Wouw! Setor Rp1,2 T, perusahaan judi olahraga AS penyumbang dana politik terbesar ketiga dalam Pemilu

Jeffrey Rawis
Rabu, 5 Agustus 2026
3 menit membaca

PRIORITAS, 5/8/26 (New York): Amerika Serikat (AS) memulai lagi masa Pemilu. Kendati baru merupakan Pemilu paruh waktu, namun pertarungan politik berlangsung gencar. Lalu, perusahaan judi olahraga Daring (‘online’) pun seperti DraftKings, FanDuel, Fanatics, dan bet365, ikut sibuk meningkatkan belanja politik mereka, meski para kandidat tidak menjamin akan memperjuangkan kepentingan industri tersebut setelah terpilih.


Ilustrasi situs judi ‘online’ (Judol).(Ist/Freepik.com/Freepik/Courtesy Beritasati.com)

Sesuai data pendanaan kampanye terbaru, total dana yang telah digelontorkan industri tersebut mencapai sedikitnya US$72 juta, atau Rp1.294.272.000.000 (satu triliun dua ratus sembilan puluh empat miliar dua ratus tujuh puluh dua juta rupiah).

Mendapat dukungan pemerintahan Presiden Donald Trump

Dilaporkan, lonjakan pengeluaran politik itu terjadi ketika perusahaan judi olahraga menghadapi persaingan baru dari platform prediction market seperti Kalshi dan Polymarket yang semakin mendapat perhatian serta dukungan dari pemerintahan Presiden Donald Trump.


Sesuai perkiraan lembaga pengawas korporasi Public Citizen, industri judi olahraga Daring kini menjadi penyumbang dana korporasi terbesar ketiga dalam Oemilu paruh waktu AS, setelah sektor kripto dan teknologi.

Disalurkan melalui super political action committee

Adapun dana tersebut disalurkan melalui super political action committee (PAC) bernama Win for America. Organisasi ini kemudian mendistribusikan dana ke dua PAC afiliasi, yakni American Future yang mendukung kandidat Partai Demokrat dan American Conservative Fund yang mendukung kandidat Partai Republik pada berbagai pemilihan tingkat negara bagian.

Dapat menerima sumbangan tanpa batas

Seperti diketahui, di AS, super PAC dapat menerima sumbangan tanpa batas dari perusahaan maupun individu untuk mendukung kandidat tertentu. Namun, organisasi tersebut dilarang berkoordinasi langsung dengan tim kampanye maupun memberikan sumbangan langsung kepada kandidat.

Sementara itu, Direktur Riset Public Citizen, Rick Claypool mengatakan, besarnya dana yang digelontorkan industri judi olahraga merupakan fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Win for America berkembang menjadi mesin pendanaan korporasi yang sangat besar,” ujar Claypool, dikutip dari Reuters.

Claypool membandingkan besarnya belanja politik industri judi olahraga dengan sektor kecerdasan buatan dan kripto yang masing-masing telah menggelontorkan lebih dari US$100 juta atau sekitar Rp1,79 triliun selama Pemilu paruh waktu berlangsung.

Tidak menjamin memperjuangkan kepentingan industri judi

Kendati demikian, dukungan terhadap kandidat tertentu tidak menjamin mereka akan memperjuangkan kepentingan industri tersebut setelah terpilih. Namun, perusahaan berharap investasi politik tersebut dapat memberikan keuntungan pada masa mendatang.

Sebagai contoh, terlihat di Georgia. Win for America menggelontorkan lebih dari US$12 juta melalui dua PAC afiliasinya untuk mendukung 34 kandidat legislatif menjelang pemilihan pendahuluan. Pendanaan tersebut dilakukan ketika parlemen negara bagian sedang membahas rancangan undang-undang yang akan melegalkan perjudian.

Dari laporan media lokal Atlanta Journal-Constitution, seluruh kandidat yang didukung industri judi olahraga berhasil memenangkan pemilihan, kecuali dua orang.

Di samping Georgia, Win for America juga aktif menggelontorkan dana di Pennsylvania. Negara bagian tersebut tengah membahas rencana kenaikan pajak terhadap industri judi olahraga daring guna menambah anggaran transportasi umum.

Berdasarkan catatan Komisi Pemilihan Federal menunjukkan industri judi olahraga telah menyumbangkan US$43 juta kepada Win for America pada kuartal I, kemudian menambah US$29 juta lagi pada kuartal II.

Angka tersebut belum mencakup seluruh pengeluaran politik karena tidak memasukkan dana yang disalurkan melalui organisasi nirlaba yang tidak wajib mengungkap identitas penyumbangnya.

Lalu, dari seluruh perusahaan, DraftKings menjadi penyumbang terbesar dengan sedikitnya US$34 juta. Posisi berikutnya ditempati FanDuel sebesar US$27 juta, sedangkan bet365 dan Fanatics masing-masing menyumbang US$5,5 juta selama siklus Pemilu dua tahun terakhir.

Berkembang pesat sejak 2018

Adapun industri judi olahraga di AS berkembang pesat sejak Mahkamah Agung AS pada 2018 membatalkan aturan federal yang melarang sebagian besar negara bagian melegalkan taruhan olahraga.

Mulai saat itu, demikian Beritasatu.com melansir, 39 negara bagian dan Distrik Columbia telah melegalkan berbagai bentuk taruhan olahraga, termasuk 33 negara bagian yang mengizinkan taruhan olahraga secara Daring tersebut. (P-*/jr)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan