Semakin santer, Mojtaba Khamenei terluka. PM Netanyahu: Dia tak bisa muncul

Selvijn MJR
Jumat, 13 Maret 2026
2 menit membaca

PRIORITAS, 13/3/26 (Tel Aviv): Dalam sebuah pernyataan tajam, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melontarkan kondisi Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei. Netanyahu mengeklaim putra mendiang Ali Khamenei tersebut tidak dapat muncul di hadapan publik setelah Teheran merilis pidato pertamanya yang hanya berupa teks tertulis saja.

Dilaporkan media, dalam sebuah wawancara pada Kamis (12/3/26), Netanyahu menegaskan posisi agresif Israel terhadap kepemimpinan di Teheran. Saat ditanya mengenai rencana tanggapan terhadap Mojtaba Khamenei, ia memberikan jawaban dingin sekali.

“Saya tidak akan memberikan polis asuransi jiwa kepada pemimpin Iran mana pun. Dan saya tidak akan memberikan informasi pasti tentang apa yang kami rencanakan atau akan laksanakan,” demikian Netanyahu menegaskan.

Tidak dapat diungkapkan secara fisik kepada publik

Sebelumnya Israel mengeklaim telah membunuh Ali Khamenei dalam serangan udara pada 28 Februari lalu. Netanyahu menyebut penggantinya kini tidak dapat diungkapkan secara fisik kepada publik Iran.

Diketahui, Mojtaba Khamenei (56) terpilih pada 8 Maret 2026 sebagai pemimpin tertinggi ketiga Iran. Namun, sejak pelantikannya, sosoknya tidak pernah terlihat. Dalam upacara resmi di Teheran, para pejabat hanya memajang potret dirinya, sementara pesan perdananya pada Kamis 12 Maret 2026 hanya dibacakan oleh pengisi suara di televisi pemerintah setempat.

Karena itu, rumor mengenai kondisi kesehatannya terus berkembang. Laporan The New York Times, yang mengutip pejabat Iran, menyebut Mojtaba menderita cedera kaki akibat serangan udara pada hari pertama operasi AS-Israel. Ia dikabarkan tengah berlindung di lokasi yang dijaga ketat dengan akses komunikasi yang terbatas saja.

Kendati begitu, pihak Teheran melalui penasihat pemerintah Yousef Pezeshkian membantah kabar tersebut. Ia menyatakan pemimpin tertinggi saat ini dalam keadaan aman dan sehat-sehat saja.

Di samping memantau Iran, Netanyahu mengisyaratkan kemungkinan operasi darat di Lebanon Selatan untuk melumpuhkan Hizbullah. Ia mendesak pemerintah Lebanon segera melucuti senjata kelompok militan ini.

“Jika mereka tidak melakukan itu, kita tidak punya pilihan selain menyelesaikan masalah ini sendiri. Saya dapat meyakinkan Anda bahwa Hizbullah akan membayar harga yang sangat mahal,” ungkap Netanyahu tegas, dikutip Beritasatu.com.

Pada pihak lain, melalui pesan tertulisnya, Mojtaba Khamenei menegaskan, Iran akan terus memblokade Selat Hormuz. Langkah ini diambil sebagai tekanan ekonomi agar AS dan Israel membayar atas kerusakan yang mereka timbulkan sejak agresi dimulai pada 28 Februari 2026 lalu.

Dilaporkan, hingga saat ini, konflik regional tersebut telah menelan sekitar 2.000 korban jiwa dan memicu krisis ekonomi global akibat terganggunya jalur pasokan minyak di Teluk Arab tersebut. (P-*r/Bst/jr)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025