

(Dok. Humas Kemnaker).

PRIORITAS, 10/6/2026 (Jakarta): Menteri Ketenagakerjaan Yassierli memaparkan strategi Indonesia dalam menyiapkan tenaga kerja menghadapi perkembangan kecerdasan buatan (AI), transformasi digital, dan perubahan dunia kerja global pada Sidang Pleno Konferensi Perburuhan Internasional (International Labour Conference/ILC) ke-114 di Jenewa, Swiss.
Dalam forum ketenagakerjaan tertinggi yang diselenggarakan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) tersebut, Yassierli menegaskan pentingnya memastikan pekerja tetap memiliki keterampilan yang relevan, akses terhadap pekerjaan yang layak, serta perlindungan yang memadai di tengah percepatan perubahan teknologi.
Menurut Yassierli, transformasi digital dan perkembangan AI telah mengubah pola kerja, kebutuhan industri, serta kompetensi yang dibutuhkan tenaga kerja di berbagai sektor. Kondisi tersebut menuntut pemerintah untuk memperkuat kebijakan pengembangan sumber daya manusia agar mampu beradaptasi dengan perubahan.

“Perubahan teknologi tidak boleh membuat pekerja tertinggal. Indonesia menyiapkan keterampilan, memperluas peluang kerja, dan memperkuat perlindungan pekerja agar masyarakat tetap memiliki masa depan kerja yang layak,” ujar Yassierli, Selasa (9/6/2026).
Ia menjelaskan, penguatan keterampilan tenaga kerja menjadi salah satu prioritas nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Salah satu program yang dijalankan adalah Program Pemagangan Nasional bagi lulusan perguruan tinggi yang memberikan pengalaman kerja terstruktur selama enam bulan dengan dukungan uang saku dari pemerintah.
Pada tahun lalu, program tersebut menjangkau sekitar 100.000 peserta dan ditargetkan meningkat menjadi 150.000 peserta pada 2026. Selain itu, pemerintah juga menjalankan Program Pelatihan Vokasi Nasional bagi lulusan sekolah menengah atas dan sederajat guna meningkatkan kesiapan memasuki dunia kerja.
Program-program tersebut dirancang secara inklusif dengan memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan, penyandang disabilitas, serta masyarakat yang berada di wilayah terpencil dan perbatasan.
Selain peningkatan keterampilan, pemerintah juga berupaya memperluas penciptaan lapangan kerja melalui sejumlah program strategis nasional. Dalam paparannya, Yassierli menyebut program Makan Bergizi Gratis, Kampung Nelayan Merah Putih, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, food estate, serta proyek hilirisasi sebagai bagian dari upaya menciptakan jutaan lapangan kerja baru di berbagai sektor.
Menurutnya, masa depan dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan tenaga kerja untuk memperoleh kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri serta tersedianya peluang kerja yang produktif dan berkelanjutan.
Di bidang perlindungan pekerja, Indonesia turut memperkuat komitmen terhadap prinsip kerja layak melalui ratifikasi Konvensi ILO Nomor 188 tentang Pekerjaan dalam Sektor Penangkapan Ikan. Langkah tersebut bertujuan meningkatkan perlindungan bagi awak kapal perikanan, termasuk aspek keselamatan, kesehatan kerja, dan kesejahteraan pekerja.
Pemerintah juga terus mengembangkan kebijakan perlindungan bagi pekerja platform digital sebagai respons terhadap pertumbuhan ekonomi digital dan munculnya pola kerja baru berbasis teknologi.
Yassierli menekankan pentingnya dialog sosial antara pemerintah, pengusaha, dan pekerja dalam merumuskan kebijakan ketenagakerjaan yang adaptif dan berkeadilan. Melalui Lembaga Kerja Sama Tripartit Nasional, berbagai pihak terlibat dalam pembahasan regulasi, peningkatan produktivitas, keselamatan dan kesehatan kerja, serta pengembangan pelatihan vokasi.
Dalam kesempatan tersebut, Indonesia juga menyatakan kesiapan untuk memperluas kerja sama dengan ILO dan berbagai mitra internasional dalam pengembangan kurikulum pelatihan vokasi, pembentukan pusat pelatihan bagi penyandang disabilitas, serta penguatan dukungan bagi pekerja yang terdampak pemutusan hubungan kerja.
Selain membahas isu ketenagakerjaan global, Indonesia kembali menyuarakan dukungan terhadap rakyat Palestina melalui dukungan terhadap program tanggap darurat ILO yang bertujuan memulihkan lapangan kerja, mata pencaharian, dan kelembagaan ketenagakerjaan di wilayah terdampak konflik.
Yassierli menegaskan Indonesia akan terus berperan aktif dalam mendorong terwujudnya kerja layak, keadilan sosial, dan kesejahteraan pekerja di tingkat global.
“Indonesia siap bekerja sama dengan ILO dan seluruh pemangku kepentingan untuk memajukan kerja layak, keadilan sosial, dan kesejahteraan bersama. Bersama-sama, kita membangun masa depan kerja yang menghormati martabat pekerja,” kata Yassierli. (P-*r/Humas Kemnaker/Gio R)

