Israel tak mau keluar dari Gaza, tolak rencana Trump

Jeffry Wuisan
Senin, 10 Agustus 2026
4 menit membaca

PRIORITAS, 10/8/26 (Tel Aviv): Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu bersumpah negaranya tetap tidak akan keluar dari kantong Palestina di Jalur Gaza, meski daerah itu sudah hancur lebur dibombardir pasukannya selama hampir tiga tahun.


Netanyahu bahkan menolak rencana perdamaian Gaza yang didukung Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Perdana Menteri Israel mengatakan pasukan militernya tidak akan menarik diri dari Gaza sampai militan Hamas sepenuhnya meletakkan semua senjata.

“Militer Israel tidak akan melakukan penarikan pasukan sampai Hamas benar-benar dilucuti senjatanya,” tegas Netanyahu, dalam rapat Kabinet Israel, hari Minggu (waktu setempat), seperti dirilis Jewish Breaking News.


Menurut Netanyahu, perlucutan itu, harus termasuk penyerahan dan penghancuran semua jenis senjata termasuk senjata berat dan senjata ringan.

Israel juga menolak rencana perdamaian Gaza yang dimotori Donald Trump.

Peta jalan perdamaian yang sudah disepakati militan Hamas pada akhir Juli 2026 itu, terdiri dari 15 poin.

“Israel menolak dokumen 15 poin tersebut,” tandas Netanyahu.

Media Jerusalem Post melaporkan, Netanyahu hanya bersedia
mundur hingga ke Garis Kuning yang masih berada di dalam Gaza.

Serangan balasan

Israel melakukan serangan balasan besar-besaran dan merebut sebagian besar wilayah Jalur Gaza sehari setelah ribuan teroris Hamas, Jihad Islam dan militan Islam lainnya menyerbu Israel selatan 7 Oktober 2023.

Dalam serbuan itu, teroris Hamas dan pendukungnya membantai secara sadis sekitar 1200 orang Israel dan warga negara lain, termasuk menculik 251 orang dan menyandera mereka di sejumlah terowongan bawah tanah di Jalur Gaza.

Israel mengakui peristiwa itu adalah paling memilukan dan tragis dalam sejarah peradaban moderen ini.

Itulah sebabnya, Israel tetap tak mau keluar dari Jalur Gaza, karena khawatir peristiwa berdarah itu bisa terulang, terutama tidak ada yang dapat mengontrol pergerakan teroris Hamas dan pendukungnya.

Hanya dalam 1×24 jam setelah serbuan militan Hamas, Netanyahu memerintahkan pasukan Israel melakukan pembalasan dengan menyerbu Jalur Gaza dari segala penjuru.

Dalam dua tahun, setiap hari pasukan Israel mengebom markas militan Hamas, akibatnya sekitar 81 persen atau 198.273 bangunan di Gaza hancur lebur di antaranya 123.464 hancur total. Sisanya rusak berat dan sedang. (data United Nation per Oktober 2025).

Data terbaru menurut Kementerian Kesehatan Gaza seperti dirilis kantor berita resmi milik Otoritas Palestina, WAFA dan Qatar News Agency (QNA) per 9 Agustus 2026, jumlah korban tewas mencapai sekitar 73.386 orang dengan lebih dari 174.250 orang terluka akibat serangan balasan Israel ke Gaza.

Israel juga menghabisi para pemimpin dan tokoh utama militan Hamas.

Ismail Haniyeh (ketua biro politik Hamas) — tewas 31 Juli 2024 dibunuh di wisma Teheran, saat menjadi tamu di Iran.

Yahya Sinwar (pemimpin Hamas di Gaza, dianggap dalang serangan 7 Oktober 2023 yang sempat menjadi pemimpin tertinggi setelah Haniyeh), tewas dalam serangan Israel 16 Oktober 2024 di Rafah/selatan Gaza.

Saleh al-Arouri (wakil kepala biro politik Hamas, tokoh senior di luar Gaza) — tewas Januari 2024 di Beirut.

Marwan Issa (wakil komandan sayap militer/Al-Qassam Brigades, tokoh kunci operasi) — tewas dihabisi pada Maret 2024 di Gaza.

Mohammed Deif (komandan utama Al-Qassam Brigades) — tewas Juli 2024 di Khan Younis dalam serangan udara Israel.

Mohammed Sinwar (adik Yahya Sinwar, tokoh militer senior yang naik setelah kematian kakaknya) — tewas terkubur dalam terowongan bawah tanah yang ambruk dibom Israel pada Mei 2025 di dekat rumah sakit di Gaza.

Selain itu terdapat puluhan tokoh Hamas lain yang juga tewas diburu Israel seperti Ayman Nofal (komandan brigade pusat, Oktober 2023), Ahmed Ghandour (komandan brigade utara), Rafa/Rafi Salama (komandan Khan Younis, bersama Deif), serta sejumlah komandan senior lainnya seperti Izz al-Din al-Haddad dan Mohammed Odeh.

Trump sahabat Israel

Netanyahu mengatakan tetap berdialog dengan Washington meskipun ada keberatan dari pihak Israel.

Ia menggambarkan Donald Trump sebagai sahabat terbaik Israel di Gedung Putih, istana kepresidenan AS.

“Mereka memiliki gagasan. Beberapa di antaranya dapat diterima oleh kami dan beberapa tidak, dan kami tahu bagaimana mempertahankan pendirian kami dalam hal-hal ini”, jelas Netanyahu.

Pihak Gedung Putih tidak segera memberikan komentar tentang adanya penolakan Israel.

Bulan lalu, Trump mengumumkan telah terjadi terobosan pada peta jalan 15 poin yang bertujuan untuk mengakhiri perang di Jalur Gaza.

Rencana yang disusun Board of Peace (Dewan Perdamaian) bentukan Trump menyerukan agar pasukan Israel menarik diri ketika Hamas menyerahkan senjatanya.

Pasukan Stabilisasi Internasional kemudian akan bekerja bersama dengan pasukan polisi Palestina yang baru untuk mengamankan Gaza.

Hanya disimpan

Hamas yang ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Israel, Amerika Serikat, Uni Eropa , dan beberapa negara lainnya, menghindari penggunaan istilah “pelucutan senjata.”

Militan Hamas mengatakan telah setuju menyerahkan senjata, namun hanya untuk disimpan di bawah pemerintahan teknokrat Palestina dukungan AS, yang akan memerintah Gaza di bawah pengawasan Dewan Perdamaian.

Hamas mengatakan implementasi penyerahan senjata itu pun bergantung pada pemenuhan kewajiban Israel, termasuk penarikan pasukan dan penghentian serangan.

“Kami berharap para mediator dan penjamin Amerika akan menekan Netanyahu dan pemerintahannya untuk mematuhi peta jalan, dan tidak menghalangi proses tersebut karena alasan politik internal dan elektoral,” kata anggota biro politik Hamas, Bassem Naim.

Hamas mengatakan pada hari Minggu bahwa mereka tetap berkomitmen pada peta jalan tersebut. (P-*/jw)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan