Stok pangan aman, harga mulai turun sambut Idul Fitri

Khalied Malvino
Sabtu, 28 Februari 2026
EKBIS Ekonomi 0 292
3 menit membaca

PRIORITAS, 28/2/26 (Lombok): Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan harga bahan pokok di pasaran mulai turun. Stok pangan juga dinilai aman dan cukup menjelang Idul Fitri 2026.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyampaikan kondisi ini secara langsung dari Mataram, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (28/2/26).

“Saya rasa semua pangan pokok stabil. Stok aman. Jadi supaya mudah-mudahan memasuki Lebaran dengan pemantauan (di pasaran), bisa turun harganya. Walaupun memang bervariasi, tapi kecenderungannya kita lihat sudah turun dan mulai stabil,” kata Ketut.

Pemerintah memantau ketat volatilitas harga pangan strategis. Pemantauan difokuskan sepanjang minggu pertama Ramadhan 1447 Hijriah. Fluktuasi harga tak boleh melampaui batas wajar. Daya beli masyarakat menjadi prioritas utama pemerintah saat ini.

“Stok pun aman. Pemerintah optimistis harga pangan sampai Idul Fitri mendatang masih dapat terus terjaga,” ujarnya.

Peninjauan langsung dilakukan di Pasar Senen, Jakarta. Hasilnya, sebagian besar pangan pokok berada dalam rentang harga eceran tertinggi (HET).

Daging sapi terpantau stabil di kisaran Rp130.000–Rp140.000 per kg. Daging ayam dijual Rp40.000 per kg. Cabai rawit merah tercatat Rp100.000 per kg. Angka ini turun dibanding hari sebelumnya.

“Cabai rawit merah ini sudah turun dari Rp110.000 kemarin. Kemudian telur bervariasi, ada yang Rp29.000, ada yang Rp30.500,” beber Ketut.

Bapanas menggandeng Perum Bulog menjalankan program intervensi pangan. Langkah ini dirancang menekan lonjakan harga di pasar. Bantuan pangan beras menyasar 33,2 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Distribusi dijadwalkan mulai berjalan pada Maret 2026.

“Bantuan pangan nanti didorong di tahun ini, ada 33,2 juta KPM, akan diberikan di bulan Maret. Ini kita berikan. Ini kita siapkan semua, sehingga semua program kita akan didorong, untuk kemudian bantuan pangan tersebut dijalankan,” jelas Ketut.

Total anggaran bantuan pangan beras dan minyak goreng mencapai Rp11,92 triliun. Angka ini mencerminkan komitmen besar pemerintah menjaga ketahanan pangan nasional.

Lima provinsi menerima jumlah terbesar bantuan pangan. Jawa Barat memimpin dengan 6.093.530 penerima, disusul Jawa Timur 5.638.478, dan Jawa Tengah 5.071.126.

Indonesia timur pun mendapat perhatian serius. Maluku bertambah 142.978 penerima menjadi total 266.500 KPM. Papua Pegunungan mencatat penambahan tertinggi di kawasan timur. Jumlah penerima naik 112.805 menjadi total 265.356 KPM.

Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras dipastikan berlanjut sepanjang 2026. Anggaran disiapkan sebesar Rp4,97 triliun untuk 828 ribu ton beras.

Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman angkat bicara soal anomali harga. Ia menegaskan tidak ada toleransi bagi pihak manapun memicu gejolak harga selama Ramadhan.

“Seluruh sektor pangan bahan pangan pokok di bulan suci Ramadhan harus ikut regulasi harga yang ada. Jangan mengganggu rakyat,” tegas Amran.

Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 23 provinsi masih mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) hingga minggu ketiga Februari 2026.

Tujuh provinsi mencatat kenaikan IPH melampaui 2 persen. NTB memimpin kenaikan tertinggi dengan IPH naik 5,47 persen. Kepulauan Bangka Belitung menyusul dengan kenaikan 4,57 persen. DI Yogyakarta naik 3,61 persen dan Bali 3,23 persen.

Kenaikan di tujuh provinsi ini menjadi sinyal. Pengawasan harga pangan perlu tetap diperketat hingga Lebaran tiba. (P-Khalied M)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025