Berikut sejumlah fakta terkait peristiwa hilang kontak hingga ditemukannya pesawat ATR 42-500.
1. Lokasi terakhir pesawat
Berdasarkan data AirNav Indonesia, posisi akhir pesawat tercatat di koordinat 4°57′08″ lintang selatan dan 119°42′54″ bujur timur. Titik tersebut berada di kawasan karst Leang-Leang, wilayah perbukitan terjal yang terletak di perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkajene Kepulauan (Pangkep). Daerah ini memiliki kontur elevasi yang sulit serta kondisi cuaca yang kerap berubah, sehingga berpotensi mengganggu sinyal radar dan sistem navigasi penerbangan.
2. Manifest pesawat
Berdasarkan manifes penerbangan, pesawat mengangkut 11 orang yang terdiri dari delapan kru dan tiga penumpang. Pesawat rute Yogyakarta–Makassar itu diketahui disewa oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
3. Lokasi pesawat ditemukan
Setelah upaya pencarian intensif, pesawat ATR 42-500 akhirnya ditemukan di kawasan Puncak Bukit Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, pada Minggu (18/1/26) pagi.
Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas, Edy Prakoso, menyatakan tim SAR darat menemukan badan pesawat setelah menerima informasi awal terkait temuan serpihan oleh patroli udara. Indikasi keberadaan pesawat terdeteksi sekitar pukul 07.17 Wita, sebelum badan utama pesawat ditemukan sekitar pukul 08.09 Wita untuk menjalani proses identifikasi lanjutan.
4. Satu korban ditemukan
Pada Minggu (18/1/26) siang, tim SAR gabungan menemukan satu korban beserta sejumlah serpihan pesawat ATR 42-500 di lokasi pencarian. Korban berjenis kelamin laki-laki itu ditemukan pada koordinat 04°54′44″ LS dan 119°44′48″ BT, berada di jurang dengan kedalaman sekitar 200 meter di dekat puing-puing pesawat.
5. Pesawat menghantam perbukitan
Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menyatakan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, wilayah Pangkep–Maros, Sulawesi Selatan, masih dalam kondisi dapat dikendalikan oleh pilot sebelum kecelakaan terjadi.
“Pesawat itu controllable, masih bisa dikendalikan oleh penerbangnya. Namun, karena suatu hal, pesawatnya menabrak bukit. Tidak ada masalah dari proses pengendalian pesawatnya,” ucap Soerjanto, dikutip dari Beritasatu.com.
Hingga berita ini disusun, tim SAR gabungan masih melanjutkan pencarian korban dengan melibatkan 34 personel berpengalaman. Kondisi medan yang terjal di tebing ekstrem Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), serta faktor cuaca membuat proses evakuasi hanya dapat dilakukan melalui jalur darat.
Memasuki hari ketiga pencarian, tim SAR gabungan memfokuskan upaya pada evakuasi jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport di kawasan Bulu Saraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Kondisi medan yang ekstrem dengan kemiringan hampir vertikal membuat personel harus menerapkan teknik evakuasi darat khusus.

