukungan berupa distribusi air bersih menggunakan mobil tangki yang dapat membantu memenuhi kebutuhan warga,” ujarnya.

Namun, warga berharap pemerintah tidak hanya mengandalkan distribusi air tangki. Mereka juga meminta pemerintah memperbaiki akses menuju Ake Goa agar masyarakat lebih mudah mendapatkan air dari sumber tersebut.

Warga minta perbaiki jalan ke mata air

Gogo mengatakan perbaikan akses jalan akan memberikan manfaat besar bagi masyarakat. Selain mempersingkat dan mempermudah perjalanan, jalan yang lebih baik juga akan membantu warga mengangkut air dari sumber mata air menuju permukiman.

“Harapan saya untuk pemerintah, mungkin torang (kami) butuh akses pengaspalan jalan dari kampung menuju ke lokasi sumber mata air ini. Kalau sudah ada jalan, masyarakat tentu lebih gampang untuk mengambil air,” katanya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemarau tidak hanya menghadirkan persoalan ketersediaan air. Infrastruktur menuju sumber air juga menentukan kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan dasar ketika kekeringan melanda.

Bagi warga Gurabunga, Ake Goa menjadi tumpuan penting selama kemarau. Selama debitnya masih bertahan, masyarakat masih memiliki sumber air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Namun, perbaikan akses dan pengelolaan sumber air tetap menjadi kebutuhan mendesak. Langkah tersebut penting agar masyarakat Gurabunga tidak terus menghadapi kesulitan yang sama setiap kali kemarau panjang datang. (P-sm)


Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan