Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy , telah menyetujui untuk membantu AS dan negara-negara di kawasan Teluk dalam memerangi serangan drone Iran.(zelenzkyy official)PRIORITAS, 11/3/26 (Kyiv): Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, akhirnya menyetujui permintaan Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara di kawasan Teluk (Timur Tengah), untuk membantu memerangi serangan masif drone (pesawat nirawak) Iran.
“Tim kami, termasuk personel militer dan Rustem Umerov (penasehat militer) sekarang sedang dalam perjalanan ke wilayah Teluk, di mana mereka dapat membantu melindungi nyawa dan menstabilkan situasi”, kata Presiden Zelenskyy di Kyiv, seperti dikutip Beritaprioritas.com hari Rabu (11/3/26).
Sejak pecah perang 28 Februari 2026, semua negara di Timur Tengah terutama yang berada di kawasan Teluk, cukup kewalahan menghadapi serangan hampir 1000 drone Iran jenis Shahed, yang murah sekitar $20.000 per unit.
Sedangkan pasukan AS dan sejumlah negara sekutunya di Timur Tengah harus menggunakan interceptor (rudal penangkal) yang cukup mahal seperti Patriot, THAAD, dan rudal dari pesawat jet tempur sidewinder, yang harganya jutaan dolar perunit.
Ukraina diminta AS dan negara Teluk, karena dinilai sangat berpengalaman menghadapi berbagai serangan drone Geran berjenis sama dengan Shahed Iran, selama empat tahun perang dengan Rusia.
Yang paling utama, drone interceptor Ukraina 10 kali lebih murah dibanding harga drone Iran atau Rusia.
Bahkan bisa 3.000 hingga 9.000 kali jauh lebih murah dari harga sebuah rudal Patriot yang dipakai AS dan sekutunya.
Zelenskyy melihat tantangan yang ada sekarang akibat serangan dari Iran, seluruh perang di Timur Tengah bisa berlarut-larut.
“Tidak ada seorang pun di dunia yang bisa mengatakan berapa lama semua ini akan berlangsung, tetapi penting bahwa perlindungan nyawa mulai bekerja secara efektif sesegera mungkin. Stabilitas juga penting bagi kami”, lanjut Presiden Ukraina, seperti dikemukakan dalam situsnya, Zelenskyy Official.
Sudah sejak tahun lalu
Menurut Zelenskyy, sebenarnya sejak tahun lalu ia sudah mengusulkan kesepakatan anti drone ke Amerika Serikat, namun kurang mendapat tanggapan.
Zelenskyy menilai pemakaian drone dalam perang moderen saat ini, sudah sangat lumrah.
Karena itu, untuk bisa bertahan atau bahkan menyerang balik, negara-negara di dunia sudah sepatutnya memiliki sistim pertahanan dan penyerangan drone.
“Ini adalah cara yang tepat ke depan. Semua orang sekarang melihat bahwa tidak ada alternatif untuk pendekatan ini. Ukraina memiliki pengalaman terbesar di dunia dalam melawan drone serangan, dan tanpa pengalaman kami, akan sangat sulit bagi wilayah Teluk, seluruh Timur Tengah, dan mitra di Eropa dan Amerika untuk membangun perlindungan yang kuat. Kami siap membantu mereka yang membantu kami, membantu Ukraina”, papar Zelenskyy.
Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di Timur Tengah kini beralih ke Ukraina, untuk meminta panduan tentang cara melawan drone Shahed milik Iran.
Media Perancis, France24, melaporkan Zelenskyy mengakui telah berbicara dengan para pemimpin dari Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Yordania dan Kuwait tentang potensi kerja sama pertahanan drone.
Iran telah menembakkan ratusan drone ke target AS yang berada di negara-negara Timur Tengah setelah AS dan Israel memulai kampanye serangan udara besar-besaran terhadap Iran.
“Saya telah memberikan instruksi untuk menyediakan sarana yang diperlukan dan memastikan kehadiran spesialis Ukraina yang dapat menjamin keamanan yang dibutuhkan”, ujar Zelenskyy.
Dalam wawancara telepon dengan Reuters hari Kamis lalu, Presiden AS Donald Trump mengatakan ia akan menerima bantuan dari negara mana pun, ketika ditanya tentang tawaran dukungan Zelensky untuk membantu mempertahankan diri dari serangan drone Iran.
Biaya drone murah
Biaya drone Ukraina yang digunakan untuk mencegat (intercept) drone Rusia (terutama jenis Shahed/Geran kamikaze) sangat bervariasi tergantung model dan produsennya, tapi secara umum jauh lebih murah dibandingkan menggunakan rudal pertahanan udara konvensional seperti Patriot.
Berdasarkan laporan terbaru dari berbagai sumber militer dan media , kebanyakan drone interceptor Ukraina seperti Sting dari Wild Hornets, Bullet, P1-SUN dari SkyFall, atau Octopus memiliki biaya produksi hanya sekitar $1.000 hingga $5.000 per unit (atau sekitar Rp.16 juta – Rp.80 juta per unit).
Dengan biaya yang murah itu, telah sangat membantu Ukraina memproduksi secara massal mencapai lebih dari 1.500 unit drone interceptor per hari (data Januari 2026) untuk melawan serangan drone Rusia yang masif.
Sedangkan Drone Rusia Shahed/Geran yang dicegat biasanya bernilai lebih mahal sekitar $20.000 – $50.000 per unit (sekitar Rp.337 juta – Rp.843 juta).
Biaya produksi rudal Patriot sangat jauh lebih mahal bisa mencapai $3 juta – $13 juta (sekitar Rp.50 miliar – Rp.219 miliar per unit) , sehingga sangat tidak efisien melawan drone murah.
Strategi militer Ukraina jelas mengubah ekonomi pertahanan udaranya, karena interceptor drone murah bisa menjatuhkan target dengan rasio biaya yang jauh lebih menguntungkan.
Tingkat keberhasilan pencegat drone dari Ukraina kini mencapai 70-80 persen di beberapa wilayah berkat adanya startegi ini.(P-Jeffry W)