
Pesawat Kepresidenan Amerika Serikat, Air force One, sumbangan Qatar yang sudah menjalani beberapa modifikasi dan memiliki cat livery garis merah dan emas ditampilkan di sebuah hanggar di AS.(the white house)PRIORITAS, 8/8/26 (Washington): Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) mencabut hak akses informasi rahasia mantan Menteri Angkatan Udara Frank Kendall, karena telah membocorkan kemampuan dan kekurangan pesawat Kepresidenan, Air Force One.

Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, seperti dikutip Beritaprioritas.com hari Sabtu (8/8) dari situs X, mengatakan langkah itu berlaku segera dan juga melarang Kendall untuk memegang posisi apapun tentang rahasia negara AS.
“Terhitung segera, Departemen Perang telah MENCABUT hak akses mantan Menteri Angkatan Udara Frank Kendall terhadap informasi rahasia serta wewenangnya untuk memegang jabatan sensitif apa pun”, tulis Parnell.
Menurut dia, tindakan ini diambil menyusul pengungkapan informasi rahasia secara tidak sah dari Frank Kendall kepada sebuah media massa mengenai kemampuan pesawat Air Force One.

Ia menekankan, menjaga keamanan informasi rahasia negara AS merupakan kewajiban mutlak yang tidak dapat ditawar.
“Mereka yang mengkhianati kepercayaan tersebut akan kehilangan hak istimewa akses serta peran apa pun yang mensyaratkan akses tersebut”, katanya.
Fox News melaporkan, Parnell tidak menyebutkan nama media tersebut atau menjelaskan informasi apa yang diduga diungkapkan Kendall.
Langkah ini diambil beberapa hari setelah The Wall Street Journal menerbitkan laporan yang membandingkan kemampuan Boeing 747-8 sumbangan Qatar, yang sekarang digunakan sebagai pesawat kepresidenan, dengan jet Air Force One yang lebih tua.
Kendall termasuk di antara mantan pejabat yang dikutip dalam laporan tersebut.
Media tersebut melaporkan pesawat Air Force One yang lebih baru itu, memiliki beberapa kekurangan dibanding Air Force One jet VC-25A yang lebih tua.
Kekurangan itu antara lain, tidak memiliki kemampuan aerial refueling (pengisian bahan bakar di udara) seperti yang dimiliki Air Force 1 standar untuk misi kontingensi dan penguatan terhadap ledakan nuklir.
Laporan tersebut juga merinci perbedaan yang melibatkan sistem pertahanan, tangga udara, penanganan bagasi, dan penyimpanan makanan.
Kendall juga membahas pesawat tersebut secara terbuka dalam laporan-laporan terbaru lainnya.
Awal Juli lalu ia mengatakan kepada The Wall Street Journal, memodifikasi sepenuhnya pesawat 747 dengan kemampuan pertahanan yang dibutuhkan untuk melindungi presiden akan memakan waktu tiga hingga empat tahun.
Jabatan penting
Kendall sebelumnya memiliki jabatan penting di AS. Ia pernah menjabat sebagai sekretaris Angkatan Udara di bawah mantan Presiden Joe Biden dari tahun 2021 hingga Januari 2025.
Sebelumnya, ia menjabat sebagai wakil menteri pertahanan Pentagon untuk akuisisi, teknologi, dan logistik selama pemerintahan Obama.
Kendall juga memiliki hubungan yang sudah lama dengan program modernisasi Air Force One.
Pada tahun 2015, saat menjabat sebagai kepala pengadaan Pentagon, Kendall berkoordinasi dengan Menteri Angkatan Udara saat itu, Deborah Lee James, mengenai keputusan untuk menggunakan platform Boeing 747-8 untuk generasi pesawat kepresidenan berikutnya.
Perwakilan Kendall tidak segera menanggapi permintaan komentar dari Fox News Digital.
Hadiah kerajaan Qatar
Pesawat Air Force One terbaru yang dipakai Presiden Donald Trump adalah Boeing 747-8 sering disebut 747-8i atau flying palace yang sebelumnya milik Qatar Amiri Flight (keluarga kerajaan Qatar), dibangun sekitar tahun 2012.
Qatar memberikannya sebagai hadiah kepada Departemen Pertahanan AS pada 2025, untuk digunakan sementara sebagai Air Force One dan disebut bridge aircraft atau VC-25 bridge, hingga Boeing menyelesaikan dua pesawat Kepresidenan AS, VC-25B baru, yang tertunda dan diperkirakan selesai tahun 2028 nanti.
Presiden Trump dan pemerintah AS menerima serta memodifikasinya. Trump sudah menggunakannya ketika
pertemuan NATO di Turki Juli 2026.
Beberapa sumber menyebutkan nilai pasar pesawat bekas itu lebih rendah sekitar US$150–250 juta (Rp.2,6 triliun-Rp.4,4 triliun)), sementara harga baru 747-8 sekitar US$400 juta (7,12 triliun).
Setelah masa jabatan Trump, pesawat tersebut rencana resmi adalah mentransfernya ke Trump Presidential Library.
Pesawat ini memang mewah karena memiliki interior palace in the sky (istana udara), tetapi jauh dari standar militer Air Force One yang sesungguhnya (VC-25A/B).
Menurut simpleflying.com, kekurangan utamanya terletak pada fitur keamanan dan pertahanan.
Terutama tidak dilengkapi secara penuh sistem antimissile/countermeasures tingkat tinggi, perlindungan terhadap electromagnetic pulse (EMP) dari ledakan nuklir, serta sistem pertahanan lain yang ada di pesawat Air Force 1 asli.
Retrofit terburu-buru kurang dari setahun di beberapa laporan, membuat beberapa fitur kritis tidak lengkap atau tidak terpasang.
Ada kekhawatiran risiko pengawasan dari pihak asing seperti bugs atau perangkat pendengar mata-mata, karena pesawat pernah dimiliki negara lain, sehingga harus diperiksa menyeluruh.
Biaya modifikasi besar
Media New York Times bahkan menyebut pesawat Kepresidenan AS dari Qatar itu, butuh sistem komunikasi terenkripsi tingkat militer, kemampuan command-and-control global yang sangat aman serta anti-jamming dan anti-cyber.
Beberapa fitur keselamatan atau struktural lain misalnya exit darurat tertentu atau backup power juga dilaporkan kurang.
Meski pesawatnya gratis, tetapi biaya modifikasi diperkirakan mencapai US$400 juta (Rp.7,12 triliun) sama seperti harga baru pesawat sejenis.
Laporan independen dan transfer anggaran malah menyebut angka biaya bisa mencapai hingga US$900 juta–US$1 miliar (Rp.16 triliun – Rp.17,8 triliun).
Pesawat sudah berusia sekitar 13–14 tahun saat diterima, sehingga juga membutuhkan overhaul tertentu dan biaya operasional pesawat sekelas ini sangat tinggi. (P-*/jw)

