Berlandaskan kearifan lokal, ITB dampingi pemulihan pascabencana di Tanjung Pura

Giovanni Riung
Senin, 10 Agustus 2026
KESRA 0 227
3 menit membaca

PRIORITAS, 10/8/26 (Langkat): Bencana alam skala besar yang melanda Sumatera Utara pada November 2025 menjadi momentum penting untuk mereformasi sistem penanganan bencana secara menyeluruh. Pemerintah dan pemangku kepentingan kini mendorong pola penanganan yang tidak hanya cepat dan sistematis, tetapi juga berkelanjutan. Langkah ini krusial mengingat letak geografis Indonesia menyimpan risiko tinggi terhadap bencana alam seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, banjir, hingga tanah longsor.


Dampak bencana yang luas tidak sekadar merusak infrastruktur, tetapi juga berimbas langsung pada kehidupan sosial dan psikologis masyarakat. Kondisi ini berpotensi memicu trauma berkepanjangan bagi para korban. Oleh karena itu, penanganan pascabencana membutuhkan strategi khusus yang menyentuh akar budaya lokal agar penyintas dapat bangkit lebih cepat.

Gandeng OPD Langkat, ITB Gelar Program Pengabdian Masyarakat

Guna menjawab tantangan tersebut, Tim Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar program penanganan pascabencana berbasis kearifan lokal di Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, pada 5—6 Agustus 2026. Dalam kegiatan ini, tim pakar ITB bekerja sama dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) setempat untuk memperkuat kapasitas pelayanan publik dalam situasi krisis.

Adapun tim pengabdian masyarakat ITB ini beranggotakan Dr. Dana Waskita, S.S., M.App.Ling., R.R. Sri Wachyuni, M.Psi., Dr. Tri Sulistyaningtyas, M.Hum., serta Andi Muhammad Yuandana Putra C., S.T., M.B.A. Mereka merancang model pendampingan yang mengintegrasikan aspek psikologis dan nilai-nilai tradisi lokal Sumatera Utara.


Mengangkat Tradisi Marsialapari dan Marsiurupan

Menurut tim penelti, budaya memiliki peran vital sebagai sumber pengetahuan bencana, penguat identitas, dan perekat hubungan sosial. Nilai-nilai kebersamaan yang mengakar pada masyarakat Sumatera Utara memegang kunci penting dalam membangun resiliensi warga.

Beberapa contoh kearifan lokal yang menjadi fondasi program ini adalah tradisi Marsialapari di Tapanuli Selatan dan Marsiurupan yang berakar pada filosofi Dalihan Na Tolu di masyarakat Batak Toba. Kedua tradisi tersebut mengajarkan semangat perjuangan, gotong royong, dan saling membantu dalam menyelesaikan masalah bersama. Melalui nilai persatuan ini, proses pemulihan pascabencana dapat berjalan lebih solid dan efektif.

Pentingnya Komunikasi Efektif dan Pendekatan Psikologis

Selain aspek kultural, tim ITB menekankan pentingnya penggunaan bahasa yang tepat dalam menyampaikan instruksi pemulihan kepada penyintas. Dr. Dana Waskita dan Dr. Tri Sulistyaningtyas menggarisbawahi bahwa aparat lapangan harus menghindari istilah yang terlalu rumit. Sebaliknya, petugas perlu menggunakan bahasa yang sederhana dan komunikatif agar penyintas dapat memahami serta menjalankan langkah pemulihan dengan mudah.

Selanjutnya, program ini menerapkan metode intervensi psikologis secara terpadu. Pelaksanaan kegiatan diawali dengan studi lapangan dan observasi partisipatif untuk memetakan masalah utama. Setelah itu, tim menggelar Focus Group Discussion (FGD) serta merancang pelatihan psikologis yang meliputi training, counseling, coaching, simulasi, hingga gaming. Seluruh rangkaian acara kemudian ditutup dengan workshop dan pendampingan praktis oleh para ahli.

Melalui pendekatan interdisipliner ini, kapasitas OPD dalam menghadapi perubahan dapat meningkat secara signifikan. Hasil akhirnya, aparatur daerah diharapkan mampu memberikan pelayanan publik yang adaptif, tanggap, dan tangguh berbasis kearifan lokal yang berkelanjutan. (P/Gio R)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan