
Warga merasa khawatir dengan fenomena tanah bergetar.(Ilustrasi AI)
Warga Madidir Ure Kota Bitung menyaksikan fenomena tanah bergetar yang terjadi sejak akhir Maret lalu. (Video FB/Herman Tege)
PRIORITAS, 17/4/2026 (Bitung): Fenomena getaran disertai bunyi misterius dari dalam tanah di Kelurahan Madidir Ure, Kota Bitung, Sulawesi Utara, terus berulang. Fenomena ini memicu kekhawatiran di tengah masyarakat. Kejadian yang telah berlangsung sejak akhir Maret 2026 ini hingga kini masih belum terungkap penyebab pastinya.
Awalnya, fenomena tersebut terjadi dengan jeda waktu yang tidak menentu. Namun dalam perkembangannya, frekuensi kejadian semakin meningkat, bahkan kini dapat muncul hanya dalam selang dua hari dengan durasi yang lebih lama. Warga melaporkan bahwa getaran bisa berlangsung hingga beberapa jam, disertai suara menyerupai ketukan benda keras dari dalam tanah.
“Kami makin khawatir karena sekarang kejadiannya semakin sering dan durasinya lebih lama,” ujar salah satu warga setempat.
Fenomena tanah begetar terjadi sejak 23 Maret 2026

Fenomena ini pertama kali dilaporkan sekitar 23 Maret 2026 dan langsung menggegerkan warga. Hingga kini, berbagai pihak, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bitung, telah turun langsung melakukan observasi di lokasi. Namun, belum ditemukan indikasi awal seperti retakan tanah atau tanda geologis lain yang dapat menjelaskan sumber getaran tersebut.
Penyebab tanah bergetar belum dapat dipastikan
Kepala Pelaksana BPBD Kota Bitung, Fivy Kadeke menyatakan, pihaknya telah melakukan koordinasi lintas instansi. Antara lain dengan instansi teknis terkait bidang geologi, guna melakukan kajian lebih mendalam. Meski demikian, hasil penelitian masih belum dapat dipastikan dalam waktu dekat.
Muncul dugaan warga, bahwa fenomena ini berkaitan dengan aktivitas geologi bawah permukaan, terutama setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah Sulawesi Utara pada awal April 2026. Getaran dan bunyi tersebut diduga sebagai bagian dari proses penyesuaian struktur batuan akibat tekanan tektonik pascagempa.
Sulawesi termasuk dalam sistem patahan aktif
Menurut para pakar geologi, wilayah Sulawesi sendiri dikenal berada di atas sistem patahan aktif yang kompleks, termasuk jaringan sesar yang berpotensi melepaskan energi secara tiba-tiba. Dalam beberapa kasus, aktivitas semacam ini dapat memicu fenomena lanjutan di bawah permukaan tanah, meskipun belum tentu berujung pada bencana besar.
Meski belum ada kesimpulan ilmiah yang pasti, meningkatnya intensitas fenomena ini membuat warga berharap adanya langkah konkret dari pemerintah, seperti pemasangan alat pemantau, pemetaan zona rawan, serta sosialisasi mitigasi bencana.
Sementara itu, sejumlah pihak legislatif di daerah turut mendorong percepatan penanganan dan penelitian agar masyarakat tidak terus berada dalam ketidakpastian.
Hingga kini, warga Madidir Ure masih hidup dalam bayang-bayang suara dan getaran misterius dari dalam bumi—sebuah fenomena yang belum terjawab, namun terus mengundang kekhawatiran.(P-Sem)

