Kantor Badan Pengusahaan Batam (BP Batam). (dok. Humas BP Batam)PRIORITAS, 12/2/2026 (Batam): Gagasan Batam sebagai lokomotif ekonomi nasional bukanlah hal baru. Sejak dikembangkan 53 tahun lalu, Batam dirancang sebagai kawasan strategis yang bergerak lebih cepat dibanding kota-kota lain. Almarhum Prof. Ing. BJ Habibie, selaku Ketua Otorita Batam saat itu, menegaskan Batam sebagai simpul pertumbuhan industri, perdagangan, dan maritim yang mampu menarik gerbong ekonomi Indonesia.
Keunggulan geografis Batam—berada di jalur pelayaran internasional dan berdekatan dengan Singapura serta Malaysia—menjadi fondasi awal konsep kerja sama regional Sijori (Singapura–Johor–Riau). Pada awal 2000-an, Batam bahkan sempat mencatat pertumbuhan ekonomi 9 persen, melampaui rata-rata nasional.
Kini, visi serupa kembali digaungkan oleh Kepala BP Batam Amsakar Achmad melalui tagline “Batam menjadi penguat pertumbuhan ekonomi nasional”. Dalam acara ground breaking pembangunan pipa gas dari WNTS ke Pulau Pemping, Amsakar menyampaikan bahwa visi tersebut merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto.
Namun publik mempertanyakan, apakah visi ini telah diwujudkan dalam akselerasi nyata atau masih berada pada tataran retorika. Pertumbuhan ekonomi Batam pada 2025 berada di angka 7 persen, sedikit di atas nasional, namun masih jauh dari kecepatan yang diharapkan bagi sebuah kawasan berstatus FTZ sejak 1980-an.
Tantangan nyata terlihat pada sektor pelabuhan. Pelabuhan Tanjung Pelepas di Johor mencatat 14 juta TEUs pada 2025, jauh melampaui Batam yang baru mencapai sekitar 600 ribu TEUs. Ironisnya, Batam lebih dahulu memiliki rencana megaproyek pelabuhan seperti Asia Port di Kabil, namun hingga kini belum menjadi game changer regional.
Sementara itu, Singapura melesat dengan pembangunan Tuas Port berteknologi otomatisasi penuh dan Changi Airport yang segera menambah Terminal V pada 2030. Batam justru masih berkutat pada rencana Terminal II dan tarik-menarik pengelolaan Terminal I.
Di sisi lain, lanskap ekonomi nasional berubah signifikan. Jika sebelumnya Batam satu-satunya kawasan dengan status FTZ, kini berbagai KEK tumbuh di banyak provinsi, sehingga Batam tidak lagi memonopoli daya tarik insentif investasi.
Karena itu, pengulangan visi lokomotif ekonomi nasional perlu disertai peta jalan yang konkret. Termasuk strategi menjadikan Batam sebagai hub logistik internasional yang mampu bersaing dengan Johor dan Singapura. Tanpa target terukur, visi berisiko menjadi slogan yang tak memenangkan kompetisi kawasan.
Roh awal Batam sebagai lokomotif ekonomi menuntut lebih dari sekadar pertumbuhan di atas rata-rata nasional atau perbandingan dengan daerah lain di Kepri. Ukurannya adalah kemampuan menciptakan efek pengganda besar bagi ekonomi nasional melalui ekspor, industri bernilai tambah, dan peran strategis dalam logistik global.
Visi besar telah diwariskan. Kini saatnya pembuktian. Batam tak kekurangan narasi—yang dibutuhkan adalah akselerasi. (P-Jeff K)