
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (‘Courtesy’ Beritasatu.com/Joanito De Saojoao)PRIORITAS, 11/5/26 (Jakarta): Sikap tenang diperlihatkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi posisi utang pemerintah Indonesia sebesar Rp9.920,42 triliun hingga akhir Maret 2026. Sebab, meski meningkat, pemerintah menegaskan kondisi tersebut masih berada dalam batas aman, jauh di bawah standar rasio utang. Singkatnya, posisi RI masih lebih aman ketimbang Singapura, dan beberapa negara tetangga, bahkan AS.

Selanjutnya Purbaya menjelaskan, rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tercatat sebesar 40,75 persen, masih jauh di bawah batas aman 60 lersen sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Keuangan Negara (UUKN).
“Kalau kita melihat acuan yang paling ketat di Eropa, rasio utang ke PDB berapa? 60 persen. Kita masih jauh. Jadi masih aman, masih sekitar 40 persen lebih sedikit,” papar Purbaya dalam media briefing di Kementerian Keuangan, Jakarta, hari Senin (11/5/26) ini.
Lebih baik dari Singapura, Malaysia bahkan AS

Kemudian, Purbaya juga membandingkan posisi utang Indonesia dengan sejumlah negara lain dan menilai pengelolaan utang nasional masih tergolong hati-hati sekali (prudent).
“Singapura 180 persen, Malaysia 60 persen lebih, Thailand juga tinggi semua. Kita termasuk paling hati-hati dibanding negara-negara sekeliling kita, termasuk dibanding AS dan Jepang,” ujarnya lagi.
Jangan cuma lihat dari sisi negatif
Karenanya, Purbaya meminta publik tidak hanya melihat utang negara dari sisi negatif saja.
Sebab, menurutnya, pengelolaan utang Indonesia masih berada dalam koridor yang sehat.
“Jadi kalau lihat dari itu, harusnya Anda puji-puji kita. Cuma enggak pernah kan? Kenapa dilihat dari sisi negatif terus?” tambahnya, dikutip Beritasatu.com.
Dari data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, total utang pemerintah mencapai Rp9.920,42 triliun per 31 Maret 2026 lalu.
Adapun komposisi utang tersebut didominasi oleh penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp8.652,89 triliun atau sekitar 87,22 persen, sementara sisanya berasal dari pinjaman yang tercatat Rp1.267,52 triliun hingga periode tersebut. (P-*r/Bst/se)

