Para tentara Kurdi bersiap di perbatasan Irak untuk masuk ke Iran membantu Amerika Serikat menggulingkan sisa rezim Khamenei.(ho abcnews)PRIORITAS, 9/3/26 (Sulaymaniyah): Ribuan tentara Kurdi diam-diam sudah menyusup jauh ke dalam Iran untuk membantu pasukan Amerika Serikat (AS) menggulingkan rezim Khamenei.
“Ribuan pejuang Kurdi sudah di dalam iran, siap meluncurkan serangan darat skala penuh untuk menggulingkan rezim khamenei”, ungkap pejabat senior Partai Demokratik Kurdistan Iran (PDKI), Mohammad Saleh Qaderi, seperti dikutip Beritaprioritas.com hari Senin (9/3/26).
Menurut laporan media Kurdistan News, tentara Kurdi malah sudah mulai menyerang pos atau markas pasukan Pengawal Revolusi Iran (IRGC).
Kelompok Kurdi “Ahwaz Falcons” diduga telah menyerang posisi pasukan Iran di Khuzestan.
Dalam gambar video, para tentara Kurdi tersebut menembaki markas pasukan Iran dan membakarnya.
Para militan dipersenjatai dengan senapan serbu AKM(S) / Tipe 56(-1) kaliber 7.62x39mm yang cukup umum, bom molotov, dan alat peledak improvisasi (IED).
Pernyataan pejabat senior Kurdi sangat mencengangkan, karena selama ini Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkesan tidak memberi kepastian tentang keterlibatan pasukan Kurdi dalam membantu AS menyerang Iran.
Pekan lalu, Presiden Trump, menyambut baik adanya berita tentara Kurdi membantu AS dalam serangan ke Iran.
Namun pada hari Minggu, 8 Maret 2026 kemarin, Trump mengatakan ia tidak setuju pasukan Kurdi masuk ke Iran.
“Saya tidak ingin Kurdi masuk. Saya tidak ingin melihat Kurdi terluka atau terbunuh. Kami tidak ingin membuat perang semakin rumit”, kata Trump di atas pesawat Air Force One.
Butuh perlindungan AS
Para pemimpin kelompok Kurdi menginginkan AS harus ikut membantu mereka di lapangan, terutama memberlakukan zona larangan terbang, untuk melindungi pejuang Kurdi.
“Kami telah meminta ini berkali-kali. Saya yang mengirim email dengan mengatakan kami membutuhkannya segera”, kata pimpinan Partai Kebebasan Kurdistan (PAK), Hana Yazdanpana.
Seorang jurnalis lokal yang juga merupakan orang Kurdi kepada BBC mengakui sulit untuk memperkirakan berapa banyak pasukan yang dapat dikerahkan Kurdi.
“Mungkin beberapa ribu, termasuk yang sudah berada di dalam Iran,” katanya.
Sebagian warga Kurdi Iran mengatakan sudah saatnya bertindak, dengan atau tanpa janji Amerika.
“Jika kami memiliki secercah harapan untuk melihat tanah air kami, itu sudah cukup bagi kami,” kata seorang wanita di kota Sulaymaniyah, dekat perbatasan Iran.
Para pejuang Kurdi ingin menjadi bagian dari perubahan di Iran, untuk memastikan mereka menjadi bagian dari masa depan.
“Kami menyebutnya [Iran] sebagai rezim Islam algojo. Kami sangat membenci mereka. Mereka telah membunuh begitu banyak orang”, kata warga Kurdi.
Suku Kurdi berjumlah sekitar 10% dari total penduduk Iran yang berjumlah 90 juta jiwa.
Para pemimpin mereka menyerukan kepada komunitas internasional untuk mendukung AS dan mereka.
“Kami adalah kelompok yang paling terorganisir secara politik di Iran. Dan kami tidak akan membiarkan kesempatan [untuk perubahan] ini disia-siakan”, kata sekretaris jenderal Partai Komala Kurdistan Iran, Abdullah Mohtadi.
Rencana beberapa dekade
Kelompok oposisi Kurdi Iran yang berada di pengasingan di Irak utara telah mengatakan mereka memiliki rencana untuk menyeberangi perbatasan memasuki Iran.Rencana tersebut telah diplot selama beberapa dekade.
“Kami telah mempersiapkan ini selama 47 tahun terakhir, sejak era Republik Islam,” kata pejabat PAK, Hana Yazdanpana, yang mengklaim memiliki angkatan bersenjata terbesar.
Yazdanpana mengatakan ada enam kelompok oposisi Kurdi- yang baru-baru ini membentuk koalisi – sedang berkoordinasi satu sama lain secara politik dan militer.
Kurdi terkenal dengan petarung Peshmerga yang berarti “mereka yang menghadapi kematian”.
Dia tidak mengharapkan para petarung untuk melaju minggu ini. Pertama, AS perlu membuka jalan.
“Kita tidak bisa bergerak jika udara di atas kita tidak dibersihkan. Dan kita perlu menghancurkan gudang senjata rezim. Jika tidak, itu akan menjadi tindakan bunuh diri”, paparnya.
Gedung Putih membantah laporan Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan untuk mempersenjatai Kurdi.
Banyak pasukan Kurdi telah dilatih pasukan AS di masa lalu untuk melawan kelompok Negara Islam (ISIS) di Irak.
Suku Kurdi, yang merupakan kelompok etnis terbesar keempat di Timur Tengah, tersebar di Iran, Irak, Suriah, dan Turki.
Kurdi minoritas terbesar
Kelompok-kelompok Kurdi telah lama melawan pemerintah Iran.
Bentrokan bersenjata antara militan Kurdi dan pasukan Iran telah terjadi sejak tahun-tahun setelah Revolusi Islam 1979.
Saat itu faksi-faksi Kurdi berupaya mendapatkan otonomi, namun Iran menindas mereka secara brutal.
Kini, banyak kelompok oposisi Kurdi beroperasi dari Kurdistan Irak yang bertetangga dengan Iran. Mereka memiliki kantor politik dan pasukan militer.
Suku Kurdi di Iran merupakan salah satu kelompok etnis minoritas terbesar di negara itu dan secara historis telah mempertahankan gerakan oposisi.
Partai-partai Kurdi mengembangkan sayap bersenjata dan jaringan politik sejak beberapa dekade lalu, memberi mereka tingkat struktur organisasi yang tidak dimiliki banyak gerakan oposisi Iran lainnya.
“Orang Kurdi di dalam Iran memiliki sejarah dan tradisi perjuangan serta perlawanan mereka sendiri dengan partai politik dan angkatan bersenjata”, kata seorang analis politik internasional yang fokus pada Iran dan Kurdistan, Jino Victoria Doabi, kepada Fox News Digital.
Dia menilai pasukan Kurdi kemungkinan besar tidak akan bergerak tanpa dukungan yang jelas dari Washington.
“Agar hal itu terjadi, mereka membutuhkan jaminan dari Amerika, baik secara politik maupun dari segi keamanan,” jelas Doabi. (P-Jeffry W)