Pasukan amfibi Amerika Serikat ketika melakukan simulasi pendaratan tank menggunakan hovercraft ke pulau musuh.(visionergeo)PRIORITAS, 19/3/26 (Washington): Amerika Serikat (AS) diduga segera melakukan serangan darat ke Iran, terutama untuk melumpuhkan sisa pangkalan peluru kendali (rudal) anti kapal Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang tersembunyi di lubang-lubang pesisir menghadap Selat Hormuz.
Menurut seorang pejabat AS dan sumber di Gedung Putih, seperti dikutip Beritaprioritas.com, hari Kamis (19/3/26), Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan untuk mengerahkan ribuan pasukan darat ke Iran.
“AS mempertimbangkan pengiriman pasukan darat ke Iran saat perang memasuki fase baru potensial. Opsi yang tersedia termasuk mengamankan Selat Hormuz dan Pulau Kharg”, demikian laporan Reuters seperti dirilis media Timur Tengah, i24NEWS.
Diskusi ini berlangsung saat perang dengan Iran memasuki hari ke-19, dengan para perencana militer menyiapkan berbagai opsi yang dapat memperluas operasi AS.
Ini termasuk mengamankan jalur aman bagi kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz, sebuah misi yang diperkirakan akan bergantung terutama pada kekuatan udara dan angkatan laut.
Beberapa sumber mengatakan upaya tersebut juga dapat melibatkan pengerahan pasukan darat AS ke garis pantai Iran.
Menurut laporan tersebut, rencana tambahan yang sedang dipertimbangkan termasuk mengirim pasukan ke Pulau Kharg, yang menyumbang sekitar 90 persen ekspor minyak Iran.
Tetap jadi pertimbangan
Seorang pejabat AS menggambarkan operasi semacam itu memang sangat berisiko, mengingat kemampuan Iran untuk menargetkan daerah tersebut dengan rudal dan drone.
Amerika Serikat pekan lalu telah melakukan serangan terhadap target militer di Pulau Kharg.
Presiden Trump juga telah mengancam akan mengambil tindakan lebih lanjut terhadap infrastruktur minyak Iran.
Para ahli militer yang dikutip Reuters mengatakan mengendalikan pulau itu dapat dianggap lebih efektif daripada menghancurkannya, mengingat peran sentralnya dalam perekonomian Iran.
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada media belum ada keputusan resmi untuk mengerahkan pasukan darat, meski opsi (pilihan) itu tetap menjadi pertimbangan.
“Belum ada keputusan untuk mengirim pasukan darat saat ini, tetapi Presiden Trump dengan bijak tetap mempertimbangkan semua opsi yang ada,” kata pejabat tersebut.
Pernyataan itu menambahkan presiden tetap fokus pada pencapaian tujuan Operasi Epic Fury, termasuk menghancurkan kemampuan rudal Iran dan memastikan negara itu tidak dapat mengembangkan senjata nuklir.
Kapal amfibi USS Tripoli
Sumber-sumber lain mengakui pengerahan pasukan darat AS ke Iran termasuk salahsatu opsi yang sedang ditinjau.
Salah satu proposal yang dibahas termasuk pengiriman pasukan darat khusus, untuk mengamankan persediaan Uranium milik Iran di situs bawah tanah.
Pertimbangan tersebut muncul ketika pasukan AS terus melanjutkan operasi skala besar terhadap aset militer Iran.
Menurut Komando Pusat AS, lebih dari 7.800 serangan telah dilakukan sejak 28 Februari 2026 lalu, menargetkan angkatan laut Iran, persediaan rudal dan drone, serta industri pertahanan.
Lebih dari 120 kapal Iran juga dilaporkan telah berhasil dihancurkan.
Sumber menyebutkan untuk mendukung operasi darat di Iran tersebut, Departemen Pertahanan Amerika Serikat sudah memerintahkan pengiriman kelompok serang kapal amfibi USS Tripoli.
Saat ini kapal tersebut telah mencapai Singapura dan akan menuju Laut Arab bagian utara.
Operasi pendaratan AS di Iran semakin mungkin terjadi, dengan Bandar Abbas sebagai target utama untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Kelompok serang ke-31 itu selain membawa ribuan pasukan marinir, juga pesawat jet tempur siluman F-35, MV-22 Osprey, helikopter serang Apache dan kendaraan lapis baja ringan.
Serangan pendukung di Assaluyeh dan Pulau Kharg di Iran kemungkinan akan mengalihkan perhatian pasukan Iran.
Aset operasi khusus kabarnya telah ditempatkan di Teluk. Menurut pertimbangan, karena serangan udara kurang efektif terhadap peluncur rudal militer Iran yang masih tersembunyi, aksi darat tampaknya akan lebih mungkin terjadi.
Iran telah lama membangun fasilitas infrastruktur militer bawah tanah di Teluk Persia terutama rudal anti kapal sepeti Noor, Ghadir serta rudal jenis lain yang sering dipakai menyerang kapal-kapal tanker dan kargo di Selat Hormuz.
Lokasi tersembunyi militer Iran itu terletak di pulau-pulau dan pantai di provinsi Hormozgan.
Pulau Qeshm, di pesisir pantai diidentifikasi sebagai benteng rudal bawah tanah utama Iran.
Militer IRGC Iran sering menggunakan jaringan terowongan luas di lokasi itu sebagai tempat menyimpan rudal dan bom laut untuk mengontrol atau menutup Selat Hormuz. (P-Jeffry W)