Promosi Budaya: Sulawesi, ‘Untamed Beauty at the Equator’ KBRI Canberra Australia

Johanes Christiaan
Rabu, 22 April 2026
4 menit membaca

PRIORITAS, 22/4/2026 (Canberra): Kedutaan Besar Republik Indonesia di Australia menyelenggarakan Cultural and Tourisme Promotion Program (CTPP) bertemakan “Sulawesi: Untamed Beauty at the Equator” di Canberra dan mengundang Kawanua Se-Dunia Australia Incorporated (KSD Australia) dari Melbourne untuk berpartisipasi dalam acara ini.


Laporan Marlita Korua langsung dari Canberra, Rabu (22/4/2026) menyebut, kegiatan ini menampilkan pagelaran busana, penampilan musik dan tarian khas dari provinsi-provinsi di Sulawesi, serta menghadirkan beberapa makanan khas Sulawesi selama kegiatan berlangsung.

KBRI Canberra menghadirkan panggung budaya tradisional Sulawesi Utara yang menampilkan musik kolintang oleh KSD Australia dengan lagu-lagu Minahasa, diantaranya “Esa Mokan”, “O Ina Ni Keke” dan “Si Patokaan” dan juga menampilkan Tari Kabasaran yang enerjik dengan diiringi alunan musik perkusi tambor dan kenong.

“Penampilan kolintang dan tari Kabasaran memukau para tamu undungan yang korps diplomatik negara-negara sahabat, pemerintah negara federal Australia dan tamu lokal lainnya,” sebut Marlita dalam laporannya.


Program utama dalam acara ini adalah peragaan busana oleh Eco Fashion Week Australia yang menampilkan model lokal Australia dari Perth menggunakan busana pakaian yang terbuat warisan tradisional tenun Donggala Sulawesi Tengah Buya Subi dengan design yang kontemporer.

Setelah menempuh kurang lebih 8 jam perjalanan darat dengan mobil dan van yang mengangkut kolintang dari Melbourne, tim kawanua tiba di KBRI Canberra Minggu sore 19 April dengan selamat dan bertemu dengan Bapak Dubes Dr Siswo Pramono beserta Ibu Dr Marsia Gustiananda Pramono.

Pada pertemuan ini juga hadir Mrs Zuhal Kuvan-Mills, CEO Eco Fashion Week Australia dan Ibu Diah Agustiningsi, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah.

Setelah makan malam, tim kawanua Melbourne yang terdiri 10 dewasa dan 3 anak-anak dialokasi ke tempat akomodasi masing-masing di Wisma Dubes, Wisma Wakil Dubes dan Wisma Atase Pendidikan untuk beristirahat persiapan pertunjukkan keesokan harinya.

Tim KSD Australia kawanua Melbourne terdiri dari Jeffry Liando (kolintang, kabasaran), Nina Kusumo Liando (vocal, tambor), Anne Singko Tjoeka (vocal, tambor), Fransisca Pandi (kolintang, kabasaran), Roy Moniaga (kolintang, kabasaran), Jorie Lengkong (kolintang), Tine Rombot Lengkong (kolintang, kabasaran), Hanny Rantung (logistik) dan Bryan Eman (kabasaran).

Peran paling penting dalam kegiatan ini dipegang oleh Bapak Bonar Simeon Bintang dari Fungsi Sosial dan Budaya KBRI Canberra yang sudah mengatur segala sejak 2 bulan lalu mulai dari komunikasi awal dengan KSD Australia hingga pengaturan transportasi, akomodasi dan acara di hari-H hingga kepulangan kembali tim kawanua ke Melbourne.

Pagi tadi sebelum kepulangan tim kawanua ke Melbourne, perangkat kolintang sempat dibawa ke Wisma Dubes RI dimana Ibu Dubes Dr Marsia Gustiananda Pramono berkesempatan mencoba bermain kolintang untuk pertama kalinya bersama tim kawanua menyanyikan lagu “Waltzing Mathilda”, “Hari Kartini” dan “Bengawan Solo”.

Sulawesi: Untamed Beauty at the Equator

Terletak tepat di garis khatulistiwa, Sulawesi menghadirkan pesona alam yang liar, autentik, dan belum banyak tersentuh. Pulau ini bukan sekadar destinasi wisata, tetapi sebuah pengalaman menyeluruh tentang keindahan tropis yang masih murni.

Dari utara hingga selatan, Sulawesi menyuguhkan lanskap yang kontras namun harmonis. Di Taman Nasional Bunaken, dunia bawah lautnya dikenal sebagai salah satu yang terbaik di dunia, dengan terumbu karang warna-warni dan keanekaragaman hayati yang luar biasa. Sementara itu, di dataran tinggi Tana Toraja, budaya dan tradisi leluhur masih hidup kuat, terlihat dari arsitektur rumah tongkonan hingga ritual adat yang unik.

Tak hanya itu, keindahan alam liar juga terpancar dari Kepulauan Togean yang menawarkan pantai perawan dan laut sebening kristal. Di sisi lain, Wakatobi menjadi surga bagi penyelam dunia dengan ekosistem laut yang masih sangat terjaga.

Sulawesi adalah perpaduan antara petualangan dan ketenangan. Hutan tropisnya yang lebat, pegunungan dramatis, hingga garis pantai yang panjang menciptakan lanskap yang sulit ditandingi. Setiap sudutnya menghadirkan cerita, setiap langkahnya menawarkan kejutan.

Lebih dari sekadar keindahan, Sulawesi adalah simbol kekayaan alam Indonesia yang belum sepenuhnya terjamah—sebuah “untamed beauty” yang mengundang untuk dijelajahi, diha8rgai, dan dilestarikan. (P-Canberra/Jeffrey Liando/Marlita K/bwl)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan