PRIORITAS, 30/4/26 (Jakarta): Pengelola Apartemen Mediterania Tanjung Duren memastikan sistem proteksi kebakaran berfungsi saat insiden di Tower C, Kamis (30/4/26) pagi.
Apartment Manager Mediterania, Anggi Febrianti, menyebut sistem Main Control Fire Alarm (MCFA) mendeteksi titik api sejak awal kejadian, sekitar pukul 07.30 WIB.
“Kondisi awal kejadian hari ini tuh kurang lebih di setengah delapan pagi. Di dalam MCFA kami itu memang mengidentifikasikan adanya kebakaran. Tim kami langsung menuju lokasi untuk melakukan pemadaman dibantu oleh tim Damkar,” tutur Anggi.
Ia memastikan alarm gedung berbunyi dan sistem berjalan normal.
“Dapat saya pastikan itu (alarm) berbunyi. Makanya tim kejadian 07.30 WIB pun sudah langsung on the way ke lokasi. Itu dipastikan semua alarm sistem gedung kita itu berfungsi dengan baik. Boleh dilihat bahwa sampai saat ini pun alarm masih bunyi. Saya juga memiliki video-video sprinkler yang pecah,” lanjut dia.
Menurut Anggi, sistem sprinkler bekerja dengan merespons suhu panas tinggi, bukan asap.
“Sistem proteksi kebakaran itu sprinkler akan pecah pada saat di kondisi lantai yang memang terindikasi adanya panas dengan suhu tertentu. Kalau lantai lain yang tidak mengalami, panasnya tidak sampai di sana, itu tidak akan pecah. Seperti itu sistem kerjanya,” jelasnya.
Ia menambahkan sistem evakuasi, termasuk lift, tetap bisa digunakan petugas saat proses penyelamatan.
Namun, pengalaman penghuni menunjukkan kondisi berbeda. Seorang penghuni, Antonius, mengaku terjebak di unit karena asap pekat dari bawah gedung.
“Iya, sampai oleh Damkar harus divakum karena enggak bisa napas kami. Kami hanya bisa lakukan naik ke lantai 35, enggak bisa turun ke bawah karena asap sudah sangat penuh ya,” kata Antonius.
Ia menuturkan upaya evakuasi mandiri tidak memungkinkan karena akses sudah dipenuhi asap.
“Kami berusaha untuk evakuasi mandiri melalui turun dari tangga darurat maupun lift barang. Ternyata lift barang sendiri sudah dipenuhi sama asap gitu,” ucapnya.
Menurut dia, penghuni akhirnya hanya bisa menunggu bantuan petugas.
“Jadi yang kami lakukan hanya menunggu sampai tim pemadam kebakaran menjemput. Karena kalau kami paksa untuk masuk ke lift barang, itu lift barang isinya asap gitu, kami pasti jatuh pingsan di sana,” katanya.
Ia mempertanyakan efektivitas sistem peringatan kebakaran di lantainya.
“Sprinkler maupun alarm kebakaran tidak bekerja dengan baik, efektif, seperti simulasi kebakaran yang dilakukan oleh tim pemadam kebakaran Jakarta Barat. Nah, itu yang kami sesalkan seperti itu,” ujarnya.
Antonius menambahkan asap dari basement telah menjangkau lantai atas.
“Cuma yang kami bingung itu adalah gini, itu asap kebakaran ini kan sumbernya dari basement. Tapi asap pekat itu sampai ke lantai 28, asapnya sangat hitam, seperti jaraknya cuma berapa meter gitu,” tuturnya. (P-Khalied M)