
Batang pepaya bahan tekstil.(Ilustrasi/AI)PRIORITAS, 9/5/26, (Manado): Selama ini, pohon papaya (Carica papaya L.) lebih dikenal karena buahnya yang manis dan daunnya yang kaya manfaat kesehatan. Namun, di balik tekstur batangnya yang lunak dan sering dianggap limbah, tersimpan potensi besar yang bisa merevolusi industri fesyen tanah air: serat alami untuk tenunan ramah lingkungan.

Di tengah meningkatnya kesadaran akan sustainable fashion, batang papaya muncul sebagai kandidat kuat bahan baku masa depan. Struktur batang papaya mengandung serat selulosa yang cukup kuat setelah melalui proses pengolahan tertentu. Pemanfaatan ini menjadi solusi cerdas atas masalah limbah pertanian, di mana pohon yang sudah tidak produktif biasanya hanya dibiarkan membusuk.
Prof. Ir. Kawilarang Warouw Alex Masengi, MSc., PhD, Dosen Program S3 Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi sekaligus Ketua Cagar Biosfir Bunaken Tangkoko Minahasa (MAB-UNESCO), menekankan bahwa inovasi ini selaras dengan prinsip pelestarian lingkungan. Sebagai pakar yang berfokus pada keanekaragaman hayati dan program Man and Biosphere, beliau memandang pemanfaatan serat alam seperti ini sebagai langkah nyata dalam pengembangan industri hijau yang mampu menjaga keseimbangan ekosistem.
Serat dari batang pepaya memiliki karakteristik yang khas. Setelah diekstraksi dan dikeringkan, serat ini memberikan tekstur unik pada kain—perpaduan antara kekuatan serat alam dan kenyamanan bagi pemakainya. Kelebihan utamanya adalah sifatnya yang biodegradable, sehingga kain ini dapat kembali ke bumi tanpa meninggalkan jejak mikroplastik berbahaya.
Peluang industri hijau di Indonesia

Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki keunggulan kompetitif yang besar. Potensi pengembangan ini mencakup:
Pemberdayaan Masyarakat: Petani mendapatkan penghasilan tambahan dari penjualan batang pohon yang sudah tidak berbuah.
Kemandirian Bahan Baku: Mengurangi ketergantungan industri tekstil nasional terhadap serat sintetis atau kapas impor.
Pasar Global: Produk tenunan ramah lingkungan memiliki daya tarik tinggi di pasar internasional yang kini sangat peduli pada isu lingkungan.
Meski potensinya menggiurkan, tantangan besar tetap ada pada proses ekstraksi serat yang masih bersifat manual dan memerlukan sentuhan teknologi agar lebih efisien. Standarisasi kualitas benang menjadi kunci agar hasil tenunan mampu bersaing di pasar ekspor.
Pemanfaatan serat batang pepaya bukan sekadar tren. Dengan dukungan pemikiran dari akademisi seperti Prof. Alex Masengi dan sinergi bersama program UNESCO, inovasi ini menjadi simbol bagaimana kreativitas manusia dapat bekerja selaras dengan alam—mengubah limbah menjadi karya yang indah, berdaya guna, dan berkelanjutan. (P-*r/sm)

