
Kendaraan personel lapis baja (APC) terlihat di sebuah jalan dekat perbatasan Thailand–Kamboja, provinsi Sisaket, sehari setelah para pemimpin Kamboja dan Thailand menyepakati gencatan senjata dalam upaya mengakhiri konflik paling mematikan dalam lebih dari satu dekade serta menjelang negosiasi militer, Thailand, Selasa (29/7/25). (Reuters)PRIORITAS, 30/7/25 (Jakarta): Konflik perbatasan antara Thailand serta Kamboja kembali memanas sejak akhir Mei, memicu bentrokan bersenjata serta krisis kemanusiaan. Berikut lima fakta utama terkait sengketa yang berakar pada warisan kolonial tersebut.

Perbatasan di Pegunungan Dangrek belum pernah dimetakan secara tuntas sejak masa kolonial Prancis‑Siam. Peta hasil Traktat 1904 serta 1907 tidak mengikuti garis watershed, menyebabkan area candi Preah Vihear serta Ta Muen Thom menjadi sumber klaim tumpang tindih hingga kini.
Fakta-fakta
Mengapa konflik bisa terjadi?

Karena perbatasan colonial belum selesai dimetakan secara sah, banyak area seperti situs candi kuno memiliki klaim tumpang tindih. Friksi berulang akibat peta 1907 yang tidak diprotes saat masa kolonial, kemudian ICJ memperkuat klaim Kamboja, namun Thailand menolak demarkasi tambahan.
Ketegangan ini meningkat ketika nasionalisme serta konflik elite bersinggungan dengan isu perbatasan tak tuntas.
Setelah perundingan di Kuala Lumpur pada 27–28 Juli para pemimpin Thailand serta Kamboja menyepakati gencatan senjata seutuhnya. Meski ada klaim pelanggaran oleh Thailand, pihak Kamboja membantah serta mendukung pemantauan independen. Pertemuan militer batas umum dijadwalkan 4 Agustus guna membangun mekanisme stabilitas jangka panjang.
Para pengamat melihat konflik menunjukkan kelemahan ASEAN dalam deteksi dini serta penyelesaian sengketa antar negara anggota. Banyak pihak menuntut ASEAN segera menyusun mekanisme resolusi konflik proaktif serta keterlibatan aktif Cina selain AS. Tanpa diplomasi berkelanjutan serta penyelesaian demarkasi perbatasan, potensi eskalasi serupa tetap terbuka.
Kesimpulan
Konflik Thailand serta Kamboja mencerminkan kombinasi warisan perbatasan kolonial, sengketa wilayah historis, nasionalisme dalam politik domestik serta ketegangan elite. Lima fakta utama ini menggambarkan dinamika penyebab serta dampak konflik terbaru pada Mei–Juli 2025. Gencatan senjata memberi harapan sejenak, namun resolving perbatasan serta membangun kepercayaan antar pemimpin tetap esensial untuk mencegah kebangkitan konflik berikutnya. (P-*r/Zamir Ambia)

