PRIORITAS, 6/11/25 (Beijing): Tingkat antusias masyarakat mengikuti tren warna rambut makin tinggi, terutama di kalangan penggemar idol K-pop. Namun, siapa sangka? Gaya yang terlihat keren ini justru bisa berujung gangguan serius pada ginjal.
Kasus ini dialami Hua, perempuan 20 tahun asal China yang gemar mengganti warna rambut setiap bulan demi meniru idol favoritnya.
Dilansir dari The South China Morning Post, Hua mengalami bintik merah di kaki, nyeri sendi, dan sakit perut. Setelah diperiksa, ia didiagnosis mengidap radang ginjal.
Dokter Tao Chenyang dari Rumah Sakit Zhengzhou menjelaskan Hua kerap datang ke salon hampir setiap bulan untuk mengganti warna rambut.
“Ia ingin selalu meniru perubahan gaya idol yang dikaguminya,” ujar Tao Chenyang.
Kerap tampil baru
Tren idol K-pop yang kerap tampil dengan warna rambut baru mendorong penggemar ikut menirunya. Padahal, paparan bahan kimia pewarna rambut dalam jangka panjang bisa menimbulkan risiko serius bagi tubuh.
Menurut American Cancer Society, pewarna rambut mengandung bahan kimia berbeda tergantung jenisnya—mulai dari sementara, semi permanen, hingga permanen.
Pewarna permanen atau oksidatif mengandung amina aromatik dan fenol yang bereaksi menghasilkan warna, tetapi juga bisa berdampak negatif bagi tubuh.
Pewarna berwarna gelap bahkan punya kadar bahan kimia lebih tinggi, sehingga risikonya juga lebih besar. Studi laboratorium menunjukkan beberapa bahan itu dapat memicu kanker pada hewan, meski bukti pada manusia belum konsisten.
Sejumlah studi menemukan peningkatan kecil risiko kanker kandung kemih di kalangan penata rambut, sementara riset lain menunjukkan hasil tak seragam untuk kanker seperti leukemia, limfoma non-Hodgkin, dan kanker payudara.
Hati-hati cara menggunakannya
Dilansir dari NDTV, para ahli menyarankan agar berhati-hati menggunakan pewarna rambut. Gunakan sarung tangan, baca petunjuk kemasan dengan saksama, dan hindari pemakaian di kulit kepala yang iritasi.
Selain potensi kanker, penggunaan pewarna rambut berlebihan juga bisa menimbulkan reaksi alergi, masalah ginjal, gangguan pernapasan, dan kerontokan rambut. Ibu hamil pun disarankan membatasi penggunaannya, terutama di trimester pertama.
Mengutip Bright Kidney Centre, masyarakat bisa menurunkan risiko gangguan ginjal dengan memilih produk alami seperti henna yang bebas amonia dan peroksida.
Langkah lain adalah melakukan uji tempel sebelum pemakaian untuk melihat reaksi alergi, serta membatasi frekuensi pewarnaan rambut.
Selain itu, penting menjaga pola makan sehat dan memperbanyak minum air putih agar ginjal tetap berfungsi optimal dalam membuang racun termasuk zat kimia dari pewarna rambut.
Kasus Hua jadi pengingat bahwa gaya mengikuti tren sebaiknya dibarengi kesadaran menjaga kesehatan. Menggunakan pewarna rambut boleh saja, asal dilakukan dengan bijak dan sesuai anjuran. (P-Khalied M)








