Presiden Donald Trump.(Dok/ntn24.com)PRIORITAS, 15/1/26 (Jakarta): Semakin lemahnya aktivitas perdagangan dunia pada 2026, diperkirakan Bank Dunia efek lanjutan dari kebijakan tarif resiprokal tinggi yang diterapkan pemerintahan Amerika Serikat (AS) kepada negara-negara mitra dagang utamanya.
Lewat Global Economic Prospect (GEP) edisi Januari 2026, sebagaimana dikutip dari CNBC Indonesia, Bank Dunia meramal, pertumbuhan perdagangan global dalam bentuk barang dan jasa akan melambat pada tahun ini, dari dari 3,4 persen pada 2025 menjadi 2,2 persen pada 2026, seiring meredanya praktik front-loading yang sebelumnya menopang perdagangan pada 2025.
Adapun istilah front loading ini untuk menggambarkan permintaan tinggi importir AS terhadap barang dan jasa setelah Trump memberlakukan tarif resiprokal tinggi ke negara-negara mitra dagang utamanya, dan menunda pelaksanaan penerapan tarif untuk ruang negosiasi selama 90 hari dan diperpanjang hingga awal tahun ini.
“Pertumbuhan perdagangan global pada 2025 tercatat 1,6 poin persentase lebih tinggi dibandingkan dengan perkiraan pada Juni, yang mencerminkan penimbunan persediaan yang lebih kuat dari perkiraan sebelumnya,” tulis Bank Dunia dalam laporan terbarunya itu, Kamis (15/1/26).
“Sebaliknya, berakhirnya dorongan sementara tersebut, bersama dengan dampak tarif yang tertunda, telah menyebabkan revisi penurunan sebesar 0,2 poin persentase terhadap proyeksi pertumbuhan perdagangan pada 2026,” tukas Bank Dunia.
Pertumbuhan perdagangan pada tahun 2027 diperkirakan Bank Dunia akan menguat menjadi 2,7 persen, sejalan dengan pertumbuhan output global akibat berkurangnya dampak kenaikan tarif dan meredanya ketidakpastian kebijakan.
Sejumlah negara dengan tujuan ekspor yang lebih terdiversifikasi diperkirakan akan mengalami pertumbuhan perdagangan yang lebih kuat. Tarif yang berlaku hingga akhir 2025 diasumsikan tetap berlaku sepanjang periode proyeksi.
Namun demikian Bank Dunia memperkirakan, prospek perdagangan tetap dibayangi oleh risiko penurunan yang signifikan.
Lebih khusus karena meski ada kemajuan dalam perundingan perdagangan dan terbatasnya aksi balasan telah membantu meredakan ketegangan sejak pertengahan 2025, ketidakpastian masih berlanjut terkait pelaksanaan kesepakatan-kesepakatan terbaru serta arah hubungan perdagangan di antara negara-negara ekonomi utama.
“Terdapat risiko besar bahwa ketegangan perdagangan dapat kembali meningkat, khususnya karena tarif yang lebih tinggi berpotensi mengalihkan ekspor ke negara ketiga, sehingga produsen domestik di negara-negara tersebut akan mencari perlindungan dari meningkatnya persaingan impor,” ujar Bank Dunia. (P-*r/am)