Dua faktor penyebab harga tiket di Singapura melonjak naik, liburan jadi lebih mahal

Herling Tumbel
Selasa, 14 April 2026
3 menit membaca

PRIORITAS, 14/4/26 (Jakarta): Harga tiket pesawat dari Singapura ke semua destinasi pada April 2026 ini melonjak naik. Dua faktor yang menjadi penyebabnya adalah lonjakan harga avtur sebagai imbas perang di Timur Tengah, dan pemberlakuan levy atau pungutan tambahan oleh pemerintah Singapura terkait penggunaan bahan bakar ramah lingkungan sebagai bagian dari strategi menekan emisi sektor penerbangan.


Dengan adanya kenaikan harga tiket tersebut, liburan ke Singapura jadi lebih mahal. Sebagai contoh, tiket Singapura-Jakarta pada April 2026 mengalami kernaikan berkisar antara SGD1 hingga SGD41,60 (sekitar Rp10.000 – Rp450.000) tergantung jarak dan kelas.

Dilansir dari CNBC Indonesia Selasa (14/4/26), Otoritas Penerbangan Sipil Singapura (CAAS) mengatakan, aturan akan berlaku untuk seluruh penumpang yang terbang dari Singapura, baik perjalanan jarak dekat maupun rute lintas benua.

Kebijakan ini membuat Singapura menjadi negara pertama yang mengenakan tarif khusus untuk mendorong pemakaian bahan bakar aviasi berkelanjutan.


Dijelaskan, pemerintah Singapura menilai langkah ini penting agar industri penerbangan mulai bertransisi menuju energi yang lebih bersih sekaligus memenuhi target emisi jangka panjang.

Harga tiket Singapura-Jakarta

Dikutip dari berbagai sumber lainnya, mulai 1 April 2026, Otoritas Penerbangan Sipil Singapura (CAAS) mengenakan Air Passenger Hub Levy (biaya tambahan) untuk mendanai keberlanjutan penerbangan.

Contoh kenaikan untuk rute jarak pendek seperti Singapura-Jakarta berdasarkan data Traveloka, harga tiket Singapore-Jakarta untuk 22 April 2026 sekitar Rp1.624.200, sementara data Trip.com mencatat harga mulai dari Rp1.168.300 untuk penerbangan 23 April 2026.

Disarankan untuk memesan tiket jauh-jauh hari dan memantau harga karena penyesuaian biaya ini baru berlaku secara penuh pada 1 Oktober 2026, namun levy diterapkan bagi tiket yang dijual mulai 1 April 2026.

Melansir Independent, CNBC Indonesia melaporkan, penarikan retribusi tersebut berlaku untuk semua tiket atau layanan yang dijual mulai 1 April 2026, termasuk pengiriman kargo dan penerbangan bisnis.

Empat wilayah geografis

Disebutkan, besaran tarif dikatakan bakal bervariasi berdasarkan jarak tempuh penumpang udara dan kabin perjalanan hingga dikategorikan berdasarkan empat wilayah geografis.

Wilayah satu meliputi Asia Tenggara, wilayah dua Asia Timur Laut, Asia Selatan, Australia, dan Papua Nugini, wilayah tiga Afrika, Asia Tengah dan Barat, Eropa, Timur Tengah, Kepulauan Pasifik, dan Selandia Baru, serta wilayah empat meliputi Amerika.

Dicontohkan, penumpang kelas ekonomi akan membayar S$1 untuk penerbangan ke Bangkok, SGD2,80 untuk perjalanan ke Tokyo, SGD6,40 untuk penerbangan ke London, dan SGD10,40 ke New York.

Harga akan dicantumkan oleh maskapai sebagai item baris terpisah pada tiket pesawat yang dijual. Walau begitu, retribusi ini tidak akan berlaku bagi penumpang yang hanya transit melalui Singapura.

Komitmen Singapura

Dikabarkan, Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) telah menetapkan target emisi karbon nol bersih untuk penerbangan internasional pada 2050. Singapura berkomitmen untuk mencapai target tersebut.

“Pengenalan Retribusi SAF menandai langkah signifikan dalam upaya Singapura untuk membangun pusat udara yang lebih berkelanjutan dan kompetitif,” kata Direktur Jenderal CAAS, Han Kok Juan.

“Kita perlu memulai. Kita telah melakukannya secara terukur, dan kita memberi waktu bagi industri, bisnis, dan publik untuk beradaptasi,” lanjutnya. (P-*/ht)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan